Jumat, 20 April 2012

Senjata Makan Tuan




Aku heran mengapa Arya tidak mau
menerima cintaku padahal kami
sudah dekat dan hampir saling
tergantung, dan sampai detik ini aku
tetap tak habis pikir kenapa dia
menolakku, padahal aku memiliki
hampir semua hal yang dia butuhkan
untuk kesenangannya. Aku selalu
membantu mengerjakan tugasnya,
memberi fasilitas mengetik, aku jago
main musik dan itu sangat
mendukungnya setelah dia bersolo
karir.
Aku juga tidak terlalu jelek, malah
beberapa teman gay-ku mengatakan
aku imut dan seksi. Tapi apa yang
terjadi? Sejak aku menembaknya
hari itu, dia menyumpahiku habis-
habisan dan tak ingin melihatku lagi.
Dia bilang tak ingin tertular jadi gay!
Dia bahkan ingin membuang
semuanya tentangku: pindah kost,
pindah tempat kuliah, bahkan
mengganti nomor handphone dan
mengganti motornya, jadi aku akan
kehilangan jejaknya.
Tapi apa sih yang tidak bisa
kudapatkan? Sejak di Yogya aku
mendapatkan banyak kemudahan
karena keahlianku. Aku jago
komputer, programmer, sehingga
banyak orang yang jadi temanku
karena kuperbaiki komputernya atau
karena kubuatkan tugas
pemrogramannya. Atau banyak
anak-anak band yang sering
memakaiku sebagai additional player.
Termasuk di antara teman-temanku
adalah orang-orang penting, orang-
orang kaya, dan anak-anak dunia
malam.
Dan setelah beberapa bulan aku
dibuat patah hati olehnya dan tidak
tau jejaknya, seorang temanku yang
terkenal alot dan teliti berhasil
mendapatkan berita tentang lokasi
Arya yang baru, di kampung X, dekat
kampusnya yang baru. Tidak sulit
untuk menemukannya. Aku ke sana
saat malam hari dengan seorang
temanku dengan membawa apa saja
yang kuperlukan. Tidak bisa
mendapatkan cintanya, aku harus
mendapatkan tubuhnya, adil kan?
Jam tanganku menunjukkan pukul
21:35 dan terlihat seseorang menutup
pintu gerbang kontrakan yang agak
keren itu. Lalu setelah lampu depan
dimatikan, aku dan seorang temanku
yang ahli dalam hal ini kemudian
memanjat pagar dan mengendap
menuju pintu kamar Arya. Setelah
beberapa kali mengetuk, Arya
membuka pintu dan betapa
terkejutnya dia saat sesuatu
mengenai kepalanya dengan telak,
itu ulah temanku Doni.
Dia pingsan! Bagus! Level berapa pun
dia di perguruan silatnya, ternyata dia
tak berdaya menghadapai serangan
mendadak dari Doni. Lalu kami
menyeretnya ke dalam kamarnya.
Aku memberi isyarat pada Doni yang
lalu memborgol masing-masing dari
kedua tangannya ke samping lalu
mengikat kedua kakinya pada sisi-sisi
tempat tidur.
"Udah Don, tugasmu selesai, makasih
ya?"
"Santai aja lagi, kan kamu sering
nolongin aku. Tapi kamu yakin nggak
perlu bantuanku lagi?"
"Iya, aku jamin besok aku ketemu
kamu dalam keadaan senang."
"Ya udah, aku pulang duluan ya?"
Lalu Doni mengendap-endap untuk
keluar dari lingkungan kontrakan itu
dan kembali ke markasnya.
Aku tertawa dalam hati. Akhirnya
kudapatkan tubuhmu. Siapa suruh
kau menolakku? Lalu aku
mengendorkan ikat pinggangnya dan
membuka kancing bajunya. Kuraba-
raba badannya sambil mulai kuciumi
mukanya. Aku hanya mendesah-
desah merasakan hal yang selama ini
cuma jadi impianku. Tak lama
kemudian, mungkin karena
terganggu suara desahanku, akhirnya
dia bangun dan kaget karena ada
sebentuk wajah yang menempel
pada wajahnya.
"Ooi.. Lepasin.. Beraninya cuman kalo
kayak gini aja, pengecut!" Dia
mencoba menarik kedua tangannya
yang diborgol, juga kedua kakinya,
tapi tidak bisa.
"Memangnya kenapa? Ayo, keluarin
tenaga dalammu, dasar jagoan takut
hantu!"
"Oouggh.. Ternyata kau! Dasar homo
tak tahu malu! Aku akan hajar kau"
"Hajar aja kalo bisa"
Aku terus mencumbuinya.
Kuperosotkan celananya lalu kubelai-
belai pangkal pahanya. Sambil terus
berusaha berontak, Arya cuma
memejamkan mata sambil berpaling
ke kiri, mungkin karena jijik. Lalu aku
mulai meraih benda ajaibnya yang
panjang dan besar. Kuelus-elus
sampai akhirnya tegang juga. Dan
dia tidak meronta lagi.
"Aku nggak nyangka, ternyata kamu
bisa horny juga sama aku, kenapa
dulu kamu tolak aku?"
"Diam!! Ooii.. Lepasin.. Ooi.. Tolong.."
Wah, gawat! Pikirku. Kalau sampai
ada yang mendengar. Lalu
kunyalakan radio yang ada di
sebelah dengan volume yang kira-
kira bisa mengelabui orang di luar,
tetapi tidak terlalu berisik. Lalu
kuganjal mulut Arya dengan mulutku.
"Apa, kamu bisa apa.."
Aku melepaskan baju dan celanaku.
Aku terus mengelus-elus
batangannya sampai dalam
ketegangan maksimal, dan di luar
dugaanku, dia mulai mendesah.
"Ouh, jangan.. Jangan.."
"Jangan apa? Jangan lepasin? OO,
aku puasin kamu malam ini.."
Aku kocok batangannya beberapa
lama sampai precumnya keluar,
pertanda dia mulai dialiri nafsu.
Kemudian kulepaskan tanganku. Dia
terlihat kaget dan ingin protes, tetapi
kemudian aku memerosotkan
celananya lebih lebar dan,
kumasukkan batangannya ke
mulutku. Sambil Arya merasa
keenakan, tanganku mulai mengelus-
elus lubang pantatnya dan dia
mengerang-erang karena kegelian.
"Kenapa? Enak ya? Nyesel nolak
aku?" tanyaku sinis.
"Li, lepasin tanganku Li, please.."
"Untuk apa? Supaya kamu kabur?"
"Enggak Li, supaya aku bisa ngocok
punyamu juga"
"Ah, alasan. Udah diam! Kalo mau
bikin aku enak juga, nanti bakalan
datang waktunya, nggak perlu pake
tanganmu"
"Apa maksudmu?" dia bertanya
dengan nada merinding.
Aku tidak mempedulikan lagi kata-
katanya, aku terus mengelus-elus
lubang pantatnya sambil sesekali
memasukkan jariku. Pertama
kelingking, lalu telunjuk, ibu jari, dan
akhirnya dua jari sekaligus.
"Kamu gila ya? Mau nyodomi aku?
Kuhajar kau besok!"
"Udah, tenang aja, nanti juga kamu
ketagihan."
Aku melepaskan mulutku dari
batangannya yang basah karena
liurku, lalu mengocoknya perlahan-
lahan dengan tanganku. Dia semakin
mendesah-desah.
"Li, aku mau.." Aku cepat tanggap
dan kulepaskan tanganku. Arya
kaget.
"Kok dilepasin..?"
"Enak aja, mau orgasme sendirian?
Emang dari dulu kau tuh pelit dan
egois!"
Lalu aku meletakkan dua buah bantal
di bawah tubuhnya sehingga
tubuhnya agak terangkat ke atas,
dan aku mendekap mulutnya dengan
ban pinggang karatenya yang
kudapatkan di gantungan. Aku
mengubah posisiku sehingga dengan
duduk melipat kaki aku bisa
mengarahkan batanganku ke
anusnya. Aku terus berusaha
memasukkan batanganku ke
lubangnya, sementara mukanya
meringis menahan sakit sambil
menggoyang-goyang badannya
karena meronta.
"Udah, tenang aja, entar lagi kamu
keenakan"
Lalu, bles! Masuklah semua
batanganku yang memang sedikit
kalah besar dari miliknya. Aku
berhenti sejenak. Arya mengambil
nafas agak panjang, lalu aku mulai
menggesek-gesekkan batanganku di
dalam anusnya. Wajahnya terlihat
memelas, namun beberapa saat
kemudian dia mulai ikut mendesah
dengan mulut yang masih tersumpal.
Dia seperti ingin mengatakan
sesuatu, sementara wajahnya merah
dan mulutnya masih tersumpal.
Akhirnya aku melepas bungkaman
mulutnya, dan ternyata dia sedang
menggumam sendirian, keenakan.
Aku terus memaju-mundurkan
senjataku dengan frekuensi normal,
sementara wajah Arya terlihat
semakin memerah.
"Ayo Li, lebih cepat lagi"
Aku mengacuhkan kata-katanya. Aku
tidak mempercepat aksiku,
sementara kulihat batangannya
mengeluarkan semakin banyak
precum. Rupanya dia sangat
menikmatinya. Dengan posisiku
masih menungganginya dengan
duduk melipat kaki, aku mulai
sambilanku menciumi dadanya,
lehernya, telinganya, dan ia hanya
bisa pasrah menanti saat klimaks
datang.
"Li, aku nggak tahan lagi, kocokin
juga donk punyaku, oh.."
"Udah, tenang aja, bisa diam nggak
sih?"
Lalu sekitar lima menit kemudian,
aku merasa akan klimaks.
Kuhentikan rabaanku pada dadanya,
tapi aku mekin ganas menciuminya.
Kemudian, Crot! Crot! entah berapa
kali spermaku muncrat di dalam
anusnya. Badan Arya terus
bergoyang-goyang karena belum
klimaks. Aku tahu harus memberinya
kesan yang mendalam agar dia tak
lagi membenciku, bahkan jadi
menerimaku.
"Oh, chayank, nggak tahan lagi ya?
Sini kulepasin aja, biar kamu
melakukan apa aja, terserah"
Aku melepaskan ikatannya karena
yakin dia sedang diamuk nafsu. Dan
benar, setelah ikatan kaki dan
tangannya lepas, dia langsung
menciumiku dengan ganas dengan
berbagai gaya. Mungkin dia biasa
melakukannya pada ceweknya. Aku
agak sedih mengingatnya, tapi
nafsuku jadi kambuh lagi karena
gaya ciumannya terkesan jantan dan
romantis.
Dengan agak kasar karena terburu-
buru, dia membalik badanku lalu
memasukkan batangannya ke
anusku dengan paksa. Aku masih
kesakitan walaupun beberapa kali
aku pernah diperlakukan begitu. Tapi
tidak lama, karena akhirnya semua
batangannya masuk ke anusku, lalu
dia mengganti gaya kami sehingga
posisinya dia duduk dengan aku juga
duduk di atasnya.
"Kamu nafsu lagi ya? Sini" Lalu sambil
meneruskan aksinya, tangan
kanannya meraih senjataku yang
mulai bertuah lagi, lalu mengocoknya
dengan ritme yang sama dengan
tusukan-tusukan pedangnya.
"Oh, Li, aku mau keluar."
"Keluarin situ aja, aku juga mau
keluar"
"Oh, Li, enak, oh.. Li, aku.."
Tubuh Arya mengejang lalu
kurasakan beberapa tembakan
benda kental di dalam anusku, dan
Arya pun lemas dengan posisi yang
belum berganti. Tangannya terus
mengocok batanganku dengan
sangat cepat, dan, crot! Crot! Aku
orgasme lagi.
Setelah itu, dia menarik badanku
sehingga batangannya terlepas, dan
hasilnya kami berbaring bersisian.
Aku memeluk badannya. Awalnya ia
agak meronta, tapi aku tidak mau
melepasnya sehingga dia diam saja.
Pandangannya ke arah langit-langit
dan seperti menyesal.
"Kamu menyesal ya? Mau hajar aku?
Hajar aja! Aku udah dapat tubuhmu"
kataku agak sinis karena yakin dia
sudah telanjur keenakan.
Dia memandangku dengan tatapan
tajam. Aku berdebar-debar
menunggu reaksinya. Ternyata dia
balas memelukku dengan sangat
erat.
"Aku nggak mau pura-pura lagi,
ternyata aku butuh kamu, dalam
segala hal, aku sayang kamu, Li"
"Kalau tau bahwa kau akan luluh
setelah kupuaskan, pasti aku akan
memperkosamu dari dulu, hehe.." Dia
melotot padaku, aku agak ngeri
sambil melepaskan pelukan.
"Eh, tenang aja, aku benar-benar
sayang, walaupun karena ini aku
jadi, GAY!"
Dengan agak pahit dia
mengucapkannya. Lalu dia berbalik
dan mengambil handponenya di
meja.
"Ali, kamu masih di kost deket
warung itu? Berapa nomor
handphonemu?" Wah, rupanya dia
jadi luluh.
"Nomorku nggak kuganti kok"
jawabku.
"Iya, tapi aku kan lupa, nomorku
udah sering ganti" Lalu aku
menyebutkan nomorku.
"Tau nggak? Sejak kamu nolak aku, Aku benar-benar merasa nggak ada
gunanya hidup. Tapi sekarang, aku.."
"Gimana rencanamu sekarang, mau
nginap?" Arya memotong kata-
kataku.
"Kalau boleh" jawabku.
"Kamu sendiri gimana? Kamu kan
punya Erni, dia setia sekali, cantik
lagi. Aku selalu cemburu sama dia"
kataku.
"Udah, gimana kalo aku putusin dia,
kamu seneng?"
"Sebenarnya nggak perlu segitu, asal
kamu mau nyediain waktu buat aku,
aku udah seneng kok"
Setelah lama diam, dia bicara lagi.
"Li, kamu mau kan nangani lagu-lagu
baruku buat album besok?" Sambil
menepuk pundaknya, aku
menjawab.
"Iya lah, apa gunanya aku jadi
sephiamu. Udah, pake tu baju!"
"Nggak ah, aku pengen anu lagi,
kamu aja bisa dua kali"
Aku tertawa terbahak-bahak. Malam
itu kami melakukannya berkali-kali
dan kami hanya tidur beberapa jam
karena jam 7 pagi dia mengantarku
pulang ke kost. Sesampai di kostku,
aku pamit mau mandi. Setelah itu,
aku memakai deodoran lalu
menyemprot badanku dengan
parfum kesukaanku. Kulihat Arya
cuma bengong.
"Kenapa Ya'?" aku bertanya dengan
heran.
"Nggak kusangka ternyata wangi
badanmu bikin aku terangsang lagi"
Lalu dia mengunci pintu kamarku
dengan buru-buru lalu menciumi
badanku yang hanya dibalut handuk.
Aku jadi tegang sendiri. Dia melepas
handukku lalu mengocok batanganku
sambil mulai menciumi wajahku. Aku
mengerang-erang keenakan. Aku
sadar tentang situasi dan kondisi
yang berlaku, lalu menyetel radio
keras-keras. Arya menarikku lalu
membantingku di kasur. Untung
kostku sepi karena semua orang
sudah pergi ke kampus atau bekerja.
Arya melepasi pakaiannya lalu mulai
menciumi dadaku, leherku, bahkan
ketiakku diciuminya. Aku kegelian
sambil mencari-cari senjatanya.
Setelah kutemukan lalu kukocok
pelan-pelan.
"Ya?"
"Hm? Ada apa? Mau ngomong
sesuatu"
"Kamu pernah ngesex sama
cewekmu?"
"Belum, kenapa?"
"Berarti belum nyobain 69 ya?"
tanyaku lagi.
"Apaan tuh?" Lalu aku mengubah
posisi sehingga saling berbalik. Aku
mengulum batangannya.
"Kamu coba deh kulum punyaku
juga, asyik loh"
Lalu kami saling mengulum. Setelah
beberapa menit, dia membisikkan
bahwa dia ingin menyodomiku lagi.
Aku persilakan dia. Dia melihat
minyak rambut yang ada di sebelah
meja komputerku lalu
mengoleskannya pada anusku,
batanganku, dan batangannya
sendiri. Setelah itu dia mengocok
batanganku dengan mesra. Terasa
lain karena kali ini memakai pelumas
yang licin. Setelah dia yakin aku
terbang ke alam antah berantah, dia
langsung memasukkan senjatanya
ke lubangku. Aku menjerit sebentar
lalu mulai berubah jadi keenakan. Dia
terus memaju-mundurkan senjatanya
di anusku sedangkan aku mengocok
milikku sendiri.
"Li, aku mau klimaks, oh.."
Aku juga mempercepat kocokan
pada batanganku, dan saat dia
menjerit, aku pun klimaks. Tanpa
mencabut senjatanya, dia mencium
keningku dengan manis.
"Kamu nggak pengen nyogok aku
juga, li?"
"Nggak ah, kan aku udah klimaks
juga. Lagian capek, dari tadi malam."
Lalu kami saling tersenyum dan
saling mencium sampai kusuruh dia
mandi diikuti olehku yang juga mandi
di kamar mandi sebelahnya.
Setelah itu kami tidur di kamarku
sampai siang dan dia kembali ke
kontrakannya. Hari itu tidak satu pun
dari kami yang pergi kuliah, maklum,
sedang bernostalgila, eh, nostalgia.
TAMAT

Jadi Anggota CIA



CIA, sebenarnya adalah singkatan
dari Cek In Aje. Akronim lelucon
yang biasa kusebut, apabila aku
bermaksud menyalurkankan hasrat
birahi dengan seseorang yang
kuinginkan, di sebuah hotel.
Berikut ini adalah beberapa
penggalan kisah cek in yang pernah
aku lakukan.
Aku terkadang masih sering bertanya
sendiri, termasuk dalam kelompok
apakah aku ini, dengan
kecenderungan ketertarikan
berkelamin sesama jenis. Pada
beberapa rubrik kesehatan, aku
selalu membaca artikel yang
mengupas soal itu. Namun, ulasannya
biasanya hanya sedikit. Karena itu,
tidak dapat memenuhi hasrat
keingintahuanku, tentang dunia ganjil
yang kugeluti. Sehingga, akhirnya,
aku membaca buku berjudul
Perawatan Kesehatan Tanpa Rasa
Malu, karangan dari Charles Moser,
Phd, MD, yang diterjemahkan dari
judul aslinya Health Care Without
Shame.
Tak sengaja aku menemukan buku
tersebut, di rak pamer toko buku
Gramedia, pada penghujung tahun
2000-an ini. Satu lagi adalah, buku
berjudul Gay: dunia kaum homofil,
terbitan Grafiti Press, Jakarta tahun
1987, kuangap sebagai cikal bakal
referensi pencarian jati diri.
Kini aku semakin confidence dalam
menghadapi hidup di dunia margin.
Kusebut demikian, karena dari hasil
studi literature, aku menemukan
diriku tergolong dalam kelompok
yang disebut sebagai bisex.
Aku dapat juga merasakan sensasi
kenikmatan berkelamin dengan
sesama jenis. Walaupun secara
parameter, kuantitas sex intercourse-
nya lebih banyak dengan yang lain
jenis, namun secara makna dan
kualitas, kepuasan lebih banyak
kudapatkan dari hasil hubungan yang
sejenis. Hal ini, kemudian kuanggap,
menjadi keberuntunganku pula,
untuk menutupi keadaan yang
sesungguhnya, siapa diriku
sebenarnya.
Aku, sebenarnya, lebih beruntung dari
mereka, yang benar-benar tidak
punya pilihan lain – sebagai aktulisasi
diri – tampil sedemikian apa adanya
melalui wira laku, wira suara,
ataupun wira busananya sehari-hari.
Sehingga, hanya dengan sekilas
memandang, sudah dapat diketahui
orientasi seksual yang bersangkutan.
Namun, dalam tatanan pergaulan
sosial, tidak jarang fakta itu
kemudian diralat atau dibantah oleh
yang bersangkutan, apabila hadir
dalam komunitas masyarakat hetero,
bila perlu dengan menyelenggarakan
press confrence.
Untuk alasan menjaga reputasi,
kiranya dapat dimengerti dan
dimaklumi sikap tersebut, mengingat
kebiasaan umum yang masih
menabukan soal yang demikian.
Itulah kehidupan dunia ganjil, yang
diliputi kepalsuan dan kemunafikan.
Sayup-sayup dikejauhan kudengar
alunan lagu "dunia ini, panggung
sandiwara.., ceritanya mudah
berubah.."
Buatku, yang mengasyikan dalam
berkelamin sejenis adalah, ketika
kami sedang bergumul, mencumbu
dan mengagumi keindahan anatomi
alat kejantanan. Saling menjilat dan
menelusuri lekuk tubuh atau
menghirup aroma alaminya.
Termasuk di dalamnya adalah
menerapkan istilah-istilah seperti
body contact, blowjob, felatio,
rimming, cumshots, maupun anal
intercourse yang menjadi definisi
operasional dan familiar dalam
komunitas masyarakat penggemar
seks sejenis.
Bagi pendatang baru, awalnya akan
merasakan kecanggungan – lebih
tepat malu – dalam berhubungan
seks sejenis. Namun, biasanya,
perasaan itu berangsur lenyap,
manakala nafsu sudah menjalar ke
seluruh relung tubuh; dengus nafas
yang mulai tidak beraturan dan
denyut jantung yang semakin cepat.
Pandangan mata pun mulai berubah
menuntut suatu penuntasan. Seperti
yang terjadi dal kisah berikut ini.
Pada suatu ketika aku, Adam dan
Sony – seorang hetero – memutuskan
untuk bersantai disuatu karaoke.
Kebetulan kami memang senang
menyanyi. Karena keesokan harinya
libur maka kami memutuskan stay
up di salah satu hotel di ibu kota.
Dari Adam, aku tahu kalau Sony
gemar minum. Karena itu, sebelum
cek in kami mampir dulu ke geray
minuman untuk membeli beberapa
botol minuman serta makanan kecil.
Di kamar hotel, kami ngobrol biasa
sambil minum. Aku membantu
meracik minuman juga menyalakan
rokok untuk Sony. Kulihat Adam
sudah sempoyongan, oleh sebab itu
aku membiarkan ia untuk tidur.
Sementara, Sony, masih tetap tegar
dan asyik bercerita soal
pekerjaannya sebagai account officer
d salah satu bank di ibukota.
Bau alkohol memancar dari mulut
Sony.
Terus terang, aroma itu membuatku
terangsang. Sekonyong-konyong aku
mendekap tubuh Sony dan segera
melumat bibirnya. Awalnya dia
tampak terkejut dengan kejadian
yang mendadak itu. Aku memang
cuma sebentar melumatnya. Hanya
kumaksudkan sekadar sebagai shock
therapy buatnya. Selanjutnya kami
bersikap seolah tidak ada apa-apa.
Aku takjub dengan daya tahan Sony
minum alkohol. Bayangkan, dua
setengah botol dry gin murni
dihabiskan sendiri. Padahal, di
karaoke tadi ia juga sudah minum.
Oleh sebab itu, tidak heran, apabila
Sony kemudian ng-joprak – muntah-
muntah. Wah, terpaksa ku
bangunkan Adam dari lelap tidurnya,
untuk membantu mengangkat tubuh
Sony yang berdimensi 175/70 itu.
Kami membersihkan muntahan Sony
yang berceceran di karpet. Kemudian
memindahkan tubuh Sony yang
tergelatak di lantai ke atas dipan.
Sony mabuk berat.
Dengan pertolongan Adam, aku
membuka kemeja dan celana
panjang Sony. Agar dia lebih nyaman
berbaringnya. Kemudian, kulihat Sony
hanya tinggal mengenakan celana
dalam saja. Di atas dipan tergolek
sosok jantan Sony, dengan sebuah
tonjolan besar membayang dibalik
celana dalam yang dipakainya.
Didasari keingintahuan melihat
sesuatu yang tersembunyi itu maka
aku melepas sekalian celana dalam
Sony. Astaga, aku hampir terpekik
kaget, menyaksikan bentuk
kemaluan Sony yang besar,
menyeruak dari gundukan hitam
pubic-nya yang lebat. Saat itu, aku
tidak bisa menahan diri lagi untuk
tidak berbuat sesuatu.
Tanpa membuang waktu lagi aku
segera menelungkupkan wajah di
atas selangkangan Sony. Tercium
wangi aroma kejantanan pria yang
menebar dari wilayah itu, makin
membuat gairahku melambung.
Perlahan kujulurkan lidahku untuk
menjilat dan mengulum kemaluan
Sony, sambil meremas-remas pubic-
nya yang ikal lebat itu. Tak lama
kemudian, kemaluannya mulai
terlihat meregang dan menampakan
bentuknya yang semakin
mempesona. Aku menjadi gila
dibuatnya. Dengan liar mulut dan
lidahku menjelajah seluruh lekuk
selangkangan Sony.
Sayup-sayup kudengar Sony mulai
melenguh, mendesah serta meracau
"..enyak..sshss..ogh..gglek.." seraya
memutar goyangkan pinggulnya.
Selanjutnya, disela getar dan
gelinjang tubuhnya kulihat Sony
menekuk lutut kakinya dan sedikit
menggangkat bongkahan pantatnya
yang gempal itu. Maka lidahku
dengan mudahnya menjelajahi
lingkar rectum-nya yang terlihat jelas
dikelilingi pubic. Cumbuan itu rupanya
membuat sensasi tersendiri bagi
dirinya.
Pada saat yang sama Adam juga
menelungkup di atas badan Sony.
Lidahnya bergerilya menyapu seluruh
lekuk badan atas dan wajah Sony.
Terkadang menghisap dan menggigit
puting Sony. Tidak jarang menyapu
bagian bawah lengan Sony yang
ditumbuhi bulu yang lebat itu. Dengus
tiga nafas kami semakin
mengaburkan kejelasan ucapan
Sony.
Aku melumasi lubang rectum-ku
dengan gel vaginal lubricant K-Y,
yang kubeli di apotik sebelumnya.
Demikian pula dengan batang dan
kepala penis Sony. Aku ingin di-insert
olehnya. Adam sedang melumat bibir
Sony, seraya meremas kedua dada
Sony, ketika aku mengarahkan
lubang rectum-ku ke penis Sony yang
tegak berdiri itu.
Kemudian, dengan sekali sentakan
seluruh batang penis Sony telah
tenggelam di dalam cengkraman
lubang kenikmatanku. Aku
mengalami kenikmatan yang luar
biasa saat batang kemaluan Sony
terasa melesat menelusuri liang
tubuhku.
Dari penuturan Sony sesudahnya, aku
mendengar bahwa ia merasakan
kehangatan dan sensasi yang hebat,
ketika penisnya sedang menjelajah
terowongan ass-hole.
Betapa ia merasa ada sesuatu yang
memilin, mencengkeram serta
menghisap batang dan kepala
penisnya. Menimbulkan rasa
denyutan dan senut-senut yang aneh
namun mengasyikan.
Apalagi ketika kemudian ia
memuntahkan erupsi lahar panas
asmara yang telah bergejolak di
kepala penisnya. Itulah sebabnya,
aku tadi sengaja – walaupun
berakibat resiko buatku – tidak
menggunakan kondom agar Sony
dapat merasakan secara langsung
sensasi persentuhan organ
kelaminnya dengan bagian dalam
tubuhku.
Ia tidak marah kepadaku. Bahkan
berucap terima kasih telah
mendapatkan pengalaman yang luar
biasa. Walau pada kalimat terakhir ia
tidak secara tegas mengucapkan hal
itu.
Namun, pandangan matanya telah
mengatakan lebih dari apa yang ingin
ia katakan secara lisan. Body
Language. Ya, bahasa tubuh. Sama
seperti saat ia menginginkan kembali
persetubuhan atau cumbuan itu.
Tidak perlu dengan kata atau kalimat.
Cara ia menatap dan gerak tubuhnya
sudah berbicara ketika ia minta
tambah. Aku bisa menangkap bahasa
isyarat-nya. Tak lama kemudian kami
sudah bergumul kembali. Saling
dekap dan pagut memintal hasrat
birahi yang menggelora.
Akan halnya dengan Adam, ia
sahabat terbaikku. Kami sudah biasa
berbagi cinta – three some. Dengan
cara demikian, selain melakukan
persetubuhan kami juga dapat saling
melihat dan merangsang. Menurutku
bercinta bertiga lebih memberikan
kenikmatan. Sebab kami dapat saling
membantu satu sama lain.
Sesudah pergumulan itu, kami tetap
berlaku biasa seperti halnya kaum
hetero lainnya. Sony memiliki gadis,
demikian pula aku dan juga Adam.
Semua berjalan wajar.
Percintaan dan persetubuhan sejenis
bertalian dengan organ tubuh yang
paling rahasia, tentunya hal ini
menjadi sangat pribadi sekali.
Terkadang kita tidak memperhatikan
hal ini hanya karena merasa berasal
dari gender yang sama. Sehingga
menganggap remeh masalah
kebersihan tubuh.
Pengalaman membuktikan, salah
satu sebab gagalnya hubungan yang
lebih intens karena masalah
kebersihan tubuh. Karena itu, yang
paling penting adalah senantiasa
menjaga sanitasi tubuh agar tetap
higienis dan siap saji. Sebab, hanya
karena masalah tersebut bisa saja
appetite seseorang langsung hilang.
Namun dapat juga terjadi, sikap yang
terlalu menjaga image soal
kebersihan dan penampilan
menjadikan figure kelakian
seseorang menjadi hilang.
Seorang lelaki menjadi kelihatan
lebih perempuan dari yang
perempuan. Sesungguhnya. hal
seperti ini, biasanya tidak terlalu
disukai oleh penikmat lelaki. Salah
satu alasan bercinta dengan sesama
lelaki karena mengharapkan sensasi
sensualitas seorang lelaki. Bukan
perempuan.
Karena itu, bersikap seperti seorang
perempuan untuk memikat seorang
lelaki, sebenarnya, malah merusak
esensi ke-gay-an itu sendiri. Be a
man as you are a man. Itu menjadi
sebab lelaki yang feminim tidak
terlalu suka bercinta dengan yang
feminim juga. Hilang sensasi kelakian
yang didamba.
Rambut sebaiknya berpotongan rapi
dan dijaga jangan sampai bau apek.
Telinga agar sering dibersihkan
sehingga tidak terlihat kotoran tepi
daun atau menggumpal di lubang
telinga.
Kebersihan gigi dan mulut perlu
mendapat perhatian. Sehingga tidak
menebarkan aroma yang aneh. Bulu
ketiak sebaiknya dijaga
kebersihannya dan tidak
menggunakan pewangi artificial
berbau menyengat, yang malah akan
semakin membuat aroma tubuh
menjadi tidak karuan.
Lebih baik menjaga kebersihan
badan dan pakaian daripada
menutupinya dengan kamuflase
pewangi buatan. Tentu saja, akan
lebih baik apabila aroma di luar dan
dalam sama wangi dan bersih.
Apabila kemaluan Anda tidak disunat
maka glans penis selayaknya sering
dicuci. Untuk membuang smegma
yang menimbun di lingkar glans
tersebut. Demikian pula dengan bulu
pubic yang juga menuntut perawatan
dan perhatian. Artinya, selalu
dikeramas supaya tidak bau karena
lembab. Biasakan mencuci scrotum
dan rectum sampai bersih dengan
sabun. Jika perlu dibilas pula dengan
larutan disenfektan semacam dettol.
Kaki dijaga kebersihannya agar tidak
berbau. Demikian pula dengan
kukunya.
Terakhir adalah memberikan
perlindungan tubuh dengan
pemberian vaksin anti hepatitis B,
apabila anda belum memilikinya.
Gunakan kondom dan 'selektif' tidak
asal mau sama siapa saja. Terlebih
apabila anda seorang recipient atau
bottom tipe.
Kecenderungan yang terjadi pada
komunitas ini adalah berganti-ganti
pasangan berkelamin (promiscuity).
Itu sah-sah saja. Namun, hendaknya,
tidak dilakukan dengan ceroboh.
Mengingat akibat akhir yang akan
ditanggung nantinya. Misalnya,
tertular penyakit kelamin atau kulit.
Yang lebih menakutkan adalah
terkena HIV.
Disini aku cuma ingin berbagi
pengalaman dan pengetahuan. Tidak
pula aku bermaksud menggurui.
Utamanya kisah ini ditujukan bagi
para pendatang baru komunitas
penggemar seks sejenis.
Aku pernah mengalami perasaan dan
ketakutan yang sama untuk bertanya
kepada orang lain perihal serba-serbi
penyimpangan orientasi seks.
Biasalah, soal martabat dan
kehormatan diri. Apalagi masyarakat
luas masih menganggap hal ini
sebagai sesuatu yang nyleneh, yang
lebih tepat disebut sebagi aib atau
cela. Karenanya harus ditutupi.
Begitulah, setidaknya, menurutku,
masyarakat punya andil dalam
membentuk komunitas kita menjadi
munafik.
Ada lagi pengalaman lain, dengan
Aldi. Aku harus berterima kasih
kepadanya. Ketika ia
mengingatkanku perihal penyakit
kulit yang diindapnya. Mulanya aku
tidak tahu, kalau saja ia tidak
bercerita soal rasa 'kegatalan' di
daerah lipat pahanya. Sehingga
ketika aku akan felatio (blow job)
kepadanya ia mencegah. "Jangan..
deh aku lagi gatal.." Untungnya aku
sempat mendengar ucapannya itu.
Kemudian aku nyalakan lampu yang
tadi kupadamkan. Di tengah nyala
pendaran lampu kulihat tubuh twiggy
Aldi tergolek bugil dengan
kemaluannya yang lumayan besar.
Glans-nya mengkilat menyeruak dari
kulit kulupnya yang tidak di
circumcisi. Warna kulit tubuhnya yang
putih memberikan kontras yang
bagus dengan pubicnya yang
berwarna jelaga.
Aku menelungkup lagi ke arah
selangkanganya guna melihat lebih
dekat. Kulihat ada lesi kulit primer
berupa lepuh-lepuh kecil berisi cairan
jernih dan berkelompok – istilah
medisnya adalah vesikel – yang ada
di sekitar pangkal batang penisnya.
Bagi Aldi, rasanya gatal dan panas
seperti terbakar.
Dari literature, aku menjadi tahu
kalau itu adalah penyakit herpes
simpleks, yang dapat juga ditularkan
oleh kontak orogenital. Menurutku,
kondisi tubuh Aldi saat itu tidak layak
untuk suatu hubungan badan.
Karenanya aku membatalkan
sepihak. Untungnya, Aldi menyetujui
juga. Untuk hal ini, aku berhutang
budi pada Aldi yang telah
menyelamatkanku dari tertular
penyakit herpes-nya itu. Malam itu,
akhirnya kami tidak melakukan apa-
apa.
Sesudah kencan yang gagal – tapi
malah aku syukuri – itu aku meng-
copy-kan literature soal penyakit
tersebut serta memberikan saran
pencegahan dan penyembuhan –
termasuk obat untuk
penyembuhannya. Puji tuhan,
penyakitnya sekarang sudah sembuh
dan Aldi sudah sehat kembali.
Lain lagi kisahku dengan Juan, juga
seorang hetero. Selain
mengundangnya ke rumahku aku
bersama Adam juga biasa
melakukan kencan dengannya di
hotel. Memang dari segi biaya
menjadi high cost. Namun kemahalan
itu menjadi impas apabila
dibandingkan dengan privacy yang
didapat.
Bagaimanapun aku harus melindungi
juga nama baik dan kehormatan
Juan di mata rekan gaulnya. Bahwa
ia tetap seorang yang dikenal
badung, cuek dan jauh dari kesan
anak mami seperti kebanyakan
streotype penikmat seks sejenis yang
aku temui.
Kami sama-sama punya kebutuhan
menyalurkan hasrat seks yang
menggebu. Semacam hubungan
simbiosis mutualisma, itulah yang
menjadi komitmen awal dari
perhubungan ini.
Juan langsung merebahkan tubuhnya
di tempat tidur, begitu kami chek-in
di sebuah hotel. Ketika aku dan
Adam membukakan pakaian dan
celananya ia tetap bersikap
kooperatif. Sehingga kami tidak
mengalami kesulitan yang berarti.
Benar saja, ketika celana dalamnya
kulepaskan nampak kemaluannya
sudah menegang keras seolah
hendak mengatakan say hello
kepadaku. Aku menjilat glans-nya
yang sudah merah mengkilat itu.
Juan tersenyum. Wouw,
pandangannya sangat mengundang.
Aku segera bangkit dan melepas
semua pakaian yang melekat di
tubuhku, demikian pula Adam,
sehingga Juan dan kami menjadi
sama-sama bugil. Tapi kami tidak
ingin segera main meskipun kami
tahu Juan sudah menginginkannya.
Dia berbaring terlentang dengan
menyilangkan kedua tangannya
dibelakang kepalanya. Sangat seksi
penampakannya dalam posisi seperti
itu. Kulit tubuhnya yang putih bersih –
tipikal kulit etnis seberang – di warnai
dengan aplikasi warna hitam bulu
ketiak yang tumbuh lebat bagaikan
genggaman sapu ijuk serta deretan
bulu pubic yang menjalar dari bawah
pusar memenuhi episentrum di
pangkal pahanya. Amazing.
Terus terang, aku paling suka sekali
menghirup aroma bulu ketiak. Buatku
aroma ketiak Juan begitu dahsyat
sehingga mampu membakar hormon
testoteron-ku.
Kehebatan Juan adalah ia tidak
memerlukan pewangi artificial yang
malah akan membuat diriku mual.
Beruntung sekali, aroma tubuh Juan
termasuk 'sopan' sehinga tidak perlu
di-kamuflase dengan sapuan
pewangi tubuh. Akupun menjadi
bebas menjelajah tanpa takut
terkena alergi kontaminasi parfum
dan sejenisnya.
Aku harus berterima kasih kepada
Adam, yang banyak membantuku
dalam segala hal. Termasuk dalam
urusan bercinta. Tanpa dia, aku
kewalahan untuk menyelesaikan
percumbuan itu.
Harus diakui, Adam adalah pemain
cinta yang hebat. Pada dirinya
tergabung totalitas, kekuatan dan
strategi bercinta. Dengan Adam, aku
dapat bebas melakukan three some,
saling bahu membahu, membuat
patner seks kami mencapai kepuasan
persetubuhan sejenis.
Coba deh, kebayang gak sih,
nikmatnya, apabila kamu dicumbui
oleh dua atau tiga orang sekaligus
dalam waktu yang bersamaan. Pada
saat puting susumu dihisap-hisap,
penismu juga merasakan sedotan
cinta yang sama, dan asshole-mu di-
insert atau di-rimming.
Semua memberikan efek denyutan
birahi yang tidak akan dapat
dilukiskan dengan kata-kata, kecuali
mempersilahkanmu untuk
membuktikannya sendiri.
Sony, Aldi, maupun Juan, hanyalah
sekian dari beberapa nama dari
mereka yang pernah berpetualang

cinta dengan kami. Sampai saat ini
dan seterusnya pun Anda tidak akan
pernah tahu siapa sesungguhnya
mereka.
Seperti itu pula kami akan melindungi
privacy Anda apabila bercinta dengan
kami. Begitulah kode etik yang kami
jalankan. So, bercinta sejenis, siapa
takut? Anda berani menerima
tantangan?
TAMAT

Kamis, 19 April 2012

mirip mario

katanya ini mirip mario..tapi bukan yaa....coba saja klo mario hehehheeee.......


first time masukin video....
video

Duh Lekuk Tubuhnya



Sebut aja namaku Dimas, aku saat
ini berusia 20 tahun dan kuliah di
salah satu PTN ternama di Sby.
Walaupun sekarang di saat aku
menulis ceritaku ini, aku sudah
kembali ke jalan yang benar, aku
ingin berbagi cerita nyata
pengalamanku dulu ketika aku masih
menjadi seorang bisexual dan tertarik
terhadap sesama jenis.
Aku mempunyai seorang sahabat
sejak SMP, panggil aja dia dengan
nama Rio. Kita berdua begitu dekat
seperti layaknya saudara. Kita sering
curhat satu sama lain.walaupun kita
sama-sama jantan dan normal tapi
entah mengapa diantara kita timbul
adanya suasana saling memiliki yang
begitu dalam. Kala itu aku
mempunyai cewek dan aku ada
masalah dengan cewekku itu, lalu
aku curhat dengannya dan selalu dia
bisa memberikan solusi terbaik
buatku dan aku masih dapat
berpacaran dengan cewekku itu.
Pada suatu ketika aku bertanya
kepadanya, "selama ini aku lihat,
kamu kok belum punya pacar seh?"
"Males ah..", dia menjawab
sekenanya. "nagapain juga males,
kan kamu bisa punya seseorang
terdekat yang kamu sayangi, keibuan
dan bisa perhatian serta ngasih
support ke kamu?", tanyaku. "Ah,
percuma! Mana mau cewek sama
aku?", katanya merendah. "alah,
kamu gak usah sok merendah
gitulah..!", selaku. Kuakui, dia emang
orangnya cuek.
Namun, dibalik sikapnya yang cuek,
terpendam sebuah aura yang begitu
mempesona.Dengan postur tubuh 178
cm dan berat 65 kg, dia terlihat
begitu sexy. Kulitnya yang sawo
matang, dadanya yang bidangdan
perutnya yang rata, membuat dirinya
terlihat begitu mempesona dan
menggairahkan bagi cewek yang
melihatnya. Aku yakin gak ada
cewek yang gak suka ama dia,
mungkin dianya aja yang gak mau
terikat dengan suatu hubungan yang
disebut dengan pacaran. Dia selalu
mementingkan diri sendiri selama ini.
Dia selalu larut dalam hobinya main
basket dan sepakbola yang sama
seperti aku, namun aku tidak
sebegitu gila dengan olahraga itu.
Mungkin karena hobinya itulah yang
membuat dia memiliki tubuh yang
aduhai..
Pada suatu ketika, dia minta ijin aku
untuk tidur di rumahku. "Mas, ntar
aku tidur di rumahmu aja ya?",
pintanya. "Ngapain juga kamu minta
ijin segala?, kamu kan biasanya tidur
sini?" jawabku di telepon. "ah, kamu
gak usah sok sopan gitulah, biasa aja
napa?", jawabku. "ya iya, tapi aku
lagi butuh kamu nih?", katanya.
"Butuh apaan?, kamu ada ,
masalah?", tanyaku. "Udahlah,
ceritanya panjang, ntar aku ceritain
aja kalo aku sampe di rumahmu,
thanx yah..?", dia langsung menutup
teleponnya.
Jam, menunjukkan pukul 20.05,
terdengar suara bel rumahku
berbunyi, kuintip dari sela jendela
dan tampaknya dia sudah datang.
Dengan membawa tas yang
menggantung di punggungnya, dia
menungguku untuk membukakan
pagar. Langsung aja aku bukakan
pagar dan mempersilahkan dia
masuk. Kulihat raut wajahnya
berbeda daripada hari-hari biasanya,
"kenapa kamu?", tanyaku memulai
pembicaraan. "Gak pa-pa tuh?",
sahutnya. "udahlah kamu gak usah
nutupin, dari mukamu aja udah
kelihatan kalo kamu lagi ada
masalah..", lanjutku. "Mending kita
ngobrolnya di kamarmu aja yah?,
gak enak kalo ada yang denger..",
pintanya. Lalu aku dan dia bergegas
menuju kamarku. Maklum waktu itu
kedua orang tuaku lagi ke luar kota,
karena ada sodara yang sakit, jadi di
rumah ini hanya ada adikku dan
pembantu.
"Kemana orang tuamu?, kok sepi?",
tanyanya. "Lagi ke Malang, ada
sodara papa yang sakit", jawabku.
Di kamarku dia langsung rebahan di
kasurku yang cukup besar. Dalam
hati aku bertanya kenapa orang
tuaku ngasih tempat tidur segini
gede? Dari sorot matanya, kulihat dia
memendam sebuah masalah yang
berat. "Ada apa Io, kamu keliatannya
kok ada masalah gitu?, mungkin aku
bisa bantu?", tanyaku.
Akhirnya dia cerita panjang lebar
berkeluh kesah kepadaku bahwa
orang tuanya baru saja bertengkar.
Ayahnya selingkuh dan
selingkuhannya telah hamil. Ibunya
jelas tidak terima dan minta cerai.
Apalagi selama ini, ayahnya tidak
memberikan nafkah yang rutin,
walau aku tahu bahwa di
keluarganya termasuk keluarga yang
mapan, bahkan jauh berkecukupan.
Dia cerita bahwa, ayahnya baru saja
terlibat cekcok dengan ibunya.
Ayahnya menampar dan memukul
serta menendang ibunya di depan dia
dan adik-adiknya.
Kulihat ketika dia bercerita, matanya
tampak berkaca-kaca. Akhirnya,
sosok yang aku lihat selama ini
begitu jantan dan berwibawa, bisa
juga larut dalam kesedihan dengan
mengalirnya air mata di pipinya yang
cekung dan rahangnya yang kokoh.
Dia menangis, dia tidak menyangka
bahwa ayahnya selama ini yang
begitu dihormati dan ia segani, tega
menganiaya ibunya di depannya dan
adik-adiknya. Kulihat dia membuka
tasnya dan mengeluarkan sebuah
botol minuman keras impor. "Apa-
apaan ini?, sejak kapan kamu coba-
coba minum gituan Io?", tanyaku.
Padahal selama ini, aku lihat dia
begitu bersih dari yang namanya
rokok apalagi miras.
Dia cerita sejak, masalah
keluarganya timbul, dia mulai coba-
coba miras dan akhirnya ketagihan
sampe sekarang. "Kamu mau?",
tawarnya. "yah, rejeki kok ditolak?",
jawabku. Emang dibanding dia, aku
lebih sering minum dan ngerokok.
Pikirku, karena udah lama gak
dugem ama temen-temen, mending
dugem aja di rumah sendiri. Apalagi
ortuku kan lagi pergi.
Akhirnya aku ikut juga menikmati
miras yang dibawanya. Setengah
jam kemudian, kepalaku terasa
berat. Aku mabuk dan dia juga
terlihat sama seperti aku. "Sexy
banget se kamu, Mas..", katanya.
Memang dengan posturku yang 179
cm dan 67 kg, bodiku terlihat sexy,
Walau kulitku tidak secoklat dia,
kulitku lebih putih memang dan
berotot walau tidak kekar-kekar
amat. Ini karena aku rajin berenang
dan fitnes di deket rumahku. Gak tau,
kenapa tiba-tiba hawa di kamarku
begitu gerah, langsung aja aku buka
kaosku dan kini tinggallah aku
dengan celana pendek tanpa CD.
"Gak kebiasaan pake CD, yah?",
tanyanya. "Emang..!", jawabku dalam
kondisi mabuk. Kulihat dia juga
merasa panas, padahal semua
jendela kamar sudah terbuka dan
angin semilir menerobos masuk, tapi
tetap aja panas dan gerah meliputi
kamarku ini.
Aku rebahan di sampingnya, kulihat
dia berdiri mulai melucuti kaosnya
yang berwarna hijau dengan motif
mobil VW di tengahnya, lalu dia
masuk ke kamar mandi yang ada di
dalam kamarku. Selagi dia ke kamar
mandi, ada rasa kantuk yg
menyerang. Aku akhirnya bergeser
lebih ke pinggir dan menghadap
tembok. Ketika aku terbuai dengan
rasa kantukku, sayup-sayup
terdengar deritan pintu kamar
mandiku terbuka. Aku tidak
memerdulikannya. Lama-lama aku
penasaran juga, ngapain tuh anak di
kamar mandi lama banget. Langsung,
aku membalikkan badanku dan
terlihat seonggok tubuh kekar yang
ramping namun begitu padat berisi
dengan kulit sawo matang dan
hanya mengenakan CD, Rio begitu
sexy dan eksotik.
Tak sadar, akhirnya kontolku mulai
menegang, Kulihat ada batang yang
begitu besar menyembul dari CDnya.
Rupanya dia terangsang juga melihat
keatletisan tubuhku. Lama juga kita
terpaku saling berpandangan.
Sorotnya begitu tajam, melihatku dari
ujung kaki sampai ujung rambut,
seolah-olah harimau yang siap
menerkam mangsanya.
Tiba-tiba dia langsung rebahan di
sampingku dengan hanya
menggunakan CDnya. Wajah kita
saling berhadapan dan bibirku dan
bibirnya hanya tinggal satu jengkal
lagi untuk menempel. Karena udah
saking ngantuknya, kupejamkan
mataku tak memerdulikannya. 5
menit kemudian, kurasakan ada
ciuman hangat yang selama ini
belum pernah aku rasakan
sebelumnya di bibirku.
Ketika kubuka mataku, kulihat dia
begitu bergairah melumat bibirku,
lidahnya bermain-main di dalam
rongga mulutku. Entah mengapa aku
begitu terbuai dengan kenikmatan ini.
Tak kusia-siakan kesempatan ini,
kubalas lumatannya dan aku peluk
tubuhnya. Lidahku mulai bergerilya,
ke lehernya, kupingnya, semakin
lama, makin turun dan kujilat puting
susunya yang coklat.
"Oooaahh.. hmm.. ouhh.. sshh.. sshh..
aahh", terdengar erangannya
membuatku semakin terangsang.
Kontolku yang sudah menegang
sejak tadi, akhirnya mengeluarkan
precum yang lumayan banyak.
Sampailah lidahku ke tempat
sensitifnya, kujilat garis pinggul di
bawah perutnya dan dia begitu
menggelinjang dan mengerang-erang
keenakan.
Dia menjambak rambutku, "ayoo,
Maass.. hisap kontolku.., aku uddaahh
ggak tahaann..". Tanpa dikomando
langsung aja kupelorot CDnya
sampai lepas semua. Dan kulihat
pemandangan yang selama ini hanya
kulihat pada diriku. Kontolnya begitu
besar dengan panjang kira-kira 23
cm dan diameter 4 cm, terlihat basah
juga dengan precum yang keluar
sama banyak dengan milikku. Begitu
mengkilat terkena sorot lampu kamar
dengan urat-urantnya yang tampak
jelas, langsung aja kulumat habis
sampai mulutku tak cukup karena
ukurannya yang begitu besar. "aahh..
eehhmm.. aahh.. oohh, Maass,
kammu begitu pandai", erangnya
sambil terus menjambak rambutku.
Aku lumat terus kontolnya dan dia
begitu kegelian. "oohh.., Maass..,
akhirnya dapat kurasakan hangat
mulutmu..", gerangnya. Kujilat juga
dan kusedot-sedot buah zakar alias
testisnya kanan dan kiri. Kubuka
pahanya lebar-lebar dan kujilat juga
anusnya dengan buas, kumasukkan
lidahku ke dalam anusnya. "oohh,
Mass..enaakk.. banggeett..",
celotehnya.
Rupanya dia juga ingin mencicipi
tubuhku, dalam sekejap dia sudah
nerdirri tegak di hadapanku. Kulihat
napasnya tersengal-sengal, tak
beraturan. Dia, telanjang bulat..!!
Dalam hati aku berkata,
"Duh..lekuknya..!!, indah sekali..,
begitu eksotik dan menggairahkan",
matapi kemudian dia bergumam,
"Sori, maafkan aku Mas. Aku telah
berbuat yang semestinya tidak kita
lakukan sebagai cowok normal..".
"Sudahlah, aku juga menikmatinya,
kok.., aku kan juga pengen ngerasain
tubuh seorang cowok, lagipula
cewekku akhir-akhir ini dingin sama
aku..", jawabku. "Tapi, kamu gak apa-
apa kan, Mas..??", tanyanya.
Tanpa banyak basa-basi, kulepas CD
yang masih menempel, dan akhirnya
kita berdua sama-sama telanjang
bulat bagaikan bayi yang terlahir
kembali. Dia tersenyum manis begitu
mempesona. Gantian dia sekarang
menindihku, mencumbuku,
merengkuhku dengan dekapannya
yang hangat. Bibirku dilumatnya lagi
habis-habisan, deru nafasnya dengan
aroma alcohol yang masih tersisa,
semakin membuat aku terlena dalam
buaiannya. Rupanya ilmuku
bercumbu mulai dia terapkan di
tubuhku. Setelah dia menggelinjang
kegelian, dia merasa gak enak kalo
gak buat aku menggelora juga dalam
lautan nafsu birahi ini, pikirnya.
Aku hanya bisa berdesah, dalam hati
aku berpikir bahwa
belum pernah
aku dicumbu seperti ini, dijilat,
dimanja seperti ini. "AAhh..
eehhmm..", gumamku. Tubuhku
menggelepar tatkala ia memainkan
lidahnya di lubang telingaku, lalu
turun ke leher kanan dan kiri.
Kepalaku terombang-ambing ke kiri
kanan menikmati kegelian ini.
Nafasnya terdengar terengah-engah
sampai-sampai tak ada satu
jengkalpun dari bagian tubuh atasku
yang tak luput dari jilatan mautnya.
Ternyata dia begitu lihai, membuatku
larut dalam permainan ini. Kurasakan
lidahnya sudah sampai di bagian
yang bagiku merupakan titik
lemahku, yaitu di garis pinggul di
bawah perut.
"Aaahh.., oohh..Rioo..!!, aku berteriak
sejadi-jadinya merasakan geli yang
amat sangat. Lama juga dia
memainkan lidahnya di bagian
tubuhku itu. Batang kontolku yang
dari tadi sudah menegang,
dipegangnya, dikocok-kocoknya.
Batang kontolku yang hampir
seukurannya, dia mainkan dan tiba-
tiba kurasakan dia mulai melahap
kontolku, maju mundur, naik turun
mulutnya mengulum benda pusakaku
ini. Terdengar suara basah dan becek
atas gesekan mulutnya dengan
kontolku. "aahh..Rio..kamu pintaarr
seekkaalii..!!", pekikku. Mendengar
eranganku ini, dia semakin buas.
Tapi, tiba-tiba kudorong kepalanya,
"Puaskan aku Rio, bikin aku bahagia
malam ini.Aku ingin benar-benar
mencicipi tubuhmu yang indah.",
kataku. "Jangan..!!gak..!!", tolaknya.
"Udahlah sayang, please..", pintaku.
Luluh juga akhirnya, dia merelakan
tubuhnya yang masih perawan untuk
aku nodai. Kubimbing ia untuk tidur
terlentang, sepertinya dia sudah
pasrah. Kubuka pahanya lebar-lebar,
kubasahi kontolku dengan air liurku,
pelan-pelan kutempelkan di duburnya
dan dengan sedikit tenaga, akhirnya,
blless..baru seperempat kontolku
masuk di duburnya, dia berteriak
kesakitan. "Jangaann, Mass..!!, Tega
sekali kamu..!!"."Ayolah,
sayang..nikmati aja..lama-lama akan
terasa enak", rayuku.
Lima menit kemudian, desahannya
mulai berubah. Dari yang tadinya
terdengar kesakitan, kini terdengar
dia begitu menikmati sodokanku.
Saking sempitnya lubangnya, aku
hanya bisa merem melek menahan
nikmat yang ternyata tak beda jauh
dengan lubang milik cewekku.
Kontolku maju mundur, clleep..
cclleepp.. clleepepp..terdengar suara
becek gesekan kontolku di
duburnya.."Ooohh, Maass..nikmat
sekalii..", rintihnya.
"Teruuss, Maass..lebih daleemm..",
pintanya. Kutarik, keluar kontolku dan
langsung kuhunjamkan keras-keras
ke duburnya seiring teriakannya
menahan sakit sambil meringis.
Dipegangnya pantatku yang padat
dan ditariknya, dimaju
mundurkannya sehingga kini
kontolku yang 23 cm dengan urat-
urat yang juga menghias, dapat
terbenam masuk semua ke
duburnya."Ioo.., aku mau keluar..",
kataku. Rupanya dia tidak
menghiraukan, 7 menit kemudian
tiba-tiba kurasakan seluruh tubuhku
bergetar, sendi-sendiku terasa lepas,
sukmaku terasa lepas melayang ke
langit ketujuh, dan akhirnya
crroott..croott..crroott air spermaku
keluar di dalam duburnya, langsung
kucabut keluar dan kusisakan sedikit
di luar."aahh..oohh..", pekikku.
Kucium lembut bibirnya, pipinya
lehernya. Terlihat matanya begitu
hangat dengan sorotnya sambil
tersenyum, dia membalas pagutanku.
Dia mengelus rambutku, merangkul
pundakku. Kutindih badannya, kita
saling berpelukan seolah jiwa kita
menyatu.
"Makasih ya Io, kamu telah
memberikan kesan mendalam
bagiku", kataku. "Sama-sama..", kamu
juga telah mengurangi perasaan
sedihku malam ini. Tak adil rasanya
kalau tidak kupuaskan juga dirinya.
Kontolnya yang masih ngaceng,
langsung aku raih, aku kocok-kocok
dan aku lumat dengan mulutku.
Saking begitu besarnya dan aku
paksakan masuk semua, terkadang
terasa aku mau muntah, untungnya
masih bisa kutahan. 10 menit
kemudian, "oohhmm.. eehhmm..
aahh.. yyeeaahh, Maass.. terruuss",
akkuu maauu keluuaarr..", rintihnya
menahan nikmat. Semakin liar aku
melumat kontolnya yang lama-lama
makin mengeras dan aahh.. oohh..
dia berteriak diiringi cairan
spermanya yang begitu banyak di
mulutku. Langsung aja aku telan
habis dan masih kulanjutkan
lumatanku, kusedot habis spermanya,
kujilat hingga bersih seluruh miliknya,
Tak lupa, buah zakarnya yang
menggantung padat.
Aku berbaring disebelahnya..dan
tanpa sadar..kita tertidur. Keesokan
paginya dengan keadaan kita yang
masih telanjang bulat, dia berkata
"Mas, maafkan aku..!!". "tadi malam,
aku telah merusak jiwamu.." Sambil
menghela napas panjang, aku
berkata "Kita impas, kita saling
mengotori diri kan ..??, semoga ini
menjadi yang pertama dan terakhir
bagi kita". "yah, sebaiknya begitu",
jawabnya. Dia mengatakan bahwa
ketika dia tadi bangun, dia merasa
menyesal telah berbuat ini semua
dan aku juga merasa aku telah
mengkhianati diriku, aku telah
menginjak-injak kodratku sebagai
laki-laki.
Sejak saat itu, kita berjanji tidak
akan pernah mengulanginya lagi.
Seminggu lamanya, aku tidak
berjumpa dengannya. Tak ada kabar,
telepon, bahkan SMS darinya.
padahal biasanya tak pernah luput
komunikasi antara kita. hari-hari
berlalu dan akhirnya aku kedatangan
sesosok yang telah akrab denganku.
Rio kembali. Dia datang berdua
dengan ceweknya. Dia mengenalkan
ceweknya yang ternyata sahabat
cewekku juga. Aku begitu bahagia,
dia telah menemukan cinta sejatinya.
Aku sungguh bahagia dan kangen
dengan canda tawa bersamanya,
gurauanku, makianku terhadapnya
yang dulu sering terlontar.
Kudengar ternyata ayahnya sudah
menceraikan ibunya, walau mereka
masih saling bertemu. Ayahnya lebih
memilih hidup dengan kekasih
gelapnya, namun ibunya kini menjadi
pengusaha katering ternama di
Surabaya ini.
Sampai saat ini, aku masih berteman
akrab dengannya, walau intensitas
kita bertemu tidak sesering dulu
karena kita beda kuliah, namun tiap
malam minggu kita selalu pergi
berempat. aku ama cewekku dan dia
dengan ceweknya, kita jalan bareng,
nonton bareng, maem bareng main
timezone bareng dan playstation
bareng. semuanya masih sama
seperti yang dulu, namun aku
bersyukur. Dia telah menyelamatkan
aku dari lembah hitam gay, yang
hampir aku terjerumus ke dalamnya.
Aku bersyukur telah memiliki seorang
sahabat, bahkan lebih dari saudara
sekalipun yaitu Rio.
TAMAT