Selasa, 03 April 2012

Nikmatnya tukang kebun ku


Aku seorang bujangan beruntung. Jenjang karirku di sebuah perusahaan perminyakan maju pesat. Dua bulan pertama bergabung di perusahaan ini aku telah melampaui target pemasaran yang ditetapkan manajer. Sebuah mobil Inova sekarang sudah menjadi inventarisku. Bulan kelima mobilku diganti dengan sedan Honda (aku tidak berniat menyebut jenisnya, sekarang aku masih memakainya). Tepat setahun, setelah mendapat bonus tahunan yang nilainya ada 7 angka nol.

Sebulan kemudian aku naik pangkat tetapi pindah di daerah ditambah sebuah rumah inventaris. Semula aku menolak karena aku sendirian, lebih baik kost pikirku. Tapi pimpinan tidak setuju karena tidak sesuai dengan visi perusahaan dalam menyejahterakan karyawan. Setelah sekali aku melihat rumah itu, aku langsung setuju untuk menempatinya. Rumahnya terletak di perumahan elit di kota dengan tetangga kanan kiri minimal pemilik perusahaan.
_______________


==============
Usaha selalu usaha. Kerja keras dalam arti harafiah sudah jadi nafasku. Semenjak masih balita aku sudah mencuci bajuku sendiri di kali bersama emak. Remaja sambil bersekolah SMP yang ada di balik gunung, aku harus mencari rumput dan kayu bakar untuk kebutuhan ternak dan rumah tangga. Lulus SMP aku diikutkan bu Lik yang jadi pembantu di kabupaten. Bertahan satu tahun aku kemudian ikut tetangga menjadi kondektur angkutan pedesaan.

Tak lama kemudian ada rombongan dari desa yang bekerja sebagai buruh bangunan di Jakarta. Aku ikut bekerja untuk berdirinya beberapa gedung pencakar langit dan mall. Bekerja di bangunan aku tidak bisa mengumpulkan hasil akhirnya aku kembali ke desa dan sempat menganggur. Sambil mencari pekerjaan lain, aku mencoba mengembangkan hobi menanam tanaman hias. Suatu ketika ada orang kota yang memborong, uang itu aku jadikan modal untuk mencari tempat berjualan tanaman hias. Selain berjualan sekarang aku menerima proyek pembuatan taman dan perawatan.
===============
_________________
Dua bulan pertama aku mulai beradaptasi dengan kesendirian. Selama tidak ada keperluan keluar bersama customer aku lebih suka di rumah mengumbar segala fantasi liarku, sendiri. Kini aku sudah biasa bertelanjang bulat di rumah. Pernah sekali ada bibi tetangga yang usil melongok lewat atap rumah tetangga. Waktu itu aku sedang berenang di kolam belakang. Tapi kemarin kabar itu telah kudengar hingga warung rokok dekat satpam sana. Dasar tukang gosip!

Bulan pertama dan kedua sempat sesekali aku bersihkan sendiri seluruh taman. Tetapi sebulan setelah musim penghujan ini aku tak sanggup lagi. Rumput liar di mana-mana. Kalau begini harus ditangani ahlinya, tukang taman. Kini mengendarai sedanku aku melambat dan berhenti di sebuah penjual tanaman. Paling tidak dia pasti tahu di mana tukang taman.
__________________



================
Selain koleksi tanaman mahalku semakin banyak dan beragam, maka bisnis perawatan taman pun berkembang. Aku punya Tejo dan Parno sebagai asistenku. Tetapi saat musim hujan begini mereka juga kewalahan memenuhi jadwal pembersihan. Terkadang aku terpaksa harus turun tangan ikut membantu. Sementara ini pembuatan taman baru aku tolak. Sebetulnya sayang, namun daripada kacau atau pelanggan tidak puas.

Sebenarnya aku sudah menelepon Pak Lik minta tolong mencari tenaga desa yang mau jadi tukang taman. Tapi para pemuda di kampung sudah sedikit, banyak yang berangkat ke Malaysia dan Brunei jadi TKI.

Sampai sekarang aku masih sendiri. Belum satu gadis pun yang aku rasa cocok denganku. Terkadang aku ditanya apakah aku suka wanita atau tidak. Tubuhku dan sifatku memang lelaki, namun belum satu wanita pun yang bisa membuat aku greng (ngaceng) gitu. Yu Jamu yang berkebaya dengan dada rendah tidak terlalu menarik minatku. Malah aku lebih senang kalau melihat Tejo dan Parno mandi bersama. Kontol mereka yang panjang membuatku greng apa lagi kalau memergoki mereka sedang saling mengonani kontol. Rasanya ingin ikut, tapi kan aku jauh lebih tua dan pimpinan mereka lagi.
==================

____________________
Aku turun dari mobil dan mulai mengamati beberapa pot bunga. Aku berjalan-jalan sambil menunggu pemiliknya muncul. Aku tertarik bunga Euphorbia yang bunganya bisa bertumpuk tumpuk. Ada juga beberapa bonsai Ficus yang mirip wanita tidur.

"Bisa dibantu pak?" tanya suara di belakangku.

Ahh pemilik toko tanaman ini mungkin. Wajahnya langsung menarik perhatianku, ketampanan khas pemuda desa. Mungkin seumuran denganku atau lebih tua sedikit. Mengenakan celana pendek hitam dengan kaus yang sudah digunting tangannya. Bisepnya terbentuk baik mungkin sering latihan angkat beban juga.

"Oh ya, saya butuh tukang taman untuk merawat taman rumah, apa mas tahu?" tanyaku

"Ada pak. Saya biasa merawat taman di perumahan elit." katanya langsung berpromosi.

Ah senyumnya manis ada lesung pipit di wajah jantan itu. Kulitnya kecoklatan terbakar matahari. Dan, yaa dadanya mengkilat karena keringat. Tampaknya dia sedang bekerja cukup keras dan menguarkan ah .. bau keringat pria. Aku suka.
__________________

================
Ah itu dia tampaknya pelanggan pertama hari ini datang. Seorang pria dengan kaus ketat dan kacamata hitam. Celananya jins warna terang. Pria yang bersih dan berbau harum saat kudekati.

"Apa ada yang bisa saya bantu pak?" tanyaku.

Dari balik kacamata hitam tampaknya pria itu mengamatiku. Aku suka badan pria ini. Dia kekar, bersih dan terang. Tampak dia orang kantoran berduit padahal masih muda. Ah, beruntungnya dia.

"Saya butuh tukang taman, apa ada?" katanya berbalik tanya.

Ah sewaktu berbicara pun nafasnnya harum.

Lalu dia kuajak ke gubuk tempat aku tinggal untuk merundingkan tentang waktu dan biaya. Aku jadi ingin menangani proyek ini sendiri. Entah kenapa aku agak tertarik dengan pria ini. Mungkin aku tertarik dengan kesuksesannya. Aku ingin seperti dia.
==============
________________
Masuk ke gubuknya yang sempit. Ruang tamu merangkap ruang resepsionis dan ruang pelayanan pelanggan. Kubuka kacamata hitamku. Ruangan dibuat seadanya. Bahkan sebelum aku duduk, si pemilik toko tanaman sempat merapikan sarung dan beberapa celana dalam kotor yang bertebaran di sana sini. Dia tampak malu dan sungkan.

Akhirnya kami berbincang duduk berhadapan. Tampaknya dia memang seorang profesional di bidang pertamanan. Dengan beberapa referensi pengerjaan yang ditunjukkan dan juga biaya yang tidak terlalu mahal akhirnya aku setuju dia untuk mengerjakan tamanku. Kami menentukan hari pada waktu ada hari libur kejepit. Karena menurutnya minimal dia perlu waktu 2 sampai 3 hari untuk mengerjakan tamanku yang cukup luas itu. Aku minta dia langsung yang mengerjakan, jangan orang lain. Aku tidak mau hasilnya melenceng dari yang dipromosikan. Aku tidak ingin repot mencari tukang taman dua bulan sekali.

Ripin (nama aslinya Arifin) dan aku bertukar nomor hape untuk mempermudah komunikasi berikutnya. Akupun permisi pulang. Tapi tiba-tiba sebelum berpisah keinginan untuk memegang beberapa bagian berotot milik Ripin tak dapat kutahan.

"Oh ya Pin, sekalian aku dibawakan Euphorbia merah di sana itu. Pilihkan yang bagus ya" sambil menunjuk tangan kananku memegang pundaknya dan mendekatkan tubuhku ke tubuhnya. Tapi aku tak mau berlama-lama karena kontolku tiba-tiba langsung mengeras minta diremas.
________________

==============
Di dalam rumah kujelaskan segala sesuatu tentang perawatan tanaman dan biaya yang dibutuhkan. Banyak yang dia tidak mengerti tentang taman. Mungkin dia orang kaya baru. Tetapi karena aku suka orang ini aku tidak mau memberi harga yang terlalu mahal. Harga yang kuberikan malahan 75% dari harga standar perawatan. Dan yang aku senang dia setuju. Hatiku teriak 'hore!' sewaktu dia dan aku sepakat tentang waktu.

Satu lagi yang membuatku senang, Pak Robby-nama pelanggan itu, orangnya bersahabat dan tidak angkuh seperti penampilan awalnya. Aku senang merasakan hangat dan wangi tubuhnya yang berotot. Ingin rasa memeluk tapi sepertinya kurang sopan. Jadi kutahan. Lagian Pak Robby hanya memeluk sebentar untuk menunjukkan bunga yang diinginkan.
===============

_________________
Sekitar jam 8 malam hari minggu itu. Seperti biasa aku online untuk membalas beberapa email dan mengecek friendster. Plus seluncur di beberapa situs-situs gambar pria telanjang. Situs favorit adalah situs yang menampilkan pria-pria sexy yang berotot. Tut...tutut (tidak menggunakan 'i'), sms masuk. Kulihat nama di paling atas RIPIN KEBUN.
_________________

===============
Tadi sore menjelang maghrib saat hari masih cukup terang, Tejo dan Parno mandi bersama lagi. Kamar mandi kami ada di bagian belakang rumah, bersebelahan dengan sumur sumber air untuk menyiram.Atapnya terbuka dan segala tampak jelas dari jendela kamarku di lantai atas.Mereka sekarang sudah lebih berani. Bukan sekedar saling ngocok lagi. Kali ini Tejo sudah ditusuk oleh si Parno. Terasa deg degan menyaksikan adegan mereka. Mungkin tiap malam mereka melakukan persenggamaan sehingga mereka lebih maju dalam ilmu seks.

Ada keraguan tersendiri. Ingin menegur mereka karena yang mereka lakukan itu tidak wajar. Tapi jauh di lubuk hati aku tidak mau munafik karena aku menikmati yang mereka lakukan. Aku suka dan tidak ingin mereka berhenti melakukannya. Hampir dua jam aku risau dan ingin berkonsultasi dengan seseorang yang cukup pintar tapi tidak terlalu dekat.

Ah, kenapa tidak kucoba menelepon Pak Robby saja? Mungkin dia punya saran tentang hal ini. Tapi bagaimana memulainya ya? Sepertinya terlalu panjang untuk dijelaskan melalui telepon , pasti banyak pulsa. Lebih baik aku sms saja.

PAKABAR P ROBBY? INI RIPIN. SY MO BRTAHU KLO BUNGA BP SUDAH SAYA PISAH SENDIRI. DAN SKRG SY ADA MSLH. BLH TDK KLO MINTA BANTUAN?

Dalam beberapa menit smsku sudah dibalas:
BANTU APA? PERLU UANG MUKA ATAU UNTUK BUNGA?

Lalu kubalas lagi:
BUKAN ITU! SY MHN INI BP SAJA YG TAHU. BGMANA CARA MENEGUR BAWAHAN YANG SALAH SPY MRK TDK TERSINGGUNG BERAT?

Pak Robby lalu membalas:
OO.. ITU. GAMPANG! BICARA 4 MATA. KATAKAN KESALAHAN, BILANG KALAU KM TDK SUKA. BILANG SPY MEREKA TIDAK ULANGI.

Pak Robby belum memberi penyelesaian:
BKN BEGITU PAK. MRK SALAH TAPI SY SUKA KESALAHAN ITU. SY BINGUNG.
===============

_________________
Rupanya sms Ripin yang membahas masalah manajemen. Setelah beberapa kali kubalas, aku jadi tambah bingung dengan maksudnya. Akhirnya kuputuskan untuk menelepon membantunya. Mungkin dia tidak punya banyak pulsa untuk menelepon, aku harus maklum.

"Bagaimana Pin, kok malah jadi bingung" kutanya Ripin di ujung telepon.

"Begini Pak. Ah, saya harap Bapak menyimpan rahasia ini ya.. "

"Oke. Langsung ke masalahnya saja Pin." kataku memotong.

"Anak buah saya kumpul kebo, ah bukan, kumpul apa sih namanya kalau laki sama laki.."

"Ha.. maksudmu anak buahmu melakukan praktek homoseks, begitu?"

"Nah itu pak. Apa .. homo apa?"

Ripin menjelaskan kejadian tadi sore cukup rinci (BACA: Cerita Ripin). Ini membuatku tambah tertarik. Penjelasan Ripin seperti gambaran cerita seru yang suka kubaca di blog salah satu teman friendsterku.

"Kok kamu tahu semua itu Pin?"

"Saya kebetulan di depan jendela kamar saya. Dari jendela itu nampak semua yang terjadi di sumur itu." jelas Ripin.

"Dan .. kamu suka?" tanyaku teringat sms terakhirnya.

"Emmm..."

"Suka kan?" desakku

"Sejujurnya iya. Tetapi..."

"Oke. Begini kalau kamu suka, lebih baik jadikan itu rahasia perusahaan kamu saja. Ingatkan mereka kalau sudah keterlaluan atau mengganggu kinerja perusahaan. Jadi selama mereka masih menjaga semangat kerja dan itu menjadi semangat mereka, biarkan saja. Yang penting tidak merugikan perusahaan." saranku.

Ripin mengerti dan tampaknya dia menerima pandanganku. Dia mengucap terimakasih dan menutup teleponnya.

Setelah kututup telepon aku baru sadar kalau kemungkinan besar si Ripin juga homo. Mana ada orang straigth yang suka melihat adegan homo? Tetapi bisa juga si Ripin itu biseks dan suka melihat adegan itu sebagai pelampiasan kesepian dari istrinya.
_________________

===============
Tak kusangka nasehat dari Pak Robby mampu melegakan pikiranku sedikit. Aku jadi sadar kalau selama ini aku terkungkung dengan kekunoan. Di jaman ini semua orang maju berpikir terbuka terhadap segala sesuatu. Bahkan terhadap yang tabu dan yang dulu tak mungkin. Itulah mungkin kunci kemajuan orang-orang berduit sekarang.

Dulu sewaktu masih jadi kondektur tak terbayang menerima bayaran sampai lebih dari satu juta seperti sekarang. Namun dengan pikiran terbuka, sekarang bagiku omset sampai sepuluh juta per bulan sudah biasa. Untuk membayar Parno dan Tejo saja sejuta. Tak ada yang tak mungkin kalau kita berpikir maju dan terbuka.

Malam itu aku putuskan untuk tidak melarang Tejo dan Parno melakukan aktifitas pribadi mereka. Tetapi kuputuskan juga untuk menegor mereka supaya tidak terlalu sembarangan dengan melakukan di mana-mana seperti orang gila.
Setelah sarapan pagi, Ripin menyiapkan semua gunting, gergaji, pisau, cangkul dan peralatan taman lain. Tak lupa diangkut pula dua pot tanaman Euphorbia pesanan Pak Robby. Dinaikkan semua barang-barang ke atas motor butut yang tak jelas lagi mereknya. Lalu dia melaju ke perumahan elit tempat Pak Robby tinggal. Ini hari janjian untuk merawat taman Pak Robby selama 3 hari ke depan.
Ting tong... ting tong... diamati sekali alamat rumah itu. Ah benar kok! Sebuah rumah yang cukup mewah untuk seorang bujangan. Berada di hook dengan seberang jalan adalah tepi perumahan. Jadi rumah Pak Robby termasuk di pojok. Bila diamati dari luar taman Pak Robby tidak terlalu besar seperti yang disangka semula. Bila ditambah dengan taman kolam yang ada di belakang. Mungkin kerja 3 hari bisa diselesaikan dalam 1 atau 1,5 hari saja.
"Cari siapa ya?" tanya seorang lelaki yang mengenakan sarung bali dengan kaus ketat di bagian atas.
"Ini saya pak, Ripin. Kita su.."
"Ooohh kamu Pin. Masuk, masuk, kirain siapa." Kata Pak Robby sambil membuka pagar lebih luas.
Ripin memasukkan motor buntut dan diparkir dekat pintu.
"Sudah sarapan belum? Kebetulan saya sedang sarapan." Ujar pak Robby sambil menepuk punggung Ripin yang liat.
Ripin jadi sungkan. "Sudah, sudah Pak." tukasnya.
Mereka lalu berhenti sebentar. Pak Robby tampak berpikir.
"Baiklah kalau begitu langsung saja kamu mulai membereskan taman depan dahulu. Silakan!" tangan Pak Robby terbuka ke arah taman.
"Baik Pak, mari.." Ripin segera ke arah motor lagi untuk mengambil peralatan
.=================

___________________
Ini hari libur pertama untuk hari kejepit. Ahh enaknya tanpa kesibukan kantor. Sebetulnya bukan tanpa kesibukan kantor sama sekali. Karena sore nanti aku ada janji menemani customer dari italia. Kami akan membicarakan sebuah tender perusahaan di Italia selatan. Rencananya perusahaan kami akan bermitra dengan perusahaannya. Aku suka orang Italia, sexy, termasuk si Rodrigress ini.
Pagi ini aku berencana berjemur telanjang sambil menikmati roti Croissant dan kopi dari Toraja. Ahh kenikmatan tiada tara. Seperti biasa kulakukan semuanya dengan bertelanjang. Aku suka bertelanjang di dalam rumah. Tapi tentu tidak sampai ke luar rumah atau aku akan ditangkap petugas dinas sosial.
Pada awal telanjang di dalam rumah, kontolku selalu menegang. Tetapi lama kelamaan biasa dan kontolku tidak mudah mengegang lagi, kecuali seperti kuinginkan. Kontolku dan pelerku ikut bergoyang-goyang seksi. Terkadang kalau lewat cermin, kontolku mengegang karena sepertinya da pria telanjang yang menemaniku
Ting tong... "aduhh siapa lagi pengganggu di hari libur begini sih?!" kataku kesal.
"Iya iya..." aku berkata sambil menuju ke pintu. Kubuka sedikit tirai jendela ada seorang lelaki bertopi di depan sana.
Lalu aku berbalik ke kamar untuk mengambil sekadar pakaian. Kutemukan sarung bali dan kaus ketat.
"Ooo ternyata kamu Pin. Masuk yuk!" kuajak masuk tukang kebunku setelah aku mengenali.
Kurangkul dia. Wah tiba-tiba saja kontolku berontak ingin keluar dari sela-sela sarung. Untung saja bentuk kain bukan putih polos. Jadi gundukan kontolku tak kentara. Ahh aku jadi tak bisa konsentrasi lagi. Ingin rasanya langsung kupeluk dan kucium lelaki ini untuk adu kontol mencari kepuasan seperti DVD yang semalam kutonton.

Kuajak sarapan dia menolak. Ya sudah ... kusuruh dia langsung kerja saja. Lagian sudah beberapa minggu kebunku menunggu disentuh. Sebenarnya aku juga ingin disentuh. Sudah beberapa bulan aku tidak ml dengan wanita ataupun lelaki.
_________________

===============
Udara terasa panas menyengat. Bajuku telah kuyup dengan keringat. Aku berusaha bekerja secepat mungkin. Botol minum air putihku hampir kosong. Seperti biasa aku menggunakan celana panjang dan baju panjang usang sebagai seragam kerjaku. Pertimbangannya tidak sayang apabila terkena tanah atau lumpur atau kotoran lain. Sementara ini hampir dua pertiga taman depan hampir selesai dibereskan. Saat itulah Pak Robby keluar.
===============

_________________
Setelah berjemur sampai jam 9 aku lanjut dengan berenang setengah jam. Tiada hari tak kulewati tanpa berenang di pagi dan sore hari, kecuali waktu sakit atau tak enak badan. Jam 10an aku masuk untuk membuat sarapan daging Salmon dengan salad buah. Minumnya jus Alpukat, sungguh nikmat. Sedang setengah makan aku teringat kalau di depan ada tukang kebun. Ya ampun dia belum kuberi minum.
Aku memakai celana boxer tanpa atasan. Lalu kuambil sebotol air minum dan dua apel sekedar untuk jajan.
"Pin, nih minumannya...!" teriakku ke seberang taman.
Sejauh ini sudah lumayan rapi. Aku suka kerja si Ripin cepat dan bisa memperindah taman. Wajahnya penuh keringat yang telah diseka berkali kali pada kausnya. Bajunya pun basah oleh keringat. Hmm keringat seorang lelaki jantan. Ah tiba-tiba kontolku berdiri lagi.
Segera kuambil posisi duduk di tangga ke taman untuk menenangkan kontolku. Ripin menghampiri minuman yang ada di dekatku.
"Panas Pin?" tanyaku basa-basi.
"Iya pak. Tapi biasa lah.. namanya juga orang kerja di taman." jawabnya polos.
"Kalau gerah copot baju saja. Tidak usah sungkan. Lagian kan kita seumuran dan sama-sama lelaki. Terkadang kalau di rumah aku saja lepas baju, malah terkadang telanjang karena tak tahan." kataku terus terang memancing.

Ripin membuka kancing bajunya tapi tak semuanya. Dada tampak berisi, sementara otot perut terpahat baik seperti aktor porno yang gambarnya sering kuunduh dari komputer. Kulitnya coklat tua agak hitam. Dikeluarkan sebatang rokok.
"Pin, jangan merokok! Itu tak sehat loh!" sergahku sebelum Ripin mengambil korek apinya.
Ripin merasa sungkan lalu menyimpan rokoknya kembali.
_________________

===============
Kudekati Pak Robby yang membawa segelas air es segar dan dua buah berwarna merah, sepertinya apel mahal. Boleh nih untuk yang sedang haus begini. Waktu aku mendekat Pak Robby duduk di tangga dengan kaki terkangkang. Tampak bulu jembutnya dari pinggir celana. Sepertinya dia tidak memakai celana dalam di balik celana pendeknya.
Kuambil air minum dan kuposisikan dudukku untuk bisa mengamati isi celana dalam itu dengan lebih fokus. Pahanya dan badannya putih bersih, berototot. Tampak sekali kulitnya terawat seperti wanita. Aku suka yang seperti ini. Bahkan karena pikiran yang melayang-layang tanpa sadar kubuka kancingku untuk membiarkan badanku didinginkan angin.
Seperti reflek tanganku mengambil rokok. Sedang mataku kadang masih terpaut ke arah dekat paha yang tidak lagi mengangkang lebar. Sampai Pak Robby mengagetkanku untuk tidak merokok.
"Kamu sudah beristri Pin?" tanya Pak Robby mengagetkanku lagi.
"Be be.. lum pak." aku jadi salah tingkah karena tak ada rokok.
Pak Robby menyodorkan apel sebagai pengganjal perut. Kuambil dan langsung kugigit tanpa sungkan.
"Jadi sering onani atau ngeloco dong!" tuduhnya
"Iya lah... apalagi kalau melihat bawahan saya. Mereka membuat saya tak tahan....." tiba-tiba suasana hening.
Ada suatu pertemuan pengertian antara aku dan Pak Robby.
=================


___________________
Kuberanikan berbicara dengan lebih berani.

"Sering masturbasi dong...?" tanyaku mengambang setelah kutahu kalau Ripin belum beristri.
"Iya Pak. Apalagi sewaktu melihat anak buah saya." katanya melanjutkan keterangan cerita kemarin di telepon.
Tiba-tiba pandangan Ripin menusuk hatiku. Ada nafsu di matanya. Nafsu yang sama seperti yang sedang membara saat ini. Ingin kualihkan pandanganku tapi terkunci oleh pesonanya. Aku menginginkan pria di hadapanku ini.
"Kita ke dalam saja yuk ... nggak enak kalau disini." ajakku.
Ripin mendahuluiku dan kututup pintu rapat di belakangku. Tiba-tiba Ripin berbalik dan berdiri sangat dekat denganku. Kurasakan hawa hangatnya. Kurasakan keinginan dan nafsunya. Dengusan nafas penuh birahi. Kami berdiri sangat dekat.
___________________

=================
"Pin tiba-tiba aku kepingin ngeloco, bisa bantu?" tanya Pak Robby setelah di dalam.
"Saya....?" tiba-tiba saja aku jadi lebih bodoh dari biasanya.
"Iya, kalau kamu tidak keberatan. Aku kepingin merasakan seperti yang dirasa kontolmu waktu diloco sama tanganmu." kata Pak Robby menarik tanganku diarahkan ke gundukan kontolnya.
Ada sesuatu keras dan berdenyut di sana. Entah belajar dari mana tiba-tiba saja tanganku sudah mulai meremas-remas dan menarik kontol Pak Robby. Memang benar di belakang celana tipis ini tidak terdapat celana dalam.
"Aaahhh enak Pin. Terus Pin..." tapi rasa sungkanku masih ada. Kuhentikan perbuatan itu.
"Pin, kamu tidak usah sungkan. Aku suka badanmu dari sejak pertama kita bertemu. Aku suka kamu. Berikan aku kenikmatanmu Pin.... kubuka bajumu ya...?"
Pak Robby membuka bajuku satu persatu.
=================
___________________
Kubuka baju Ripin. Ah dadanya yang gempal dan kulitnya yang gelap hmmm jantan sekali. Kilat karena keringat masih nampak sisanya. Perutnya membentuk petak-petak bujur sangkar sebanyak enam buah.
Kutarik celananya dan kupelorotkan. Ternyata tidak ada celana dalam di sana. Kontol Ripin yang juga sudah tegang berayun-ayun ke perutnya. Jembutnya tak tercukur dan dibiarkan menggondrong liar. Aku berlutut hendak mencium kontolnya tetapi tangan Ripin menahanku.
"Pak..." cegah Ripin tampak keberatan.
"Tenang aja Pin, tak apa-apa ..." ujarku meyakinkan seraya menyingkirkan tangan Ripin dari pipiku.
Bibirku menempel pada batang kontolnya yang besar dan berwarna coklat tua. Bau khas kelamin lelaki jantan terhirup dari antara jembut keriting yang tumbuh di sekitar pangkal batang kemaluan. Ciumanku membuat napas Ripin jadi tak teratur.
__________________

================
Dibuatnya aku tanpa selembar benang pun. Aku tak berdaya. Tak ada keinginanku mencegahnya. Aku menyayanginya dan membiarkan dia melakukan yang dia mau terhadap tubuhku. Tiba-tiba Pak Robby berlutut dihadapanku. Aku kaget.
"Jangan Pak..." larangku ketika dia mendekatkan wajah ke kontolku.
Aku merasa sungkan, masakan kontolku yang biasa untuk kencing diciumi Pak Robby. Aku rasa itu tak pantas.
"Tenang aja Pin, tak apa-apa..." kata Pak Robby sambil memandangku meyakinkan.
Akhirnya kubiarkan kontolku diciumi. Aku jadi ingat ketika si Parno hendak mencium kontol Tejo.Ternyata rasanya uuuhhhh nikmat. Kontolku yang sudah tegang jadi lebih tegang lagi. Apalagi ketika dikecup, lemas rasa lututku.Ahhhh...hhh...
Apalagi ketika kurasa kontolku ada di dalam lubang hangat dan basah. Ya, ketika kutengok kontolku telah lumat amblas di dalam mulut Pak Robby. Bibirnya yang merah ada di sekitar batang kontolku yang kecoklatan dan nampak berurat mengkilat. Tak tahan untuk tidak terpejam saat itu. Wuuuuu hhh ahhhh ... terasa sengatan-sengatan halus di sekitar batang kontolku. Uuuuuhhh heeennnaaakkkkkk ahhhh....
==================
____________________
Kudorong Ripin ke sofa kulitku yang berharga di atas 10 juta. Badannya matching sekali dengna warna coklat sofa yang klasik. Kugenggam pangkal kontolnya. Kujilati kontol besar itu dari bawah ke atas. Kontolnya sangat nikmat. di samping badannya yang begitu pejal enak di remas sana dan sini. Ripin mendesah tertahan keenakan, sepertinya ini pertama dia merasakan diberi kenikmatan.

Ujung payudara Ripin kupijit-pijit lembut. Dia bergelinjang menikmati kenikmatan ganda. Aku senang membuatnya tergelinjang begitu.
_____________________

===================
Pak Robby memang gila. Aku didorong duduk di sofanya yang empuk dan hangat. Kontolku dijilatinya dan ujung tetekku dipilin-pilin. 'Uuuhhhh gila.... enaaaakkkk bangethhhh!'. Sudah tidak ada lagi rasa malu bertelanjang dan dijilati pria. Hanya ada kenikmatan belaka.
Tubuhku terasa melayang. Aku kehilangan berat badanku. Tak peduli yang Pak Robby lakukan. Aku hanya menikmati dan menikmati. Haahhh haahhh uhhh.....
===================

_____________________
Tak tahan untuk tidak meniduri Ripin. Kubuka celana boxerku, seketika kontolku yang sudah tegak sedari tadi teracung. Kurebahkan ripin dan kutindih di atasnya. Kontol kami bersentuhan , hangat rasanya. Kuciumi muka Ripin, badannya terasa agak lengket karena keringat. Aku tak peduli. Ripin tampak kegelian.
Tangan Ripin tak bisa diam, rupanya dia juga sudah ingin menikmati tubuhku. Punggung dan kepalaku dielus sayang. Seperti gerakan seorang suami kepada istrinya. Sayaanngg sekali... Sebenarnya aku agar risih diperlakukan seperti wanita. Tapi kubiarkan supaya aku tetap bisa menikmati tubuhnya.
Dalam kurun waktu sebentar saja. Ciuman pipi, hidung dan kening sudah berubah jadi ciuman bibir yang ganas. Ripin yang semula diam kini ikut ganas menyedot bibirku. Yang terdengar hanya suara tertahan. hmmppff h... hmmm dan kecipak bibir yang terlesaps sesekali..
_____________________

===================
Sedang enak-enaknya kontolku dikulum Pak Robby, tiba-tiba dia berhenti. Badannya menunduk dan melepas celananya. Kami sama-sama telanjang. Pak Robby naik ke atas sofa juga lalu menindihku. Sekilas tampak kontolnya yang panjang dan berwarna memerah bersunat juga. Bau wangi segar segera tercium saat kepalanya mendekati kepalaku.
Sementara kontol Pak Robby terasa hangat mengganjal hingga menyentuh pusarku. Badannya putih bersih dan benar, kulitnya halus seperti dugaanku semula. Pak Robby menyiumi tiap senti wajahku. Awalnya aku merasa geli, namun setelah kubalas keliarannya... hmmmfff kupagut bibirnya dan ahhh nikmat benar bibir merahnya.
Bibir kami beradu seperti ikan cupang. Kusedot bibirnya, Pak Robby tampak birahi sekali kepadaku. Aku pun demikian. Aku menyayanginya. Badan Pak Robby terasa hangat, halus, harum. Ahhh .... Yu jamu kalah harum, heiii kenapa aku berpikir tentang Yu Jamu?
Sementara Pak Robby sibuk dengan bibirku, aku menggerayangi punggung hingga pantatnya. Kucari lubangnya dan kutusuk-tusuk dengan jariku.
====================

_______________________
Sensasi ditusuk jari Ripin sangat bebeda ketika ditusuk jari Doni teman kencanku. Jari Ripin itu keras dan kasar. Anusku sampai terkedut kaget karena itu. Ripin paham dan dia berlaku lebih lembut setelah itu.
Aku suka yang Ripin lakukan tapi aku tak ingin cepat-cepat menyelesaikannya dengan satu semburan sperma. Aku berhenti dan berdiri dari tubuh Ripin.
_______________________

====================
"Maaf, Pak kalau saya sudah keterlaluan" kataku sambil berusaha mencari celanaku.

"Tidak. Tidak.. tidak begitu Pin. Aku tidak masalah kalau kau ingin anal .... e... ingin nusuk aku. Tapi nanti, jangan cepat-cepat." ujar Pak Robby.

Sungguh aku tidak mengerti maksud Pak Robby. Kenapa kalau kita sedang nikmat harus berhenti di tengah jalan begini? Kan nanggung jadinya.... Di wajah Pak Robby memang tak nampak kemarahan sama sekali.
"Kita berenang saja dulu yuk... nanti kita lanjut" ajaknya.
"Renang ???"
===================

_____________________
Ripin tampak kebingungan. Aku hanya ingin jeda sebentar. Ini adalah taktikku mendapat kenikmatan lebih lama dari Ripin.
_____________________

Aku dan Ripin berenang telanjang bulat di kolam renangku. Kami berdua bercanda hingga tidak lagi ereksi. Kami semakin akrab, bukan seperti majikan dan pekerja, tapi lebih dari kawan lama yang tak berjumpa. Kami saling ciprat. Saling kejar, saling peluk ...

-------------------
Ah, sungguh menyenangkan bermain air di kolam pribadi orang kaya. Ini pertama kali aku menikmatinya, sambil telanjang bulat lagi, seperti di kali waktu kecil saja.

"Naa kena..." Pak Robby menjerit memelukku dari belakang.

Kontolnya langsung saja menyentuh pantatku. Badannya menyentuh badanku. Kontolku yang sudah lemas tiba-tiba menegang kembali. Kupandangi wajahnya. Begitu dekat. Begitupun Pak Robby.
-------------------

___________________
Terlalu asik bercanda dengan Ripin aku tak sadar memeluknya. Ya, aku dan dia masih telanjang bulat. Tubuhku melekat di tubuhnya. Wajahku begitu dekat dengan wajahnya. Kudekatkan bibirku ke bibir Ripin. Agak kikuk, tapi Ripin memejamkan mata, segera kulumat bibirnya.

Kecipak dan debur air yang sedari tadi bising tiba-tiba saja lenyap. Diganti dengan dengus nafas dua manusia yang sedang birahi.
___________________

-------------------
Kubiarkan bibirku diciumi, dihisapi, digigiti oleh Pak Robby. Ludahnya terasa manis. Ah begini rupanya rasa ciuman bibir seperti di film-film barat. Tak tahu apa yang harus kuperbuat. Kunikmati saja hisapan bibir lembut dan merah lelaki kaya ini. Bibirnya lembut sekali. Hangat saat menyentuh bibirku. Nafasnya mendengus tanda nafsunya terbangkit.

Lidah Pak Robby menjelajah bagian dalam mulutku. Gigiku sempat beradu dengan giginya. Ludah Pak Robby terasa manis.
--------------------


____________________
Setelah puas dengan french kiss yang lama kuajak Ripin naik ke tepi kolam. Dia naik terlebih dahulu. Air mengalir di tubuhnya. Tubuhnya mengkilat. Aku tersenyum melihat kontol Ripin yang ngaceng menghadap perutnya. Dia sudah tidak sungkan lagi.

Ripin mengulurkan tangannya di pinggir kolam. Dia menarikku ke atas dan langsung aku menubrukkan badanku. Kami jatuh di pinggir kolam. Kutindih tubuh hitam Ripin. Kami berciuman lagi. Mesra sekali.
____________________

--------------------
Setelah itu Pak Robby memerintahku untuk keluar kolam. Dia mengikutiku dari belakang. Kontolku masih ngaceng tak terkendali. Kuulurkan tanganku untuk membantu Pak Robby naik dari dalam kolam. Mungkin karena tarikanku terlalu kencang, hingga Pak Robby tertarik ke arah tubuhku.

Tapi itu jadi keberuntunganku. Aku dicium lagi. Ha ha ha... seperti suami istri sedang bulan madu saja kami. Sebentar-sebentar ciuman. Aku sih menurut saja, enak sih..

Lalu Pak Robby berjalan dengan kontolnya berayun-ayun mengambil dua potong handuk di dekat situ.

"Keringkan badanmu biar tidak masuk angin" kata Pak Robby.
--------------------

____________________
Aku ingin mendapatkan pengalaman lebih dari sekedar bertindih-tindihan di tepi kolam begini. Kuajak Ripin mengeringkan badan dan masuk ke dalam rumah. Di sofa depan tivi ruang tengah,
aku ingin bermesraan di situ.

Kurebahkan badanku di sofa. Paha kubuka lebar-lebar mengekspos kontolku yang tak mau tidur
lagi.
____________________

--------------------
Aku mengikuti Pak Robby ke dalam rumah. Pak Robby rebahan di sofa kakinya dibuka lebar. Lubang duburnya kemerahan dan tampak sempit. Ah andai kontolku boleh di sana tentu enak. Mungkin lebih sempit dari memek Yu Jamu yang sexy itu. Kudekatkan diriku untuk menikmati
permainan pak Robby selanjutnya.

Aku berlutut di antara kangkangan pahanya memilih mana dulu yang ingin kunikmati. Kusentuh
dada Pak Robby yang tebal dan putih. Lalu perutnya yang berkotak kotak. Lalu kontolnya yang
tegang kukocok perlahan. Pak Robby mendesah kenikmatan.
---------------------

_____________________
Ripin mendekat padaku dan menyentuhku sedemikian rupa hingga rasanya melayang. Nikmat sekali disentuh pria seperti ini. Kejantananku pun diperlakukan dengan lembut. Begitu tepat perpaduan telapak tangan kasar, genggaman mantap dan kocokan lembut. Aaahhh ....

Ripin mendekat hingga kontolnya menyentuh lubang duburku. Dia menggosok-gosokkan kepala
kontolnya di sana. Meski ini yang pertama baginya namun mungkin sudah naluri untuk menemukan kenikmatan di lubang sana.

Sementara tangan kiri mengocok kontolku, tangan kanannya mengarahkan kontol ke lubang dan
mengusapkan air madi yang keluar dari ujung kontolnya. Air madinya banyak.
______________________

----------------------
Kusentuhkan kontolku yang sudah tegang ke lubang pantat Pak Robby. Dia diam saja. Kugesekkan kontolku di lubang yang terlihat rapat dan memerah itu. Pak Robby juga diam saja. Semua kuartikan boleh. Pasti lubang itu lebih sempit dari memek perempuan. Kuarahkan ujung kontolku yang memerah ke arah lubang. Sementara tangan kiriku tetap mengocok kontol Pak Robby yang semakin tegak saja.

Ternyata tak mudah memasukkan kontol ke lubang pantat. Saat kutekan, Pak Robby mendesah meringis sepertinya dia kesakitan.

"Ayo, coba lagi Pinn...!" perintahnya.

Kulihat dia bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Kucoba kuarahkan lagi ke sasaran.

"ooouuhhhh...." dia menjerit.
----------------------

______________________
Rasanya sakit menerima kontol Ripin di duburku. Tapi aku tahu itu hanya sebentar.

"Coba lagi Pin!" begitu perintahku ketika kulihat Ripin hendak membatalkan niatnya.

Ripin memang cepat belajar. Dia akhirnya memaksa sedikit untuk menembus pantatku. Uuuuooohhhh ... rasanya sakit tapi itu hanya sebentar. Ripin diam agar cincin duburku menjadi terbiasa dengan batangnya. Aku tersenyum memastikan aku baik-baik saja. Ripin ikut tersenyum dan wajah khawatirnya memudar. Kulihat separuh kontol besarnya telah hilang lenyap di dalam lubangku.

Ripin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kami pun berciuman mesra sekali. Saat itulah dia mulai mempompa anusku dengan kontolnya.
______________________


----------------------
Muka Pak Robby yang putih jadi memerah menahan kontolku yang perlahan masuk. Kutahan sejenak saat mukanya jadi sangat mengkerut kesakitan. Dia melepaskan udara yang sedari tadi ditahan di lehernya. Lalu Pak Robby tersenyum perlahan warna merah kembali ke putih meskipun tidak seperti semula. Aku senang dengan perubahan itu. Kuputuskan untuk mengulum kedua bibirnya yang ranum supaya rasa sakitnya terlupakan.

Kontolku terasa enak dijepit oleh lubang yang hangat ini. Ingin rasanya segera menghajar supaya terpuaskan nafsuku. Tetapi aku juga harus pelan dan hati-hati supaya pak Robby tak kapok menerima kontolku.

Kutarik sedikit.

"Ooouuuhh..."

Kumasukkan lagi.

"Uuuoooohh..."

Ini yang namanya maju enak mundur enak.
----------------------

______________________
Aku masih terbaring di sofaku yang pasti lebih mahal dari motor Ripin. Kakiku mengangkang . Tubuh Ripin telanjang dengan kulit kecoklatan sangat kontras dengan kulitku. Bagaikan susu kopi dan kopi susu saja. Di berlutut dekat pahaku dengan kontolnya menancap di lubang anusku.

Ripin mulai menarik ulur kontolnya. Perlahan tapi pasti ada rasa nikmat yang menyerang.

Kontolku kembali tegang dan terayun-ayun. Ripin mengeluarkan separuh kontolnya.

"Uh uh uh!" suara Ripin makin nyata seiring desah nafasnya yang memburu.
______________________

----------------------
Memang benar-benar sempit. Kontolku serasa diremas dilubang yang sempit saja. Enak sekali rasanya, hangat dan sempit. Setiap mili kontolku menerima remasan yang kuat dan hangat. Semakin sering memasukkan dan memundurkan pantatku semakin enak rasanya. Maniku mulai
berkumpul menuju ke batang kontolku.

Nafsuku memburu seiring nafasku. Tubuhku memanas dan mulai berkeringat. Kulihat wajah Pak Robby juga mulai mengkilat. Aku jadi ingat waktu aku kecil, pertama aku naik becak, tukang
becaknya tidak memakai baju dan keringatnya mengalir. Pahanya liat dan pejal aku suka sekali
karena celananya juga pendek. Ah kenapa melantur ke situ?
----------------------

______________________
Kontol Ripin yang besar menghajar anusku tanpa ampun. Tapi lama kelamaan terasa nikmatnya. Kontol Ripin menyentuh hingga ke G Spotku tampaknya. Sehingga kontolku juga ngaceng meskipun tak tersentuh.

"Yess... terussshhh ooohhh...." erangku pelan.

Wajah Ripin semakin jantan dan perkasa saja tampaknnya. Tubuhnya mulai mengalirkan keringat seperti sewaktu dia kepanasan bekerja di kebun. Aku suka sekali.

"Pin ganti posisi.."
______________________

----------------------
Ada apa lagi ini? Mau berhenti lagi atau bagaimana? Pak Robby memundurkan pantatnya dan
lepaslah kontolku yang memerah dari lubang yang hangat itu.

"Aduuuhh nanggung ini" kataku mencoba memeluk tapi ditolak Pak Robby.

"Jangan cepat-cepat" ujarnya.

Kontolku menggantung mengkilat ingin diselesaikan. Tetapi apa daya lubangnya terlepas.
----------------------

______________________
Aku turun dari sofa.

"Kamu nungging Pin. Biar kontolku sekarang gantian masuk..."

Ripin tampak ragu.

"Aduh. Belum pernah. Jangan ya..."

"Sudah... ayo!"

Ripin pun mengalah dan menungging.

"Pelan ya, Pak" Ripin tampak memohon.

Kuoleskan jelly ke kontolku dan anus ripin lalu kumasukkan jari telunjukku perlahan.
______________________

----------------------
Ternyata Pak Robby ingin melakukan seperti yang kulakukan tadi padanya. Tampaknya sakit tapi dia juga menikmati. Rasa penasaranku timbul juga. Aku pun mengambil posisi menungging seperti yang diinginkannya.

Pak Robby mengambil semacam salep. Lalu mengoleskan ke anusku dan terasa dingin. Hukk! apa ini. Dia memasukkan jarinya ke lubang pembuanganku.

"Rileks Pin..." ujarnya

Uhh rasanya sakit pas mau berak. Lalu jarinya keluar dan aku bisa bernapas lega lagi. Hukk! Jarinya dimasukkan lagi. Rasa tadi berulang lagi...

"Kamu jangan tegang begitu. Nanti juga terbiasa" ujarnya

"Iya tapi rasanya seperti ingin ke belakang, Pak"

"Tadi pagi sudah boker kan?"

"Iya. Sudah Pak." Ujarku sambil meyakinkan kalau itu rasa saja dan bukan ingin boker betulan seperti dugaannya.

Sepertinya Pak Robby menambah salep terus menerus. Mungkin supaya lubangku licin.
---------------------

_____________________
Kulebarkan terus anus Ripin yang masih perawan. Sudah jari telunjuk dan jari tengah masuk. Lumayan lah sebagai peregangan. Kontol Ripin tampak mengecil, mungkin karena ketakutan atau kesakitan. Kontolnya yang hitam menggantung besar di sekitar jembutnya yang tidak terawat dan kedua bola zakarnya yang besar.

Kuoleskan jelly untuk bersanggama ke kontolku yang sudah terbalut kondom. Meski aku tahu kalau Ripin tidak pernah berhubungan tetapi apa salahnya mencegah penularan berbagai penyakit kelamin. Lagipula kondomku cukup tipis dan aku masih bisa merasakan lubang anus Ripin.

Kontolku mengarah pada sasaran tembak. Beberapak kali meleset karena licin. Lalu kulesakkan
kontolku ke lubang yang sangat sempit itu.

"Aaaaarrrrrrrggggghhhhhh!"

Ripin mengejan. Wajahnya memerah dan urat-uratnya bermunculan di sekitar leher. Kontolku baru saja masuk sepertiga waktu itu dan aku berhenti.
_____________________

---------------------
Minta ampun rasanya ternyata. Ini pertama kali dalam hidupku lubang pembuanganku dimasuki benda asing. Kontol lelaki lagi. Pernah dengar ada tetangga yang sakit ambeyen. Katanya waktu diperiksa pakai ditusuk jari dokter. Katanya amit-amit sakitnya.

Ah! kenapa lagi Pak Robby berhenti di ujung situ.

Nafasku kuatur lagi. Setelah tadi menahan nafas karena sakit. Sakitnya minta ampun kalau ditusuk dari belakang. Kutengok Pak Robby dan dia memberi acungan jempol kepadaku. Hampir
dua menit lamanya kami diam dalam posisi itu. Lalu Pak Robby mengoleskan salep ke daerah lubang dan batang kontolnya.

"Aaaaarrrhhhhh!!!" jeritku tertahan ketika sekali lagi Pak Robby menekan pantatnya.
---------------------

_____________________
Gila! Ripin memang benar-benar perawan. Lain dengan para bot teman mainku. Mereka sudah terbiasa dimasuki kontol. Mereka hanya menjerit sedikit lalu keenakan. Memasuki anus Ripin punya kebanggaan dan sensasi sendiri.

Aku harus bersabar atau kehilangan keperawanan lelaki ini. Maka benar-benar kutahan nafsuku. Kubuat Ripin ketagihan nanti dengan kontolku.

Beberapa saat kulihat Ripin semakin rileks. Sementara kontolku di dalam anusnya serasa dipijat-pijat. Ah! Sudah siap rupanya.

Kupompa anus Ripin dengan irama perlahan terlebih dahulu.
______________________

----------------------
Lama-lama rasa sakit itu mulai menghilang. Berganti dengan rasa hangat batang yang berdenyut dalam lubangku. Kubalas saja dengan mengencangkan lubang. Lalu Pak Robby mulai menggerakkan kontolnya menusuk-nusuk. Perlahan sekali geraknya.

Terasa kosong lalu isi lagi. Lama kelamaan aku merasa ada sesuatu yang enak. Ah begini rasa cewek dientot kontol rupanya. Pantesan sih yu Jamu sampai ganjen begitu menginginkan kontolku.

"Ooooowwwhhhh....oooh ohhh" racau Pak Robby saat gerakan menusuknya dipercepat.
----------------------

______________________
Semakin lama semakin enak rasanya. Keluar masuk ke pantat perawan Ripin yang ganteng. Karena begitu eratnya anus Ripin mencengkeram tak lama rasanya aku ingin mencapai puncak orgasme. Segera saja kucabut sebelum orgasme itu sampai.

"Pin, kamu masukkin kontolmu lagi ke aku" perintahku.

Aku menidurkan diri di sofa dan mengangkangkan kaki. Ripin dengan sigap berdiri dan mengocok kontolnya yang setengah ngaceng tadi. Segera saja kontol Ripin mengeras dalam ukuran detik dan mulai diarahkan ke anusku. Kontolku mengacung di atas perutku.

Ripin langsung saja menggenjotku dengan kecepatan tinggi. Nafsunya membara dan ingin menuntaskan permainan
______________________

----------------------
Tak kusia-siakan ketika Pak Robby minta gantian ditusuk. Nafsuku sudah tidak tahan ingin ngecrot rasanya. Kutusukkan kontolku ke lubang Pak Robby tanpa kesulitan dan segera kugenjot dengan nafsu.

"Hoooaaa aaaahhh aahhh ahhhh..." begitu erangku seirama dengan tusukanku.


"Oouhh ouh ouhh...." seru Pak Robby.

Suara lenguhan dan erangan kami memenuhi ruangan.
----------------------

______________________
Kontolku yang terayun-ayun merasakan sensasi hendak orgasme karena kontol Ripin mengenai
gspot aku berulang-ulang.

"Owh owh owh..." enak sekali kurasa...

"Oooohhh Pin aku hampir sampai..." ujarku sambil mataku terpejam keenakan.

"Aku juga Pak!" kata Ripin

"Pin.." belum selesai ucapanku.

"Aaaaaaahhhhhhh.....!!"

Crot crot berulang kali di pantatku. Tubuh Ripin mengejan-ejan di depanku. Maksudku tadi agar
Ripin memuncratkan pejuhnya di dadaku saja.
_______________________

-----------------------
Kuayun terus menerus dengan irama cepat. Kali ini aku tak ingin bilang kalau aku akan sampai
, sebab andai kukatakan pasti Pak Robby akan mencabut kontolku lagi dan ingin gaya lain.

"Pin..." kata Pak Robby.

Tak kupedulikan.

Aku tetap menggenjot pantat orang muda kaya yang putih ini. Aku sampai... crot crot crot. Iya aku memuntahkan maniku dalam pantat lelaki kaya ini. Ahhhh hamil loh!

Ahhhh nikmat sekali rasanya.

"Aaaaaahhhh....!!"
-----------------------

_______________________
Kukocok kontolku sendiri selagi Ripin menyelesaikan muncratan pejuhnya dalam lubang anusku.

"Hoooohhhhhhhh!!!" teriakku mengiringi semburan pejuhku

Cairan putih kental itu mengenai rambut Ripin dan dahinya. Sebagian lagi jatuh di dada dan perutku....

"Ooooohhhhh....." Tubuhku bergetar dan aku rasa ini orgasme terbaik yang sangat memuaskan.
________________________


Sesudah itu Ripin dan Robby membersihkan diri di kolam renang. Lalu Ripin berpamitan hendak
pulang karena sudah sore. Namun Pak Robby menahan dia agar tidur di rumahnya malam itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar