Senin, 02 April 2012

cinta memang gila

Mas Baldi tiba di stasiun nanti jam 23.20 WIB. Deri kesiangan sengaja tidur hingga magrib. Sekarang sudah pukul 21.47 WIB dan rumah sudah mulai sepi. Deri diam-diam menyelinap ke samping rumah untuk mengambil motor MegaPronya. Kakinya berjinjit supaya tidak menimbulkan suara berisik yang bisa membangunkan Ibu, atau kakak perempuannya. Deri sengaja tidak berpamitan supaya tidak menimbulkan banyak pertanyaan. Walaupun sudah besar, fisik Deri memang tinggi besar, namun keluarganya tetap mengkhawatirkan segala sesuatu tentang dia.

Setelah menuntun motor dalam keadaan mati ke dekat jalan besar, baru dia menstaternya. Untung saja tidak bertemu tetangga-tetangga yang bisa melaporkan ke keluarganya. Ibunya dengan mudah bisa memperoleh info dari mana saja. Deri juga terkadang heran darimana Ibu bisa tahu kalau dia membolos di kampus, merokok di rumah temannya yang kos, ikut rombongan nonton bola ke kabupaten tetangga, bahkan ibunya juga bisa tahu kalau dia membeli tahu isi di depan minimarket. Ibunya seperti detektif saja.

Deri sengaja mengenakan helm penuh semenjak keluar pagar. Sekarang dia memacu menjemput Mas Baldi yang sudah menjadi boy friendnya sebulan ini. Mas Baldi berasal dari kabupaten tetangga. Oh ya, sebetulnya waktu itu dia tidak nonton bola ke kabupaten tetangga, dia berpisah dengan rombongan untuk bertemu dengan Mas Baldi. Pulangnya dia bergabung kembali dengan rombongan. Ah untungnya, Ibu detektif yang tidak terlalu teliti.

Pukul 22.25 WIB Deri sudah tiba di stasiun dan memarkir motornya di tempat yang aman. Dua helm dia kunci di tempat yang seharusnya. Waktunya kereta datang masih lama, belum lagi kalau kereta tiba terlambat.

"Sampai mana, mas?" Deri menelepon mas Baldi.

Mas Baldi tidak lebih tinggi dari Deri. Umurnya sekitar 36 tahun dan kerja di Jakarta. Badannya gempal, besar dan perutnya buncit menggemaskan. Kumisnya tipis dan dibentuk rapi mengelilingi mulutnya. Tampangnya kebapakan, Deri merasa sangat sangat terlindungi kalau dekat dengan mas Baldi. Mungkin karena itulah dia menerima sewaktu Mas Deri menembak untuk jadi be-efnya. Mas Baldi orang yang baik dan bersahaja. Dia sangat hemat, bahkan kepulangan kali ini Derilah yang membelikan tiket PPnya.

Deri bukan orang kaya. Tetapi posisi kerjanya di bagian keuangan memberinya gaji lebih  tinggi dari rekan selevelnya. Dia bukan anak muda yang suka neko-neko (macam-macam). Tidak dugem, tidak merokok (di tempat teman dia pernah mencoba. Hanya mencoba. Itu pun ketahuan ibu detektif), apalagi minum dan obat. Di kantor dia juga dikenal lurus dan biasa-biasa. Deri bukan macam homo kemayu seperti yang sering dijumpai di salon-salon tapi lebih mirip tokoh yang dimainkan Surya Saputra di film Arisan. Macho kan?

Gelisah Deri masih menanti mas Baldi. Berkali-kali dia menatap jam bundar besar di Stasiun yang seakan mati dan tak bergerak. Dia duduk menghabiskan kopi gelas kedua. Satu piring nasi goreng sudah tandas masuk ke lambungnya. Ah, lima menit lagi kereta akan tiba.

Ning nong ning nong ning nong... kereta Argo akan segera tiba... Ah, ini dia kereta Mas Baldi sudah mendekat. Hape Deri berbunyi tanda panggilan masuk,

"Sudah sampai nih. Gerbong 5 ya.." suara Mas Baldi di ujung telepon.

Deri merasa ringan dan senang seakan balon udara di tambah udara panas hingga mengembang dan terangkat ke udara. Dadanya berdebar seperti baru pertama berjumpa saja. Memang Deri memendam kangen semenjak pertemuan terakhir 3 bulan lalu. Ya.. itu pertemuan yang Ibu anggap dia nonton bola di kabupaten tetangga. Sesudah itu mereka berkomunikasi melalui telepon, sms, kadang chat.

Mas Baldi menenakan jaket kulit ketat, keren sekali. Dia turun dari kereta dan menyapu pandangan ke segala arah namun tidak menemukan Deri. Lalu ada yang mencolek punggungnya. Yap, itu Deri yang menggoda mas Baldi dengan berdiri dekat pintu gerbong 5. Tanpa sungkan mas Baldi memeluk Deri seperti kakak kepada adiknya. Deri pun bersalaman dan mencium  punggung tangan mas Baldi tanda hormat. Tidak ada seorangpun yang mencurigai mereka kalau mereka adalah pasangan gay bukan kakak dan adik yang sesungguhnya.

Tak banyak bawaan mas Baldi, hanya tas pakaian dan satu dus oleh-oleh untuk keluarganya. Pastinya bagi Deri kehadiran Mas Baldi jauh lebih penting daripada segala oleh-oleh. Bagi Deri hanya mas Baldi lah yang sanggup menyiram dan melegakan dahaga rindu. Baldi membonceng MegaPro Deri yang sudah dimodif seperti motor balap. Di tempat yang sepi Mas Baldi berani memeluk pinggang Deri.

"Dek, kita cari penginapan saja yuk..."

"Ayo deh, mas"

Deri pun membelokkan motor ke sebuah losmen namun sayang penuh. Lalu mereka pun mencoba masuk ke sebuah hotel baru tapi juga penuh.

"Bagaimana mas?"

"Iya nih dek, bagaimana ya? Pulang ke rumahku sudah terlalu malam. Pulang ke rumah kamu juga pasti tidak mungkin"

Deri dan Baldi berdua terdiam di parkiran hotel tempat baru saja mereka ditolak.

"Kita jalan-jalan keliling kota saja dulu, yuk! Sambil cari makan, mas lapar nih..."

Mas Baldi mendekatkan mulutnya dan meraih bibir Deri lalu mengulumnya.

"Jangan di sini lah, Mas. Nanti ketahuan..." kata Deri yang sesungguhnya senang.

"Aku kangen sekali sama kamu, dek"

Deri hanya tersenyum lebar.

Waktu sudah menunjukkan pukul 00.40 dini hari ketika mereka memesan dua porsi nasi gudeg. Gudeg kaki lima itu memang buka malam hingga pagi. Paling terkenal adalah potongan kikil yang begitu legit dan nikmat. Nasi gudeg mbah Juriah memang sudah melegenda dan sekarang masih laris meskipun mbah Juriah sudah almarhum. Walau dini hari, mereka harus menunggu antrian 15 sampai giliran mereka. Alhasil, wedang ronde yang mereka pesan sudah habis, namun gudeg pesanan belum juga muncul. Semua tak terasa karena Deri dan Baldi saling bercerita tentang keadaan mereka dan juga cerita-cerita lain. Deri juga bercerita tentang situs onani17.blogspot.com yang disukainya (halah iklan!)

Hampir jam 2 dinihari. Deri membayar makan dan minum. Baginya mengeluarkan uang buat mas Baldi bukanlah sesuatu yang berat. Deri bukan orang yang pelit dan hitungan. Meskipun Mas Baldi jauh lebih tua darinya tapi Deri merasa bertanggung jawab mentraktir. Prinsip Deri lebih baik memberi daripada menerima.

"Kemana nih mas? Pagi masih lama"

"Iya Dek. Coba kita menemukan hotel untuk tidur. Aduh jadi ngaceng neh, Dek"

"Masa sih mas?" kata Deri nakal dan meremas gundukan di selakangan mas Baldi.

Baldi membiarkan, bahkah dia melenguh. Mereka masih di parkiran dekat toko yang sepi.

"Aku juga mau nih mas.. tapi ke mana?"

"Cari tempat sepi yuk... sambil jalan ke rumahku saja"

Akhirnya Baldi dan Deri kembali berboncengan berjalan menuju ke kabupaten tetangga. Sambil berboncengan Baldi memeluk, meremas dada Deri bahkan kadang nakal meremas-remas kontol Deri yang tegang juga.

"Awas nanti muncrat, mas!" Deri mengingatkan.

Baldi pun menghentikan aksinya.

"Dek, di depan ada lapangan bola... berhenti situ saja yuk.."

Deri membelokkan MegaPronya ke lapangan bola di tepi sawah itu. Lampunya dimatikan. Mereka parkir di satu pojokan yang dari jalan tertutup rumput gajah yang cukup tinggi. Di pojokan lapangan yang gelap ada satu balai atau semacam bangku yang terbuat dari bambu. Deri memarkir di situ. Mas Baldi duduk dan mencoba meraba sana sini memastikan tidak ada semut, ulat atau semacamnya. Dia juga coba menggoyang apa kuat kalau diduduki mereka berdua yang berat totalnya lebih dari 150 kg.

"Sini Dek!"

Belum juga duduk, mas Baldi sudah mengalungkan tangan di leher Deri dan mereka segera berciuman. Sebuah ciuman liar yang saling melumat. Ciuman yang membuat rindu mereka tersalurkan. Sebuah keintiman yang dalam yang hanya bisa dilakukan oleh orang dekat saja.

"Aku tuh kangen banget sama kamu" ujar Baldi.

Baldi melingkarkan tangan ke pinggang Deri, dan dibalas Deri dengan melingkarkan tangan ke pinggang Baldi. Tubuh mereka berdua sama sama gempal. Mereka duduk berdekatan dan merasakan kehangatan di bawah sinar bulan separo dan bintang yang berkelip sekuat tenaga mereka. Sebuah kehangatan yang muncul bukan dari pembakaran lemak tapi dari hati yang penuh dengan cinta.

"Sekarang saja yuk.." ajak Baldi.

"Ayuk deh mas..."

Entah apa yang Deri pikirkan waktu itu. Di masa mendatang pun dia geleng-geleng kepala waktu ingat bagaimana dia dikuasai nafsu waktu itu.

Deri meremas selakangan Baldi dan mereka berciuman saling melumat. Dengan cepat Deri membuka celana Baldi dan mengeluarkan pentungan Baldi yang sudah mengeras. Tak sabar segera dilumatnya batang kemaluan itu.

"Oohaaaahhh ssshhhh...." Baldi melenguh pelan

Meskipun tempat itu sepi karena lapangan bola itu ada di pinggir jalan dan jauh dari rumah penduduk tapi mereka tetap waspada kalau-kalau ada yang lewat. Mereka tidak menurunkan celana mereka secara penuh. Sehingga kalau perlu tindakan segera mereka masih bisa sigap.

Mereka berciuman begitu lagi. Ciuman liar. Baldi berdiri sehingga Deri yang duduk lebih mudah melumati batang kontol Deri keluar masuk mulutnya. Baldi sangat menikmati. Dia meremas rambut Deri dan mengatur keluar masuk kontolnya di sana. Sangat nikmat melakukan itu di bawah sinar bulan dan gemerlap bintang di kesunyian malam. Adrenalin mereka juga dipacu ketakutan akan ketahuan.

Baldi membuka celana Deri. Deri membantunya sehingga lembih lancar. Tanpa membuka sepatu celana diturunkan hingga selutut. Badan Deri ditidurkan di balai bambu itu. Baldi berlutut di samping tangan kanannya mengocok kontol Deri yang memanjang hinggga 19 cm sedang mulutnya mengecupi muka Deri. Romantis sekali. Deri merasa dirinya sangat dimanja waktu itu.

"Dek aku masukin ya..."

Deri memang versatile artinya dia bisa dimasuki dan memasukkan kontolnya. Deri mengangkat kakinya hingga pantat montoknya terangkat. Yah, karena gelap tidak terlalu nampak. Bulan separo tampak bersinar di belakang kepala Baldi. Kontolnya yang 17 cm dan gemuk diarahkan ke pantat Deri. Berkali-kali digesekkan di sana.

Sementara itu Deri mengocok perlahan kontolnya sendiri supaya tetap tegang.

"Siap ya Dek.."

Kepala kontol Baldi seperti memiliki deteksi infra merah yang bisa dengan mudah melihat dalam kegelapan. Terasa sangat susah...

"Sssshhh aaawww... sakit mas"

Walau pernah ditembusi sebelumnya namun setelah lama lubang itu akan merapat kembali. Sigap Baldi mengoprek tas dan mengeluarkan jeli pelumas yang sengaja dia bawa. Dilumaskan jeli itu ke lubang Deri dan ke kontolnya sendiri.

"Sssshhh yeee... ssshhh...aaaaaaaaahhh" erang Deri

Kepala dan kontol Baldi masuk perlahan. Rasa pegal ada di sekeliling lubang anus Deri. Namun Deri tau lama kelamaan rasa itu akan berganti kenikmatan. Baldi merasa jepitan Deri menambah kenikmatan di batang kontolnya.

"Aaaahhh enak sekali, sayy...."

Perlahan Deri mengeluarkan dna memasukkan kontolnya di lubang itu. Lama kelamaan tubuh Deri yang gempal bergoncang hingga balai bambu itu walau kuat mengeluarkan derik juga.

"Pelan mas.. ambruk nanti..." ujar Deri mengingatkan.

Baldi harus mengatur ulang gerakannya supaya dia tetap nikmat namun tidak menimbulkan suara yang mungkin nanti akan menyebabkan balai itu ambruk. Tidak lucu kalau balai itu ambruk dan menimbulkan keributan bagi warga. Mungkin akan terdengar seperti dahan patah. Tidak banyak variasi yang bisa mereka lakukan.

Deri sangat menikmati sodokan-sodokan Baldi di pantatnya. Kontolnya menegang tanpa perlu dia kocok lagi. Berayun ayun di perutnya yang agak buncit.

Walau dingin angin malam serasa AC, namun karena keduanya tidak juga membuka jaket mereka merasa kegerahan dan berkeringat. Baldi membuka jaket kulitnya dan meletakkan di atas tasnya. Lalu melanjutkan entotannya.

Kaosnya ketat dan membentuk badannya yang besar dan gempal. Wajahnya begitu jantan dan keren bagi Deri. Bulan separoh timbul tenggelam terkadang tertutup kepala Baldi. Sebuah pemandangan yang indah dan tak setiap orang bisa mengalaminya. Kerlip bintang akan  bertambah terang saat bulan tertutupi wajah mas Baldi yang ganteng.

"Oooaahhh... Dek Hampir ini..."

Deri mengocok kontolnya sendiri mengimbangi orgasme yang menjelang.

"Ooooaaahh aaahhh ahhhh..... ah ah ah... hmmm aaaaaa....." Baldi mengerang.

Deri pun mengimbangi erangan yang memuncak. Sementara deritan balai bambu mulai terdengar lagi. Namun keduanya mengabaikan saja. Mereka berpacu di tengah heningnya malam. Mereka saling menyokong menuju ke puncak asmara.

"Masss ahhhh aaaaa.... massssss....." Deri sengaja melepas kocokan kontolnya.

Baldi mengeluarkan dan memasukkan kontolnya dengan cepat. Gesekan kenikmatan membuat aktif seluruh syaraf yang memacu kenikmatan dan terjadinya orgasme. Gerakan cepat itu tiba-tiba berganti dengan gerakan berkedut-kedut tak teratur lagi keluar masuknya. Saat itu pula anus Deri mencengkeram kencang karena diapun memancarkan mani hingga muncrat sampai ke mukanya sendiri.

"aaaahhhh ...."

Gerakan mereka semakin berkurang dan diam. Beberapa menit kemudian Deri mencari sesuatu di kantung celananya. Tisyu... yah senjata utama untuk membersihkan mani. Meskipun beberapa orang tidak terlalu suka. Deri membersihkan mani di perutnya, kepala kontolnya, dan beberapa yang muncrat di bajunya. Tak terlalu bersih karena tempat itu sangat gelap.

Baldi mencabut kontolnya perlahan. Aaahhh... erang Deri yang anusnya terasa kosong. Lalu dia pun mengarahkan tisyu ke lubang pantatnya. Dia membersihkan sisa sperma Baldi yang mungkin mengalir. Baldi meminta tisyu untuk membersihkan kontolnya sendiri. Setelah itu mereka membetulkan celana dan baju mereka. Tisyu mereka buang ke semak-semak.

Deri menengok jam tangan jam 03.15 dinihari. Masih lama waktu fajar. Deri dan Baldi melanjutkan melepas rindu hingga mentari terbit. Saat sudah terang mereka terheran-heran sendiri bagaimana mungkin mereka bisa melakukan yang semalam. Di pojok sebuah lapangan sepakbola. Di belakang semak adalah pertigaan yang seberangnya ada pos hansip. Entahlah apakah kelakuan mereka semalam diamati atau tidak.

Satu lagi yang aneh malam-malam itu di sawah ada orang memanen padi. Padahal hari masih gelap. uh sepertinya ada banyak mata tersembunyi yang menyaksikan mereka malam itu. Sebelum hari bertambah terang mereka kabur untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Baldi. Deri pun harus masuk siang nanti.

Pagi itu Deri pulang dengan alasan mengantar tugas kerja yang harus dikirim ke kantor pusat pagi ini juga. Namun seminggu kemudian Ibunya tahu kalau dia ke stasiun malam itu. Deri mengakuinya tapi dia mengatakan membantu kakak teman kantor yang kemalaman pulang dari Jakarta. Selamaaattt.... Tambah gila saja keahlian membohong Deri. Cinta memang  buat orang jadi Gila.

"Mas, aku minta ketegasan kamu kali ini.." kataku tegas ketika bertemu Mas Baldi.

Aku sangat kaget saat tau kalau Mas Baldi menjalin cinta dengan mbak Sinta, kakakku satu-satunya. Mas Baldi mulai kenalan dengan mbak Sinta waktu tak sengaja mbak Sinta mengangkat hapeku yang berdering berulang-ulang. Hubungan berlanjut di hape mbak Sinta sendiri. Satu hal yang mengagetkan ternyata mbak Sinta berani menemui mas Baldi di Jakarta. Suatu hal yang sangat di luar dugaanku atas keberanian mbak Sinta.

Ibu yang mengetahui semua dan mengadukan padaku. Aku tahu kalau pacar mbak Sinta itu adalah mas Baldi juga dari Ibu. Bagai disambar petir saat tahu kalau bfku menjalin cinta dengan kakakku sendiri.

"Ketegasan bangaimana?"

"Pilih aku atau kakakku?"

Lama mas Baldi tidak memberi jawaban. Dia berpikir sangat serius.

"Mas... jawab mas... " aku menuntut jawab.

Aku sangat mencintai Mas Baldi. Aku juga sangat menyayangi mbak Sinta, kakak kandung dan saudara kandungku satu-satunya. Ibu dan mbak Sinta yang merawatku dari kecil. Mereka jugasangat memperhatikan aku. Namun kerinduanku pada sosok Ayah aku temukan dalam diri Mas Baldi. Apapun yang dia mau aku beri. Aku sayang sekali. Aku mencintai mas Baldi.

Ibuku sempat khawatir ketika melihat reaksiku. Ibu mengira kalau aku tidak merelakan mbak Sinta untuk menikah. Aku sempat diceramahi ini dan itu. Tentu saja aku tidak mengatakan sesungguhnya kalau mas Baldi adalah kekasihku.

"Jangan diam saja Mas. Jawab! Katakan sesuatu..."

"Iya... iya... iyaa.....!" suara mas Baldi agak keras dan emosi.

Sebentar dia membelakangiku dan agak menenangkan diri.

"Kita putus" katanya pendek tapi jelas.

Buatku itu suatu kalimat dahsyat. Bagai meteor besar yang menyebabkan punahnya Dinosaurus. Hantaman yang membuat burung berhenti bercicit. Taman yang tadinya ramai orang dan suara kendaraan tiba-tiba lenyap diganti kesenyapan. Matahari langsung tertutup awan gelap. Mataku terasa hangat siap mengalirkan berton-ton air mata.

***

Hidupku terasa tak bergairah lagi semenjak itu. Berhari-hari aku menata diri. Memunguti puing-puing hatiku. Kecewa bukan karena mas Baldi tapi lebih kepada kakak yang sangat kusayangi selama ini. Wanita memang brengsek dan resek. Aku akan menutup hati untuk wanita.

Hari lamaran pun datang dengan cepat. Tampak Mas Baldi begitu gagah dalam setelan jas yang akan dikenakan besok pagi. Dia meminta ijin pada Ibu lalu mendekati aku.

"Dek Deri, aku perlu bicara dengan kamu sebelum semua berlangsung"

"Kamar saja, mas"

Itu tempat yang paling memungkinkan karena semua tempat sudah ada manusia. Tetangga kami dan saudara-saudara yang membantu acara lamaran besok pagi. Sewaktu masuk kamar Mas Baldi mengunci pintu dan memelukku. Aku kaget sekaligus sangat senang. Meski tahu aku diputus namun sama sekali aku tidak membenci Mas Baldi.

"Dek... kamu tahu kalau besok keluargaku akan datang untuk melamar kakakmu, mbak Sinta"

Kami duduk di tempat tidurku. Mas Baldi memelukku dari samping. Pipinya ditempelkan ke keningku.

"Aku tahu kalau Dek Deri masih sayang sama mas. Mas juga begitu. Sebentar lagi setelah lamaran akan ada acara perkawinan. Mas akan jadi kakak ipar"

Mas Baldi menarik nafas panjang dan menata kalimat berikut.

"Yah, kita akan bersaudara ipar. Kamu akan jadi adik ipar"

Aku masih bingung dan kurang bisa menebak maksud percakapan kami. Tapi yang jelas aku meneteskan air mata. Seakan aku akan kehilangan Mas Baldi untuk selamanya. Aku sudah coba merelakannya. Aku mengikhlaskan semua demi kakakku dan demi kebahagiaan Mas Baldi.

"Aku ingin kita menyimpan rahasia kita rapat-rapat untuk selamanya. Bisa kan, dek?"

Aku hanya mengangguk.

***

Beberapa bulan kemudian aku mencoba berbaikan dengan mbak Sinta. Kami pun membuka diri bukan sebagai pasangan tetapi sebagai kawan di chating. Kami juga merahasiakan kalau kami pernah ketemu sebelumnya. Alasan ini kuat dan mbak Sinta tidak curiga kalau aku dan mas Baldi dekat. Namun demi menjaga citra dan kesopanan aku dan mas Baldi menjaga jarak.

Sampailah pada saat yang dinanti.

Akad nikah sederhana berlangsung dengan khidmat. Sepanjang acara aku berusaha menahan air mata. Hatiku kembali teriris. Andai memungkinkan aku ingin menggantikan mbak Sinta berada di depan penghulu sana. Mas Baldi terlihat bahagia sewaktu bersalaman dengan para tamu. Malam ini juga Mas Baldi akan tinggal bersama kami. Namun bukan tidur di kamarku tetapi tidur di kamar mbak Sinta sebagai suami mbak Sinta.

Malam itu semua tamu sudah kembali. Semua lampu sudah dimatikan. Namun aku masih tidak bisa tidur. Membayangkan apa yang terjadi di kamar sebelah. Bergairah sendiri membayangkan tubuh Mas Baldi yang telanjang menindih kakakku. Ah, benar-benar tidak sopan pikiranku. Andai tubuh Mas Baldi ada di kamar ini saja... aku tertidur kelelahan tanpa mematikan lampu kamar.

Malam hari aku terbangun karena ada ketukan di pintu kamarku. Aku sangat mengantuk. Saat kubuka, betapa kaget ternyata itu adalah Mas Baldi. Dia cepat menerobos masuk ke kamar lalu mengunci pintu kamarku. Dia masih mengenakan kaus oblong dan boxer saja.

Tak sabar dia segera menciumku dan menggerayangi tubuhku. Aku tidak merespon. Ada sesuatu yang salah rupanya. Meski ingin tapi tubuhku tidak merespon. Bahkan ketika dia meremas-remas kontolku. Kontolku yang biasa akan bangun hanya diam saja.

"Mas, kenapa dengan mbak Sinta?"

Ini malam pertama, malam yang paling didamba pengantin. Namun aku tidak mengerti kenapa Mas Baldi justru masuk ke kamarku. Bahkan menggerayangiku dengan bernafsu begini. Namun semua berlangsung begitu cepat. Secepat dia datang, secepat itu pula mas Baldi keluar. Menghilang, aku menunggunya sampai hampir subuh tapi tidak datang juga.

***

"Mas, semalam..."

"Ssshhh..."

Mas Baldi menahanku untuk bicara tentang yang terjadi semalam. Kami pun tidak membicarakan lagi hal itu hingga dua minggu kemudian.

Malam itu aku tidur cepat hingga jam 11.23 malam aku dengar ketukan pintu. Mas Baldi masuk ke kamarku dan langsung menindihku yang sedang sangat mengantuk. Aku diam saja tanpa respon. Aku kira aku sudah mati rasa pada mas Baldi. Dia bangun lalu menamparku dan keluar dari kamarku.

Peristiwa malam pertama saja masih misteri bagiku. Apalagi ditambah tamparan malam ini yang menyakitkan hati. Apa salahku sehingga Mas Baldi melakukan ini semua kepadaku? Sudah gilakah dia? Bukankah aku yang harusnya sakit hati? Perih sekali rasanya....

***

Semenjak itu Deri tidak lagi mau menyapa Baldi. Ibu mengetahui perubahan sikap Deri. Kembali berbagai macam nasehat dilancarkan Ibu.

"Bu, lebih baik aku kos saja..."

Ibuku tidak setuju namun aku berkeras. Kakaku sempat mencegah namun aku berkeras. Namun keputusanku membawa hikmah terbukanya semua misteri. Semua terjadi pada minggu pertama hari jumat sore sepulang kerja. Mas Baldi sudah menunggu di pintu kos.

"Masuk mas..." walau perih tapi tetap tak tega juga.

Di dalam kamar Mas Baldi menyergapku. Nafsunya menggila. Bagai banteng spanyol melihat kain merah. Mendengus dan menerjang sepenuh energi. Aku ditelanjanginya dan bugil sama sekali. Aku ingin menolak tapi aku juga tak kuasa menahan nafsuku ini. Terjadilah ini.

Mas Baldi menciumi leherku, daerah paling sensitif. Membuatku serasa penuh energi dan menggelinjang tak tentu.

"Assshhh mmmm ooohhhhh...." erangku berulang-ulang.

Nafsuku tak tertahan. Hasratku sangat tinggi. Mungkin karena sudah lama tidak ML dan tidak ngocok semenjak Mas Baldi menamparku. Rangsangan Mas Baldi ini sangat nikmat. Berbeda dari biasanya. Aku tahu kami telah putus tapi aku mau ini. Nikmat sekali tau!

Tanganku tak bisa diam. Sebentar saja Mas Baldi pun telanjang. Kamar kosku yang panas bertambah panas. Mas Baldi menindihku, pinggulnya digerak-gerakkan menggesek kontolku. Nafasnya mendengus-dengus seperti sudah tahunan tidak merasakan sex. Seperti musafir di padang gurun menemukan kolam air yang segar.

Tanpa babibu lagi Mas Baldi menancapkan kontolnya ke anusku. Dia mengulum bibirku dan membuatku tidak bisa protes. Aku merasakan sakitnya tapi aku tidak mau protes. Bahkan kontolku biasa lemas saat di masuki kontol, kali ini tetap menegang. Tanganku dipegangi Mas Baldi dengan kencang.

Mas Baldi mulai menggerakkan kontolnya keluar dan masuk. Mulut kami berpagutan dan mendesah menyatakan kenikmatan.

Clup...

Aaahhhh ouuuhhh...

Clup...

Sshhh mmmmhhhh

Begitu suara berulang-ulang.

"Ooouuuhhhh Der saayaaanngg aku hampiirr..."

Wow cepat sekali Mas Baldi mencapai puncak. Tak lama kemudian kurasakan kedutan-kedutan pasti Mas Baldi sudah menyemburkan spermanya. Sementara kontolku sedang tegang-tegangnya. Kubalik posisi Mas Baldi biar tiduran di bawah. Lalu kumasukkan kontolku ke anusnya.

Anus Mas Baldi sempit tapi kupaksa. Kontolku sudah mencapai ukuran maksimal. Agak susah memang tapi aku mau memperkosa kakak iparku ini. Sebagai balasan tamparannya kepadaku. Kubuka dengan paksa pahanya. Kuciumi dia. Lalu kudorong kepala kontolku ke lubangnya..

"Aaaaahhhhh Der sakit!" ujarnya.

Nanti juga enak mas, begitu pikirku. Muka mas Baldi mengkerut-kerut menahan sakitnya ganjalan kontolku. Posisi Mas Baldi tiduran dan mengangkangkan paha di atas perut. Posisi terbaik buat seorang bottom. Perlahan kepala kontolku masuk lebih dalam.

"Ssshhh mmmm enak sekali..." kataku.

Lalu segera saja pinggangku mengentot Mas Baldi keluar masuk. Kupegang kedua pipinya lalu kugigit bibirnya pelan. Perlahan Mas Baldi pasrah juga. Dia nikmati entotanku. Aku tahu karena kontolnya yang tadi sudah mengecil kini kembali menegang. Bahkan dia mulai mengerang.

"Pindah posisi, Mas..."

Aku tiduran membelakangi Mas Baldi. Kontolku kumasukkan kembali. Aku suka sekali posisi ini dan kontolku yang panjang menguntungkanku. Sementara tangan kiriku bebas mengocok kontol Mas Baldi yang sudah mengeras. Mulut kami tetap saling melumat tanpa henti.

Keringat kami sudah bercucuran membuat badan kami licin dan berkilat. Kamar kostku yang panas bertambah panas dengan adegan kami.

"Oaaaahhh... hmmmm.... Sayang, jangan terlalu cepat ngocoknya. Nanti aku muncrat lagi. Aku maunya sama-sama..." ujar kakak iparku dan mantan bfku ini.

Sama sekali sudah tidak terpikir lagi kalau Mas Baldi adalah kakak iparku. Nafsu syahwat ini begitu menguasaiku.

Kukocok kontol Mas Baldi semakin cepat. Aku merasa kalau aku hampir keluar.

"Owh maassshhh aku hampir keluarrrr..."

"Aaahhh ahhh ahhh"

Baru saja mendengar begitu aku tahu mas Baldi sudah keluar aku pelankan kocokan tanganku dan aku berkonsentrasi pada entotanku. Tak lama aku pun menyemburkan mani banyak sekali. Kurasa itu yang terbanyak yang pernah aku keluarkan. Aku merasa sangat puas. Tubuhku melemas dah memeluk Mas Baldi lama sekali.

Setelah diam dan pelukan yang lama.

"Der... hmmm aku tidak bisa mengelebui hatiku lagi. Aku masih sayang sama kamu..."

Aku hanya terdiam.

"Selama ini aku sudah berusaha... sangat berusaha... hhhhh...."

Mas Baldi tidak menyelesaikan kalimatnya. Aku pun mengerti dan tidak perlu dia melanjutkan itu semua.

"Aku cuma mau minta sama Mas untuk membahagiakan Mbak Shinta... kalau mas mau sama aku, aku siap kapan pun"

Mas Baldi memandangku dan melihat keseriusanku. Dia memeluk dan menciumku.

Kami lalu berpakaian. Aku sudah siap kembali pulang ke rumah.

"Mas, kenapa waktu itu menamparku?"

"Hmm.. maaf ya sayang... aku hanya ingin membuat kamu benci ke aku saja. Mungkin dengan kamu meninggalkanku aku bisa bahagia dengan istriku, kakakmu. Tapi aku salah... Tampar saja aku sekarang sebagai balasannya"

Aku tersenyum, bagaimana mungkin aku melakukan kepada mas Baldiku sayang...

Kami pulang ke rumah sambil ngobrol dan tertawa-tawa. Ibu dan Mbak Shinta memandang kami dengan heran. Mereka hanya menggeleng berkali-kali. Tampak sekali mereka tidak mengerti dunia laki-laki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar