Rabu, 04 April 2012

LIBURAN YG BERKESAN


Liburan kemarin adalah yang paling mengesankan sepanjang umur hidupku. Aku diutus keluargaku mengunjungi kakek di salah satu kota kecil di Jawa tengah. Sementara keluargaku pergi ke Palembang untuk bersilaturahmi dengan keluarga Ayah di sana. Ayah sangat otoriter sehingga ibu pun tidak bisa bertemu dengan ayahnya dan hanya mengutusku.

Aku anak tunggal dan sebenarnya ibu tidak rela melepasku sendirian ke tempat kakek. Meskipun umurku sudah hampir menginjak kepala 2 tapi terkadang ibu masih mengkhawatirkanku seperti anak SD saja. Berbeda dengan ayahku yang cukup keras kepadaku dan mendorongku supaya lebih mandiri. Dua sifat berbeda ini sering menjadi pertentangan bagi mereka. 

Aku tahu mereka orang yang sangat menyayangiku. Sayang dengan cara yang berbeda, bahkan bertolak belakang. Terkadang aku merasa Ayah terlampau kejam terhadapku, namun di balik itu semua aku juga merasakan manfaat yang tak ternilai. Aku jadi lebih berani dan lebih jantan dan tidak manja. Andai tak ada Ayah mungkin aku sudah ikut kelompok banci dan dandan seperti mereka. Untung saja Ayah menyelamatkanku. Dalam diriku aku memiliki ketegasan dan keberanian Ayah dan juga kelembutan dan keromantisan dari ibu.

Kembali ke kakek. Beliau memang sudah cukup umur dan tidak sesehat sewaktu muda. Kakek tiggal bersama Pak lik Danu, adik bungsu yang sekarang belum juga berkeluarga. Umurnya sudah tigapuluhan dan bila didesak dia akan bilang belum bertemu jodoh. Kami cukup akrab sebab semasa sekolah SMA dia ikut keluarga kami. Orangnya baik dan suka 'ngemong' istilah jawanya (mengayomi/melindungi). 

Kembali lagi ke kakek. Pernah ibu dan ayah untuk menawari tinggal bersama kami , namun dia tidak mau karena banyak alasan. Yang kebunnya tidak terurus, yang Pak Lik sendirian, yang nanti rumah berantakan dan lain lain. Intinya beliau tetap ingin hidup di desa. Nenek sudah lama almarhum.

***

"Ya sudah sana Rob kalau kamu mau istirahat dahulu", bola matanya melirik ke kamar yang sudah disiapkan bagiku. Aku sampai jam 3 pagi dan sempat menunggu 2 jam untuk angkutan pedesaan pertama.

"Nanti saja lik, saya mau mandi saja dahulu", memang rasa keringat semalam belum hilang. Belum bau rokok dan bau keringat yang mengering.

"Ya sudah sana siapkan bajunya. Nanti Pak lik yang timbakan airnya"

"Nggak usah lah! Nanti saya timba sendiri", kataku sungkan.

Aku masuk ke kamar untuk meletakkan ransel sekaligus mengambil handuk dan pakaian ganti. Tak lupa juga mengecas hape yang batrenya sudah mati.

Sesampai di kamar mandi aku kaget karena ternyata bak sudah penuh dengan air yang masih bergoyang-goyang tanda baru saja diisi. Airnya bening dan pasti segar sekali. Sementara Pak Lik sudah tidak kelihatan kemana.

Segera kututup pintu kamar mandi sederhana itu.Atapnya dari seng plastik sehingga tampak terang sekali. Kubuka kaus hitamku, terasa hembusan angin dingin segar menerpaku. Dalam sekejap aku telah bertelanjang. Ah, kontolku terlihat menyusut entah karena kepanasan atau karena celana dalamku terlalu ketat. Di celana dalamku terlihat sedikit bekas mazi hasil lamunanku di bis semalam.

Air segar pegunungan segera kusiram ke seluruh tubuhku. Ahhh segar sekali. Kububuhkan sabun cair pria yang mengandung mint. Hmmm sangat segar dan maskulin baunya. Sensasi kesegarannya mengembalikan semangat lesu karena kelelahan.

Saat dua siraman untuk membersihkan sabun, kudengar suara kayu patah cukup keras. Krak dan suara orang mengaduh di tahan. Kutajamkan telingaku. Sepertinya ada orang berlari menjauh dari kamar mandi. Segera kubuka pintu, ingin tahu siapa yang telah mengintip. Ada seorang anak sebaya denganku berjalan cepat menjauh. Dia menggunakan celana pendek. Sinting! Ternyata di desa ini ada homo suka mengintip.

Kuselesaikan mandiku dengan cepat dan segera menuju ke dalam rumah. 

"Kamu sahur tadi pagi kan?" tanya kakek.

"Alhamdulillah kek, tadi pagi ada warung dekat terminal yang buka."

"Syukurlah kalau begitu kamu puasa kan?"

" Ten.. tentu dong kek. Saya kan sudah dewasa." Kakek teringat dua tahun lalu aku ketahuan tidak puasa oleh kakek.

***

Setelah tidur sampai jam 9.30, aku mencoba mengisi aktifitas hari ini dengan berjalan-jalan ke dekat danau kecil sana. Danau itu luasnya tak lebih besar dari danau Sunter di Jakarta sana. Ada satu tempat cerukan danau yang cukup asri . Di sana banyak pemuda sering berenang kalau sore atau siang kala bulan puasa seperti saat ini.

Aku berjalan ke sana. Kalau cukup sepi aku ingin berendam. Sekedar menenangkan diri dan berekreasi. Danau kelihatan tenang dan bening. Di cerukan itu memang ada satu mata air yang tak pernah kering. Banyak penduduk desa yang belum mampu 'nyelang' mengambil air secara langsung di sendang itu.

Benar saja dugaanku, jalan setapak di kerubungi oleh karpet rumput hijau dengan beberapa pohon rindang di dekatnya. Cerukan itu cukup aman meski untuk mandi telanjang bulat. Aku melihat keadaan dan menunggu keadaan benar-benar aman sambil menikmati surga kecil itu sebentar.

Ternyata keadaan cukup aman. Aku memutuskan membuka semua pakaianku dan berendam telanjang di salah satu tempat yang cukup dalam. Ahhh nyaman sekali. Udara yang bersih dan hangatnya sinar matahari. Kolam yang bening dengan beberapa ikan air tawar berkeliaran di dasar dekat bebatuan bulat-bulat. 

Kudengar krasak-krusuk agak kasar. Lalu kecipak air. Hei! ada pengunjung lain yang berendam juga... Ya, seorang pemuda seusiaku. Kami bertukar senyum dan saling menyapa sekadar seperti adat desa umumnya. Namanya Heru, hmm tubuhnya lumayan kekar dan hitam. Sempat kulirik bagian bawahnya, masih tidur tapi ah ukurannya lebih besar dariku. Tapi aku tidak mau berpikiran lebih jauh, takut jadi tegang dan membatalkan puasa.

Di akhir percakapan Heru mengajakku bertaraweh bersama. Dia berjanji menjemputku nanti. Ah orang yang baik hati.

***
Pertemananku dengan Heru bertambah akrab. Lebaran kedua pagi ini kami berencana pergi ke air terjun yang jarang dikunjungi karena jauh dan susahnya perjalanan. Ya, daerah itu tidak terkenal. Tetapi menurut Heru indahnya tidak kalah dengan air terjun lain yang terkenal secara nasional. Nama air terjunnya adalah Curug Sewu Banyu.

Banyak fakta yang aku ketahui tentang Heru. Kami bahkan sangat terbuka, Heru mengatakan kalau dia suka pria dan pernah ml dengan seseorang. Oh ya ada satu hal, Heru sering mengintip Lik Danu. Waktu kedatanganku, Heru hendak mengintip Lik Danu tapi dia kaget ketika diintip ternyata orang lain. Lalu dia terpeleset. Heru pernah bilang kalau suka melihat aku telanjang. Tapi aku ragu kalau aku akan ml dengan dia. Ah, pembaca pasti mengerti keraguanku.

Curug Sewu Banyu ditempuh dua jam berjalan kaki. Menurut Heru jalan setapak lebih sepi dari biasa. Orang-orang desa tidak ke ladang dan kebanyakan berwisata ke kota atau ke tempat handai taulan di desa lain. Curug Sewu Banyu sendiri terletak jauh dari lokasi pemukiman desa. Bahkan ladang pertanian pun tiada di dekat Curug. Keadaannya begitu perawan.
Wow .. wow... wow... wow begitu berkali-kali aku terkagum. Air terjun itu alami dan sangat indah. Hampir mirip dengan wallpaper yang kupasang di monitorku. Tapi ini asli dan indah. Airnya banyak bahkan di tengah musim kemarau begini. Mungkin karena penggundulan hutan belum merambah mata airnya. Limpasan airnya membentuk butir-butir embun yang membiaskan warna-warna pelangi. Mungkin inilah tempat mandi bidadari dalam kisah Jaka Tarub.

Tanpa malu lagi Heru menelanjangi dirinya dan berlari mendekat ke air terjun. Suasananya jadi asri. Rasanya segar. Aku ikut menelanjangi diri dan bergabung dengan Heru berdiri dekat-dekat jarum-jarum air yang jatuh dari atas. Kolam di kaki kami hanya sedalam paha tidak bisa untuk menyembunyikan kontol kami. Tapi kami tidak berpikir ke sana. Kami membiarkan semuanya seperti wajarnya. Heru menyipratkan air segar itu ke tubuhku yang sudah basah. Aku membalasnya. Rasa riang menyelubungi kami. Kami tertawa terbahak dengan gembira. Kami bebas tanpa ada kehadiran orang lain satupun di situ.

Rasa janggal dimulai saat aku membenamkan diriku. Entah kenapa tiba-tiba kontolku menegang tanpa terkendali. Sh*t! Aku merasa tidak enak hati pada Heru. Namun justru sebaliknya Heru menangkap kejanggalan yang semakin nyata ini dan kami terdiam. Heru mendekatiku. Mataku tak bisa kutahan untuk tidak melirik bagian kemaluan Heru. Sh*t! milik Heru sudah mulai membesar. 

"Her!..." kutahan dadanya supaya tubuhnya tidak lebih mendekat. Mata Heru tajam membuka kunci hatiku. Mulut Heru diam terkatup tapi matanya bicara banyak, 'Biarkanku memuaskanmu. Aku suka kamu. Aku ingin mencurahkan sayangku dan nafsuku ini untukmu'. Tatapan itu... membuat tangan yang menahan dada Heru berubah menarik punggung Heru untuk mendekat. Kami melakukan ciuman bibir yang sangat lama di bawah Curug Sewu Banyu. Momen ter*** (tak terdefinisi) selama aku hidup.

Sebentar saja tubuh depan kami sudah saling melekat. Merasakan hangatnya tubuh yang bersatu. Ya, masih di tengah desau air terjun Curug Sewu Banyu hanya kami berdua. Tangan bergerayang memijat punggung Heru yang kekar. Sementara Heru memelukku kencang sampai nafasku terasa sesak.

Aku masih ingat desah nafas kami. Pandangan kami. Seakan kami saling mencurah jiwa kami supaya dimengerti. Hasrat kami supaya dipuaskan. Segala keinginan kami untuk ditanggapi. Dengan ciuman yang panjang, elusan dan gesekan kontol, kami merasa semuanya lengkap. Kami saling mengerti, memahami, menerima, dan mampu melengkapi yang kurang pada kami. Ini bukan sekedar memuaskan nafsu sex tapi lebih jauh dari itu.

Tubuh bagian belakangku terasa dingin. Heru mengamitku untuk ke pinggir. Ah.. tapi saat kulirik kemaluan Heru masih merah berdenyut ke atas. Tanda dia masih ingin. Kontolku pun begitu. Kami berjalan beriring melompat bebatuan ke pinggir sungai. Dekat pakaian kami ada satu tempat yang landai dinaungi sebuah pohon besar yang tak kuketahui namanya.

Heru menghamparkan tikar dari dalam ranselnya. "Hei! Kamu sudah merencanakan ini semua ya?" tanyaku.

"Ah tidak juga. Hanya sekedar jaga-jaga." Heru tersenyum maniss sekali.

Dia mengerinkan tubuhnya dengan kibasan lalu berbaring di tikar. Aku melongo.

"Ayo kemarilah!" ajaknya.

Aku ragu, tapi tak tahan melihat Heru yang memainkan kontolnya sendiri memancingku. Aku duduk di sebelahnya. Heru menarik tanganku supaya menggenggam kontolnya. Segera akupun mulai mengocok kontol Heru. Ahhh! Heru melenguh keenakan. Matanya terpejam saat kupandang.

Tanpa mempedulikan bagaimana tanggapan Heru, kuhisap kontol itu. Ahh ini rasanya menghisap kontol pria seperti di film-film biru yang kadang kutonton. Ada rasa hangat, kulit bergelambiran, rasa yang aneh. Ah kalian yang belum pernah, coba rasain sendiri deh! Kuhisap kontol itu, kulirik kepala Heru yang dilempar ke kanan dan ke kiri. Tangannya mencoba menahan kepalaku supaya tidak menghisap. Tubuh Heru bergetar. Pantatnya ikut terangkat mungkin karena keenakan.

Tangan kananku yang menggerayang di dada Heru dipegang erat sehingga tak bergerak. Tangan kiriku terjepit di antara selakangan saat kurangsang lubang pantatnya. Satu-satunya jalan melepas keduanya adalah hisapan agak longgar dengan cepat. Slurrp! jlep! Sluurp jlep! begitu kira-kira bunyi yang membuat seluruh tubuh Heru kehilangan koordinasi. Tanganku bebas menjelajah lagi. Namun sejenak kemudian dia tersadar dan mulai bertahan lagi. Kulakukan oral lagi. Heru terlena. Saat jariku ke pantatnya dia tersadar dan bertahan lagi. Kejadian itu berlangsung berkali kali. Hingga akhirnya Heru mengerti dan membiarkan jariku menembus lobang pantatnya.

Heru pasrah menikmati tiap hisapan mulutku. Bibirnya digigit sendiri menahan nikmat birahi. Jemari kananku memainkan puting dan terkadang meremas dadanya. Jemari kiriku sibuk merangsang lubang dubur dan titik g spot di bawah bola-bola kemaluan. Setelah Heru mampu menyesuaikan diri dengan birahinya, dia juga tak mau kalah mengonani kontolku yang bebas tegang. 

Sekarang ganti aku terkadang harus berhenti menghisap untuk mengendalikan birahi. Remasan dan kocokan Heru begitu pas, seperti mengocok sendiri saja. Terkadang tangan kiri Heru berhenti mengocok untuk memberi kesempatan pada ibu jarinya memutar-mutar titik pertemuan kepala dan batang kontol. Rasanya hmmm...

Setelah pipiku terasa agak pegal dan bibirku baal karena terus menerus mengisap, aku memberanikan diri berganti posisi menindih Heru. Kontol kami berdua kugenggam erat. Sebetulnya tak terlalu erat karena tak muat pada satu genggaman tangan. Kukocok kontol kami sambil kumaju mundurkan pantatku. Posisi tak stabil tapi sepertinya Heru senang karena dia tersenyum dan merengkuh tubuhku lebih mendekat ketubuhnya.
Kelamaan kontol Heru yang semula licin mulai mengering karena hembusan angin dan panas tubuh kami berdua. Sekarang gantian keringat di badan Heru dan badanku melicinkan badan kami. Kubiarkan kontol Heru menggosok perutku dan kontolku menggosok perut Heru. Licin dan hangat rasanya. Ada getaran-getaran enak di kepala kontolku. Tiap gesekan menghasilkan satu getaran sehingga tak ingin rasanya mengakhiri.

"Mau yang lebih enak Rob?" tanya Heru tiba-tiba.

"Apa?"

Heru mendorong tubuhku supaya ke pinggir. Dia sendiri lalu menungging.

"Ayo.." Heru mempersilahkan. 

Aku mengerti lalu aku mendekatkan kontolku ke lubang duburnya. Aku mencoba memasukkannya. Terus terang ini pertama kali aku main anal. Biasanya paling cuma saling menggesek saja. Ah, ternyata tidak semudah tayangan di film biru. Lubang itu terasa keras dan sepertinya tidak mungkin dimasuki, apalagi oleh kontolku. Wajah Heru pun tampak kesakitan saat aku mencoba menembus lobang berkerut itu. 

"Tak usahlah Her..." aku merasa kasihan.

"Ayo coba terus, nanti pasti bisa." Heru memberi semangat.

Aku mencoba lagi. Memang tidak mudah. Kontolku kuludahi seperti di beberapa cerita yang pernah kubaca. Ujung kepala kontolku tepat kuletakkan di bagian pusat lubang lalu kutekan dengan perlahan. Heru menjerit tertahan. Kontolku pun terasa agak sakit terjepit. Aku berhenti sebentar untuk menahan sakitku. Lalu kulanjut lagi. Yah, paling tidak sekarang sudah separuh masuk. Masih menurut beberapa cerita, aku harus berhenti sebentar supaya lubang dubur Heru agak terbiasa.

Menyenangkan melihat punggung Heru yang memerah tercetak pola tikar. Keringat yang mengkilat di tengguknya. Bisep dan trisepnya yang nampak seksi karena posisi menunggingnya. Juga pantatnya yang berisi penuh sedang di tengahnya ada kontolku yang sudah masuk separuh.

Kutarik kontolku sedikit supaya tidak lepas dari lubang sempit itu. Waaa hh rasanya ... kumasukkan lagi, wuaahhh dua kali ahh! Kutarik lagi enak sekali rasanya.. kumasukkan lagi, dua kali enak sekali. Semakin sering semakin enak dan dalam waktu singkat rasanya mau orgasme. Rojokanku semakin cepat, Heru tampaknya sudah mulai menikmati. Sekarang bukan lagi separuh yang masuk melainkan sudah hampir semua. Aku senang dengan bentuk kontolku sendiri saat ditarik keluar dari pantat Heru. Tampak mengkilat dan kencang sedikit berurat.

"Her.. aku hampir nihh" kataku sedikit bergetar. 

Heru tak menjawab. Dia menikmati setiap hempasan kontolku dalam duburnya. 

"Her.. sekar....ahhhhh" tak sempat aku menyelesaikan pemberitahuanku. Maniku menyemprot kencang ke dalam perutnya. Kupeluk punggung Heru erat untuk menumpahkan segala kenikmatanku. Hampir semenit aku memeluknya. Lalu tangan kananku meraba bagian kontol Heru... Loh kontolnya sudah menyusut, ada cairan kental di ujungnya. 

"Kau... kapan?" sambil tanganku sedikit mengocok kontolnya. 

Heru merebah ke samping. Aku pun tetap menempel di punggungnya. Kontolku masih di dalam dubur Heru. Kepalanya menengok ke kepalaku. Dia tersenyum lalu menggigit lemah bibirku.

"Aku suka sekali sama kamu" senyumnya manis sekali.

Kami menyudahi permainan itu dengan mandi bersama di Curug Sewu Banyu sekali lagi. Kami mandi telanjang di bawah air terjun. Terkadang di selingi ciuman dan rangkulan. Tapi kami tidak melakukannya lagi.

***
Selesai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar