Sabtu, 31 Maret 2012

buruh bangunan

Orang  tuaku tidak terlalu kaya, Bokap adalah PNS dengan gaji standard. Dia kerja di  Jakarta , dan jarak antara rumah kami di Ciawi (Bogor) ke kantornya di Jakarta ditempuh dengan angkot dan bis sekitar 2 jam. Nyokap membuka usaha kecil2an di PASAR yang buka sampai malam.

Ortu punya 3 anak, dua kakakku adalah CEWEK semua, dan cuma aku satunya yang COWOK, sebagai anak BUNGSU, namaku EDWIN.

Walaupun rumah kami terletak di gang yang KUMUH, tapi memiliki banyak kamar2, sehingga untuk menambah ekonomi keluarga, 4 KAMAR PETAK disewakan sebagai TEMPAT KOST2AN murahan, yang biasanya dihuni  se-kamar berdua, oleh para pegawai rendahan,  sopir atau pedagang  dari luar daerah yang bekerja di seputar Ciawi.

Di masa dulu itu, bokap sering ambil obyekan dan kerja sampingan dan hampir tiap hari Bokap baru sampai ke rumah sekitar jam 21-22 malam. Nyokap juga sering baru sampai rumah malam. Kakak-kakak cewek sibuk dengan kegiatan sekolah atau eskul sampai sore hari, sehingga setiap pulang sekolah, aku sering berada SENDIRIAN di rumah.

Suatu kali datang 3 orang KULI/BURUH BANGUNAN, yang disuruh ortu untuk mengerjakan berbagai perbaikan rumah dan kamar-kamar petak, juga mengganti  genteng2 yang bocor.

Umur 2 orang kuli sepertinya tidak terpaut jauh. BANG BURHAN 30 tahun, sudah menikah dan punya 2 anak yang ditinggal jauh di kampung.  MAS TONO berumur 29 tahun, juga sudah beristri dan punya 1 anak.

Buruh bangunan yang paling muda namanya: MAS DIKIN.  Wajahnya lumayan cakep dan tampangnya terlihat alim. Dia tidak terlalu tinggi, badannya langsing dan pinggangnya ramping.   

Umur MAS DIKIN mungkin baru 22 tahun. Masih muda banget!, tapi dia sudah  punya 3 anak..!!.  Dia katanya menikah waktu umur 18an tahun, artinya istrinya melahirkan anak setahun sekali. Malah katanya istrinya baru hamil lagi anak ke-4.  Gile benerrrr!.
Kalau sedang mengerjakan PR di teras belakang aku suka memperhatikan ketiga buruh bangunan itu bekerja dengan bertelanjang dada. Entah kenapa aku suka sekali melihat tubuh kekar mereka yang bercucuran keringat, terlihat jantan dan cowok banget, macho!.  

Ketiga kuli itu semuanya baik terhadapku. Malahan, kalau aku pulang sekolah, BANG BURHAN suka menemani aku dan cerita macam2, mungkin dia kasian melihatku sendirian di rumah
 
Bang Burhan juga kebapakan, sifatnya melindungi dan ngemong. Aku menduga Bang Burhan menganggap aku seperti anaknya karena dia kangen sama anak2nya di kampung.

Mungkin karena Ortu jarang dirumah dan aku kurang mendapat perhatian dari Ayahku yang super sibuk, atau mungkin karena tidak punya saudara laki-laki, perasaanku senang dengan kebaikan dan perhatian Bang Burhan.
Malahan lama2, perasaan  itu berubah jadi KEKAGUMAN pada Bang Burhan.
Padahal tampang BANG BURHAN biasa saja, tapi entah kenapa, aku merasa bahwa dia itu laki laki yang gagah.

Pernah Bang Burhan mencuci dinding, sehingga dia bekerja hanya mengenakan celana kolor ketat.  Dengan santai, dia mencuci dinding. Tentu saja air terciprat dan membasahi badannya. Dalam sekejap mata, celana kolor itu basah kuyup.

Berhubung celana itu agak tipis dan ketat, pantatnya yang padat itu tercetak dengan jelas.  Kusaksikan cetakan di balik celana yang basah itu mempertontonan TONJOLAN yang KOKOH di selangkangannya.  Terlihat menggemaskan.

"Aahh, besar sekali," gumamku didalam hati dengan perasaan kagum.

Namun terkadang, aku merasa ada sesuatu dalam diri Bang Burhan yang MISTERIUS  karena dia juga sering menatapku secara diam-diam.  Aku tidak tahu misteri apa yang disembunyikan oleh Bang Burhan.

Tanpa kusadari BANG BURHAN rupanya sering MEMERGOKI tatapan mataku sehingga dia tahu bahwa dirinya sering aku perhatikan.  Mungkin waktu itu Bang Burhan heran melihat aku sering memandang dirinya atau menatap jendolan di selangkangan dia. 
 
Suatu hari saat aku pulang sekolah, mendadak turun HUJAN DERAS sehingga aku segera berlari ke rumah, tapi ternyata aku ketinggalan kunci sehingga aku tidak bisa masuk rumah dan terpaksa duduk di teras belakang.

Pada saat yang sama kulihat BANG BURHAN juga buru2 turun dari genteng dengan badan  basah kuyup. Lalu dia ikut2an menunggu hujan reda berdua denganku di teras belakang. Tubuhnya yang basah kuyup terlihat begitu sexy, sehingga aku terus menatap dan memperhatikan

Bang Burhan rupanya menyadari bahwa aku terus memperhatikan tubuhnya yang setengah telanjang itu.

 “Walah… kok medheni ngono (menakutkan begitu) kamu ‘Dik’ … masak kamu memperhatikan aku sampai kayak begitu?” kata Bang Burhan.

Dengan lugu aku menjawab: “Abis Bang Burhan gagah sekali”

“Hehe.. kamu ojo ngono lah (jangan begitu)… aku nanti Ge-Er…” katanya

“Ndak percaya sih?. Kalo aku cewek mungkin aku sudah naksir sama Bang Burhan… liat tuh… badan Bang Burhan besar, tegap, tangannya kuat, dadanya bidang… banyak bulunya lagi…” jawabku polos

 “Jangan begitu ah. Coba kalo aku yang perhatiin kamu kayak gitu… apa kamu ndak takut kalo saya naksir kamu?”

Lalu Bang Burhan berdiri dan dengan cuek dia membuka celana pendeknya dan menggantungnya di kawat supaya cepat kering.

Tahu sendiri lah, kuli-kuli bangunan kalau ganti baju seenaknya, telanjang di depan orang. Kalau kerja biasa telanjang dada, cuma pake celana pendek atau jeans dan kadang nggak pake celana dalam. Kalau pipis seenaknya, dan kalau sudah sore, mandi bareng2 dengan pintu kamar mandi terbuka 
 
Saat itulah aku melirik ke arah selangkangan Bang Burhan.

Wwooo...!.
Nampak celananya kolornya menjendol.  Sepertinya ada yang mendesak dari dalamnya, otomatis mataku terpana memandang tonjolan alat kelamin Bang Burhan dibalik celana dalamnya.

Rupanya tatapan mataku yang melotot kepergok oleh Bang Burhan.
“Lho knopo tha ‘Win? Kok manukku mbok plototi ngono?” (Lho, kenapa sih Win, kok kamu memperhatikan kemaluanku begitu?)
Dek Win suka?”  tanya Bang Burhan dengan perasaan risih karena selangkangannya kuperhatikan begitu.
.
“Suka apaan?”
Aku pura2 tak mengerti pertanyaan dia. Malu.

“Adek suka sama Abang ya??” Bang Burhan bertanya

Dengan polosnya aku mengangguk diluar kesadaranku.

 “Abang tahu kok Dek Win suka ngeliatin selangkangan Abang.”

“Hahhh?” 
Aku gelagapan karena ketangkap basah.

“Adek mau lihat ‘burung’ punya abang gak?” tanyanya lagi
Lalu secara demonstratif Bang Burhan mengelus-ngelus jendolan kontolnya.

Lagi2 dengan begonya aku mengangguk.

  ******

Matanya CELINGUKAN, tengak-tengok ke kiri kanan, takut ketahuan.

Lalu, sedikit-demi sedikit ia menyingkapkan sehelai celana dalam penutup aurat ke bawah. Bebuluan mulai saling kejar-mengejar di sepanjang kaki dan lutut Bang Burhan. 

Ketika celana dalam itu sudah merosot sampai lutut Bang Burhan, hawa ruangan itu berubah. Aroma lelaki terpancar kuat dari pangkal paha yang rimbun itu.
Jantungku berdegup semakin kencang.
Satu setengah meter dihadapannya, aku duduk dengan pandangan terbelalak menatap kemaluan Bang Burhan yang indah terkulai. Biji lelaki kembarnya seakan bersarang di atas bebuluan yang hitam dan lebat.  Batang zakarnya terlihat nyaman bersemayam. Kepala kemaluannya berbentuk jamur besar.

Tanpa malu2, Bang Burhan mempertontonkan alat kelaminnya yg masih lemas.
“Bagus gak ‘burung’ Abang?” tanya dia menyelidik.

Dasar bego!,  aku lagi lagi mengangguk  dan menjawab: “Iya bagus Bang. Gede banget”

Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Bang Burhan, tapi mendadak dia ngomong.
“Bisa dibikin lebih gede lagi”.

“Gimana caranya?” tanyaku.

 “Ayo Dek, kita ke kamar belakang aja yuk??” katanya.

Bang Burhan menutup celananya lagi, lalu dia meraih tanganku untuk mengikuti dia.
 
Begitu masuk di bedeng buruh, hidungku langsung mencium bau keringat dari tubuh2 lelaki gempal para buruh itu. Baunya jantan, ada kesan bau campuran rokok dan bau keringat pekat yang membuat aku gelisah.

Aku duduk di tikar yang dipasang di lantai sambil menggigil kedinginan.

Melihat aku menggigil kedinginan, Bang Burhan mendekat.
“Kesini deh, Abang pelukin Dek Win biar hangat” katanya sambil merangkul tubuh kecilku dari belakang sehingga dapat kurasakan badannya yang hangat menempel.

Aku ditariknya ke dalam rangkulannya tubuh lelaki yang kekar ini, lalu aku disuruh menyandarkan kepalaku ke dadanya yang bidang dan lebat bulu itu.  Aku nikmati saja gesekan pipiku pada bebuluan kasar Bang Burhan di sana. Aroma khas lelaki sejati dapat aku rasakan dari balik ketiak yang penuh rambut itu.

Aku senang sekali dipeluk oleh lelaki jantan berbadan kekar yang telanjang. Tapi yang membuatku berdebar adalah saat tanganku bersinggungan ke selangkangan Bang Burhan dan merasakan jendolan alat kelamin dia di balik celananya.

  ******

Dan saat aku menunduk dan melihat ke selangkangan Bang Burhan, dan tepat di persimpangan paha kekar lelaki yang bermandikan keringat itu, seonggok benda tumpul dengan gagahnya tercetak jelas dari balik celana kolor yang dia pakai.

Entah kenapa aku merasa penasaran:
“Boleh pegang Bang?” tanyaku dengan polosnya

"Ah, wong podo lanange koq dulinan kontol" (sama-sama lelaki kok maenin kontol) katanya.

"Enggak opo-opo, aku seneng nek ndelok penis sih dowo ngene," (aku suka lihatnya) jawabku.

 “Ya boleh deh!, Adik boleh pegang”.
Bang Burhan berkata begitu, tapi didalam hatinya dia merasa aneh mengucapkan kata2 itu. 
Bang Burhan yang sudah beristri dan sudah punya 2 anak, merasa heran karena tiba tiba saja dia merasakan gelora nafsu yang membara terhadap anak majikannya itu.

Sekali lagi, matanya CELINGUKAN, lihat ke kiri kanan, takut ada orang mengintip ke dalam kamar.

“Nih, pegang ini Dik..”
Dan mendadak Bang Burhan meraih tanganku dan aku disuruh memegang celana dalam tempat alat kelaminnya bersarang.


   -------------------------------------------- 

Bang Burhan membiarkan jari-jari tanganku bermain di tonjolan yang masih tertutup celana dalamnya. – Rupanya pegangan tanganku merangsang Bang Burhan.

Heran..!, daging kenyal yang tadinya masih lemas, perlahan tapi pasti seonggokan daging zakar Bang Burhan mulai membesar dan mengeras diantara pahanya yang kekar hingga terasa oleh genggaman tanganku.

“Wah iso mlembung manu’e yo Bang?(Wah, kok bisa berdiri ya?) kataku dengan polosnya.

Dengan susah payah Bang Burhan menahan napsu birahinya kepada ku. Dia berusaha terus terus dan terus untuk ‘eling’ (ingat - sadar).  Orang-orang bilang nafsu itu dosa… apalagi dia sadar, umur aku masih terlampau muda belia.

“Jangan lah, nanti aku lepas kendali, tak tahulah apa yang akan terjadi…” Demikian mungkin pikir Bang Burhan

Tapi mungkin suasana yang sepi dan hujan membuat Bang Burhan kehilangan akal sehatnya.
Kulitku yang yang kecoklatan terlihat mulus sekali.
Tapi yang membuat Bang Burhan gemas mungkin parasku… di matanya terlihat lucu sekali… cakep…  seperti anak-anak juragan. Ingin rasanya Bang Burhan mencubit bokong (pantat) ku yang mungil, kenyal dan bundar.
 ----------------------------------------- 

Dan Bang Burhan membelai belai rambutku yang basah dan meraba raba tubuhku yang masih menggigil kedinginan.
“Abang suka sekali sama anak cakep seperti Dek Win katanya merayu aku sambil membelai belai sekujur tubuhku yang masih menggigil kedinginan. Bahkan tangannya mulai menggerayangi dadaku dan bibirnya mencium tengkuk dan leherku dari belakang.

Entah kenapa aku seperti terhipnotis oleh perlakuan Bang Burhan, sehingga aku biarkan saja saat celanaku DIPELOROTKAN oleh dia sampai aku telanjang.

Sebagai bocah remaja yang masih hijau dan tak berpengalaman, aku diam saja dan membiarkan diriku dicumbui untuk pertama kalinya oleh seorang laki laki dewasa.

Bang Burhan kelihatan sudah terangsang hebat dan sangat bernafsu.
Tanpa malu2, dia langsung membuka celana dalamnya.. Tangan kanannya langsung merogoh dan mengeluarkan kontolnya.

‘Aduh, enak nih kalau di pijat-pijat’. 
“ Adek bantu pijatin yah.……’. ‘Hhee eehh…….’.
‘Ayo Dek pijitin, enakkk banget dehhh…’.

Tentunya sebagai lelaki hetero yang normal Bang Burhan tidak mungkin  akan meminta aku melakukan perbuatan yang aneh2,  paling minta kontolnya dipegang atau maksimal dikocok atau diloco (atau mungkin dia tidak tahu harus berbuat apa).

Bang Burhan menarik tanganku dan aku disuruh meraih dan menggenggam batang daging kelaminnya.
Akhirnya tangan kananku memijat-mijat dan mengurut-urut. 

Kontol Bang Burhan ternyata ngaceng makin kerassss!!!.
Bang Burhan mendesah merinding.
Dia bilang pijatanku nikmat banget.  Dia bilang udah lama kepingin dipijitin macam ini.
‘Oooohhh Dik …., ennaaakkk bangettt…….’.

  ******

 “Dek Win, ,.. Adik … CIUM kontol Abang yaaaahhhhh……??, dengan sedikit serak dia
membisik.  

Ahh, akhirnya terucap juga!.
Dia mendorong kepalaku ke bawah karena rupanya dia minta aku mencium kontolnya

Tanpa menunggu jawabanku, Bang Burhan langsung menyodorkan kontolnya ke arah bibir mungilku.

Dengan patuh, awalnya aku mencium bongkah daging kontol yang dahsyat itu, tapi Bang Burhan MENUNTUT LEBIH.

"Isepin donk Dik. Abang udah nafsu berat, nih," pinta Bang Burhan membujuk sambil membelai-belai rambutku.

Awalnya aku ingin menolak karena menelan kontol masih kuanggap menjijikan.
Disuruh ambil jemuran yang ada celana dalam orang lain saja aku masih jijik, apalagi suruh ngoral (gak nyambung ya? Hehe...)

Tapi tanpa ba-bi-bu, disorongkan penis Bang Burhan itu ke mulut ku..  
Awalnya aku menutup mulutku rapat2 karena memang aku masih JIJIK kalo disuruh malahap alat kelamin itu.  

Karena aku masih menutup bibir2 ku rapat .. bang Burhan sepertinya agak marah...
"Ayo mangap po'o..  Enak kok.. Tenan aku ga mbuju'i " (dia meyakinkan aku kalo ngoral itu enak...)

"Moh mas.. mambu!".. aku menolak karena takut kalo bau

"Gak .. gak mambu.. Iki mau sak durunge tak wisuhi disek karo sabun "
Hehe... Bang Burhan bisa saja mebujuk aku..  (dia bilang kalo kontolnya nya sudah di cuci dengan sabun ...)

  ******

Karena desakan dia, maka dengan patuh aku pelan-pelan membuka bibirku lebar-lebar.
Setelah itu Bang Burhan memasukan penis nya lagi ke bibirku... dan akhirnya penis Bang Burhan bersarang dimulut ku..

"Anak pintar," puji Bang Burhan seraya mendorong kontolnya masuk dan menyuruh aku mencaplok dan mengenyot-enyotnya.

Mau tak mau, aku harus menerimanya.
Cairan pre-cumnya bocor dari lubang kontol Bang Burhan, meluncur ke lidahku. Rasanya agak asin dan terasa licin di lidah. Pelan tapi pasti, aku mulai terbiasa dengan rasa precum.


SLURP! SLURP! SLURP!
Didorong oleh insting kehewanan, aku melahap ular tidur tersebut di dalam mulutku.

Bang Burhan-pun seketika mengerang merasakan kenikmatan jasmani tersebut.  
Tubuhnya kemudian berbaring terlentang di atas dipan. Seperti layaknya seorang ibu yang hendak melahirkan, Bang Burhan membuka pangkal pahanya agar aku lebih leluasa bergerak memuaskan keinginan dia.

Aku menghisap batang zakar itu naik turun.  Aku mengulum kepala kemaluan itu seakan sedang menikmati santapan terlezat seolah olah aku sudah terbiasa ngoral, padahal seumur hidup aku tak pernah melakukan hal seperti itu.

Aku bingung kenapa aku kok mulai suka cita rasa batang kontol Bang Burhan?.

Bang Burhan merasa benar-benar santai dan ia meletakkan kedua tangannya di belakang kepala sebagai bantalan. Bulu dada lebatnya yang tampak basah oleh keringat terus merambat hingga menjumput dibalik kedua ketiaknya.

"Aahh.. Oohh.. Sedot terus, aahh.." desah Bang Burhan, memejamkan matanya, merasakan mulutku yang menyelimuti kontolnya.

"Oohh.. Aahh.. Abang mau muncrat.. Oohh.." erang Bang Burhan, tubuhnya basah dengan keringat

“Ugh… ugh….” Bang Burhan terus mengerang.
Tubuhnya terkejang kejang oleh desakan kuat yang seakan hendak meledak sampai sekujur tubuhnya merinding oleh suatu kenikmatan yang mengunyah dirinya. 

Aku juga menyadari perubahan geliat tubuh Bang Burhan tapi aku tak sepenuhnya mengerti bahwa reaksi tubuh lelaki seperti itu sebenarnya pertanda dekatnya klimax seksual yang sedang dialami Bang Burhan.

Tubuh Bang Burhan mulai mengejang-ngejang. Kontolnya yang bersarang di dalam tenggorakkanku terasa menggembung.

‘Waaduuhhhh Adeeekkkk ……., amppuunnn eennaakkknyaa…….
Wwwwwooooo. Aaarrrcchhhhhhhh…’.

Mungkin karena terlalu bernafsu Bang Burhan tak mampu mengendalikan diri
“Oohh!! Dek!. Aku mau keluaaaar!”

  ******

Sebenarnya, Bang Burhan berniat ingin mencabut kontolnya keluar karena tidak tega menyemburkan maninya di dalam mulutku. Baginya, hal itu terasa seperti merendahkan martabat anak majikannya itu.

Namun karena saat itu kepalang tanggung dan tak mau melepaskan kontolnya; aku terus menghisap dan menghisap.
Dan Bang Burhan tak tahan lagi. Dia harus ngecret, sekarang juga!!

Kemudian dengan cepat Bang Burhan memuntahkan lahar putih panas dan air maninya menyembur deras, membanjiri kerongkonganku yang baru pertama kali mencicipi sperma laki-laki.

Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!!

Dan dengan itu, Bang Burhan meledak. “Aarrgghh!!”

Berulang kali ia memuntahkan cairan kenikmatannya di dalam rongga mulutku hingga dia terkulai lemas dalam kuluman dasyat itu. Setiap tembakan pejuh, diiringi jeritan dan erangan nikmat dari mulut Bang Burhan yang bergetar menahan nikmat.

Tubuh Bang Burhan tergolek lemas tak berdaya, letih sekali setelah mengalami klimaks yang luar biasa.

Aku agak bingung dan sibuk. Rasa pejuh itu macam kelapa kopyor. Cairan kental itu gurihnya bukan main. Sebagian langsung terminum olehku dan sebagian lain ada yang nyiprat ke pipiku, ke dagu, ada di tangan dan sebagian lain di leher dan tercecer ke lantai.

‘Maaf Dek, aku nggak bisa tahan nafsu tadi. Sungguh, aku nafsu banget …. Uuhhhh…’,

Suara Bang Burhan terdengar khawatir.  Maklum ini mungkin merupakan perbuatan yang pertama kali dilakukan oleh Bang Burhan.  Masih besar rasa takutnya.

Aku tak mengerti bahwa cairan yang barusan aku reguk sebenarnya lendir sperma yang merupakan benih benih manusia keturunan Bang Burhan.


   -------------------------------------------- 

Ya ampuuun...
Bang Burhan sebagai orang kampung yang lugu, ternyata MENCERITAKAN semua kejadian yang pertama itu secara terus terang kepada MAS TONO dan MAS DIKIN, teman2nya para kuli bangunan itu.  

Mereka bertiga melihat ke arah aku sambil ngobrol dan ketawa cekikan, pastinya membicarakan aku.

Tanpa diduga, keesokan harinya Bang Burhan bilang: “Dikin dan Tono juga kepengen mencoba Dek”

Aku kaget. Aku tidak mengerti maksudnya.
“Mencoba apa Bang??”

“Pengen dikenyotin kontolnya oleh Adik”

Tentu saja aku menolak.

 “Lho kenapa?. Kan mereka ganteng-ganteng dan burungnya besar2 lho? katanya.

Aku pura2 diem, tapi penasaran gimana bentuknya kontol kedua kuli yang lain.


   -------------------------------------------- 

Siang itu juga, Bang Burhan langsung mengajak aku ke kamar kuli dan menyuruh MAS TONO dan MAS DIKIN ikut masuk.

Aku yang masih terkejut mendengar permintaan itu menatap Bang Burhan, sementara Mas Dikin dan Mas Tono segera menyandarkan badan di dinding kamar.

Bang Burhan kemudian beranjak duduk di belakangku dan memeluk aku dari belakang, lalu dia mengusap-usap rambutku yang lembut, selayaknya sikap seorang kakak terhadap adiknya sendiri.

 Nah, Adik kan enak, bisa sedotin 3 kontol” katanya

Ketiga pria gagah di hadapanku mulai menapakkan kaki mereka dan naik ke dipan. Satu persatu, para kuli itu perlahan memelorotkan celana kolornya masing-masing.   Pertama Bang Burhan dan Mas Tono

“Tuh liat Dik…  Burung kami besar-besar kan?, Adik seneng ndak?”

Aku mengangguk sembari terkesima saat menyaksikan kedua kemaluan lelaki yang berbentuk sangat indah itu terpampang di hadapanku.   Keperkasaan yang diapit oleh sepasang paha yang rata rata kukuh dan kekar itu bagai memancarkan daya magis yang menghipnotis aku.
“Sekarang Adik kenyotin kontol kami ya?  Kata Bang Burhan

“Ya, kami bertiga bersedia menyusui  Dik Edwin …” Kata kuli yang lain

Tubuh-tubuh kekar yang kini sudah bertelanjang bulat mengibarkan aroma kelelakian yang dahsyat di gubug kecil itu.

Mereka bergiliran minta diisep:
“Supaya Dik Edwin puas menyusu dari kontol kami bertiga”

Gila!.
Hebatnya kuli2 berbadan kekar itu mengerubuti badan telanjangku dengan bernafsu.
Heran yah, kok cowok2 itu pada gede nafsu?.

Aku hanyalah makhluk kecil yang dipenuhi rasa-ingin-tahu, dan tak berdaya dalam kepungan 3 lelaki-lelaki dewasa yang penuh birahi.

Aku mulai melayani kemauan mereka satu persatu secara bergantian. Yang pertama Bang Burhan, kemudian Mas Tono juga secara begiliran. Sedangkan MAS DIKIN dengan sabar menantikan giliran.

Desah dan rintihan kenikmatan saat para pemuda itu satu persatu menjejalkan batang kelaminnya kedalam mulutku dan memuntahkan air mani mereka yang panas. 

Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!!
Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!!
Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!!

Tak henti2nya burung-burung para kuli itu memuntahkan pejuh yang panas. Erangan kenikmatan terdengar saat  mereka terlempar ke klimaks kepuasan secara bergiliran dan menebarkan birahi yang mengambang disetiap sudut kamar itu.....


   -------------------------------------------- 

Ketika giliran tiba giliran MAS DIKIN yang sekarang menyibakkan celana, aku terkejut.

Mataku terbelak!.
Dan kaget saat dia memperlihatkan harta karun nya yang paling berharga…

Oohh dewa dewa...!.
Sekonyong- konyongnya aku lihat organ tubuh manusia yang paling sexy..
Wwwooooooo….., panjangnyaaaa, gedenyaaa………!

Kontol Mas Dikin...  ternyata sudah ngaceng!.  Terlihat begitu gagah, kokoh, perkasa!. 

Kontol itu teracung acung di depanku. Batangnya agak bengkok ke atas, kepalanya yang besar bak cendawan yang mekar berwarna agak kemerahan.  Kontol yang gagah itu terlihat amat gemuk, dan panjangnya sungguh fantastis.  Seumur hidupku, baru pertama kali itulah aku melihat kontol laki laki yang berukuran sebesar itu!.

Heran!.  Padahal badan Mas Dikin yang paling KURUS diantara mereka.
Siapa sangka dibalik tubuhnya yang CEKING, dia ternyata menyembunyikan sebongkah daging kelamin yang amat luar biasa!. Jauh lebih besar dari kepunyaan Bang Burhan dan Mas Tono.

Ukuran yang dahsyat itu sungguh abnormal. Apakah itu karena kesalahan genetika?. Bahkan sampai dewasapun, aku tidak pernah lagi melihat ukuran alat kelamin lelaki yang se-dahsyat punya Mas Dikin!.

  ******

Mas Dikin duduk menyandarkan badan ke dinding sambil melebarkan kakinya sampai terbuka, kemudian dia meraih kepalaku ke tengah selangkangannya.

Astaga..!. Rupanya Mas Dikin sudah tidak sabaran.
Baru saja aku membuka bibirku, tahu-tahu pemuda gagah itu langsung menjejalkan kontol gedenya ke dalam mulut ku...

Respon awal ..., rasa mual menyergap... 
Batang kontol Mas Dikin yang gede panjang menerobos sampai ke dalam tenggorokanku.

Huekkks..  
Hampir saja aku muntah

Mas Dikin sebetulnya pria yang pendiam dan paling alim, tapi dia malah bilang:
" Dancok..... di kek'i  enak kok malah mau muntah " umpatnya. (Dia bilang di kasih yang enak kok malah mau muntah).

"Llha sampeyan sih Mas, kontol sak gedebog ngono kok di lebok no kabeh. aku yo kaget.,..”(Aku bilang ke Mas Dikin kalau penis segitu besarnya kok di masukkan semuanya).

"Yo wes pelan2 wae.. tapi ojo muntah maneh yo" . (Dia bilang akan masukin penis dia lagi tapi pelan..).

Begitu kontol Mas Dikin yang belepotan pre-cum itu menyentuh jauh ke tenggorokanku, kembali aku merasa mual dan ingin muntah. Tapi kedua tanganku dipegang oleh dia dan aku tak mampu mengeluarkan kontol itu dari mulutku.

  ******

Birahi tinggi telah menghipnotis Mas Dikin.
Ular naga sebesar itu semakin galak dan semakin perkasa.  Buah kelelakiannya pun semakin mengencang, bau jantan semakin terasa intensitasnya.

Mas Dikin yang tadinya kukira lelaki yang alim, ternyata suka memaksa!. Dia ngotot. 
Kedua tangannya memegangi kepalaku dan dia sengaja men-dorong2  kepalaku untuk memberikan pengarahan bernafsu tinggi.

Tentu saja aku langsung kelimpungan. 
Kontol Mas Dikin itu wuuuiiihhh...!, kenceng, keras, gede dan panjaaaang.

Aku sampai megap megak tak bisa bernafas karena kerongkonganku tersumbat oleh batang kontol sebesar itu, tapi Mas Dikin terus saja mendorong-dorong kontolnya dalam gerakan ngentot.
Tak lama kemudian sang ULAR NAGA MENGAMUK dan Mas Dikin mengerang.....,
Merintih......,
Meracau …

Oooouugggghhhh…..!!.
CROOOTT.... CROOOTTT.... CROOOTTT...

Kontolnya terus menembakkan spermanya, dan lagi, lagi, lagi dan lagi.
Air mani yang sering membuahi rahim istrinya dan sudah menciptakan 3 anak-anak keturunan Mas Dikin, digelontorkan kedalam perutku.

“Hhoohh!! Aarrgghh!! Uuggh!! Oohh!!”

Mas Dikin terkapar di lantai kayu itu. Tubuhnya terasa lunglai seolah seluruh enerji kehidupannya sudah terserap oleh aku. Aku pun membiarkan batang berwarna hitam kecoklatan itu melemas di dalam mulutku. 

Tidak tahu berapa menit telah hilang dari hidupnya, Mas Dikin seperti tak sadar terlena keajaiban langit ketujuh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Mas Dikin kemudian menarik wajahku dan menciumku.  Dia dapat merasakan kentalnya cairan maninya sendiri di mulutku. Aroma sperma esensial  lelaki dewasa menyerbak dari gigi geligi kecilku. 

Kami berdua terjebak dalam ciuman mesra itu cukup lama sambil diperhatikan oleh Bang Burhan dan Mas Tono.

Aku merasa senang dapat membahagiakan 3 kuli jantan sekaligus siang itu.

Luar biasa kejadian siang itu dimana aku merasakan 3 kontol kuli-kuli kekar di mulutku, disembur dan ditanami benih-benih birahi dari tiga lelaki jantan, terutama dari kontol Mas Dikin yang ruarrr biasa itu. 


   -------------------------------------------- 

Sejak itu, nampaknya ketiga kuli bangunan itu benar-benar terobsesi oleh permainan baru.

Karena situasi rumah pada siang hari yang selalu kosong,  maka setiap kali sedang birahi naik, ada saja salah satu diantara para buruh bangunan itu yang menuntut untuk dipuaskan.  Tak perduli kapan dan dimanapun juga, mereka memelorotkan celananya, lalu sambil berdiri mereka menyuruh aku untuk menyusu dari kontolnya. 

‘Pejuhku enak Dik ?. Ini Mas mau kasih lagi yaaa !’, begitulah omongan mereka.
Suara mereka serak-serak dan tersendat menahan birahi yang masih memuncak.

Alat kelamin yang sifatnya merupakan organ tubuh paling pribadi dari tubuh laki laki dengan gampangnya disodorkan kedalam mulutku.

‘Adik kenyotin kontol Mas lagi ya?. Adik menyusu lagi ya?.  Supaya adik Puas menyusu Dik?!’.

Waktu itu rasanya para kuli itu seperti tak menghargai aku sebagai anak majikan, tapi entah kenapa, aku patuh saja menuruti kemauan mereka, malah aku senang melihat mereka bisa merasakan kenikmatan dan kepuasan jasmaniah seperti itu.
                                      
Dilain pihak, aku mengira ngisep kontol sesama lelaki adalah perbuatan yang wajar. Dan akupun mulai menganggap cairan sperma dari lelaki2 dewasa yang gagah sebagai PROTEIN utama yang jadi santapan rohani bagi diriku.


   -------------------------------------------- 

Suatu hari aku baru pulang sekolah,  tapi begitu sampai rumah secara DIAM-DIAM Mas Dikin mengajak aku ke bedeng buruh. Aku sebetulnya masih capai tapi dengan setengah paksa dia menarik aku masuk TANPA SEPENGETAHUAN kedua kuli yang lain.

Mas Dikin mencopot seragam sekolahku dan menelanjangi aku sampai tinggal celana dalam.

Tapi saat itu kejadiannya berbeda!.

Padahal biasanya, Mas Dikin cuma membuka ritsleting celana dan langsung menyuruhku ngisep kontolnya, tapi kali ini dia membuka seluruh pakaian sampai dia juga telanjang bulat!.  Itulah pertama kalinya aku melihat tubuh telanjang Mas Dikin, ramping, agak kurus, tapi sexy juga.

Mas Dikin langsung memeluk aku dan meraba raba tubuhku, lalu tangannya menyusup ke balik celana dalamku, mengusap usap buah pantatku yang mungil dengan gemas.

Kali ini Mas Dikin membaringkan aku, lalu dengan mesra pemuda gagah itu mencopot celana dalamku sampai aku telanjang bulat. Selanjutnya dia menciumi sekujur tubuh mungilku yang telanjang dengan bernafsu.   Lidahnya tertanam dalam mulutku.  Lalu lidahnya berpindah dan menjilati puting kecil di dadaku.

Setelah itu, tangan kiri Mas Dikin menggeser kedua belah kakiku dan membelai-belai belahan pantatku yang kenyal itu. Lalu tangan kanannya menjelajah menyisir selangkanganku dan jari jarinya menggelitik lubang anusku yang rapat dan masih perawan.

Aku tidak tahu apa yang dia ingin lakukan.

Lalu Mas Dikin mengangkat kedua kakiku ke awang-awang sehingga selangkanganku terbuka dengan jelas memancarkan celah sempit tepat di depan wajahnya.  Perlahan dia mulai menjilati pahaku yang empuk. Kemudian ia menciumi dan menjilati garis pemisah paha dan pantatku.

Sedikit demi sedikit lidah Mas Dikin kini dijilatkan di atas bibir anusku.  Wewangian yang merangsang rupanya tercium oleh dia yang segara menjilatinya dengan mesra.

“Mas…” suaraku mulai terdengar terengah-engah.
Otomatis aku mengerang.

Ya ampun, kuli yang pendiam dan alim ini kok nakal banget ya?.
Selama ini, Mas Dikin hampir tak pernah menyentuh daerah pantatku.  Tapi siang itu aku benar-benar terkejut. Sikapnya sangat berbeda dari biasanya!.

“Duuh Mas …, tolong…  Mas sedang ngapain …?”
Aku terperanggah, tak menduga kalau Mas Dikin mau melakukan perbuatan yang tak masuk akal itu.  

“Dik, enak ndak?”
Dengan paksa Mas Dikin mencoba menyelipkan ujung lidahnya yang nakal ke dalam liangku  yang membara. Aku mengalami kenikmatan yang luar biasa.

Tubuhku terus menerus mengejang dan gemetar dengan suara mengerang lirih dari mulutku.
”Mas Dikiiiinnn....."

Saat memandang wajahnya yang ganteng, kulihat mata Mas Dikin terlihat merah, deru nafasnya terdengar mendengus-dengus dan tubuhnya gemetar, semua itu pertanda laki laki yang sedang bernafsu.


   -------------------------------------------- 

Rupanya siang itu Mas Dikin terserang birahi yang memuncak, mungkin karena pemuda gagah itu sudah lama tidak ngentot dengan istrinya sehingga gairahnya naik ke ubun2 dan butuh dilampiaskan.

Mas gemes liat badan mulus Adek, kayak cewek” kata Mas Dikin sambil menggerayangi tubuh telanjangku dan meraba raba dadaku.

Sumpah!, sampai sekarang aku tidak pernah tahu apakah Mas Dikin ada bakat Biseks?.  
Tapi rasanya tidak mungkin!!!.  Atau dia hanya terpengaruh oleh kondisi pada saat itu (atau mungkin betul karena dia sudah lama tidak ngentot sama istrinya)

Ya, Mas Dikin BUKAN seorang biseksual, dia normal, tapi dia lelaki maniak yang gede nafsu. Kalau sedang bernafsu, lubang apapun akan diembatnya!,

Sementara yang ada dihadapan dia cuma aku dengan tubuh mulusku yang mungil!. Mangsa penurut yang jinak pikirnya.

“Benar-benar membuatku bernapsu…” Demikian pikir Mas Dikin
“Bocah ini masih perawan dan tak satu helai rambutpun kutemukan di sekitar kelamin dan duburnya…”.


   -------------------------------------------- 

Dan kemudian kalimat yang tidak pernah kudengar sebelumnya dia ucapkan!..
“Aku pengen ngebool Dik” katanya sambil mengelus pantatku.

Aku tak mengerti apa yang dia maksudkan.

“Dik… Aku ingin kasih sebuah kenang-kenangan, hadiah buat Dek Win…”

“Apa Mas?” tanyaku tak mengerti.

“Hmm, begini… Mas ingin menanamkan benih-benih keturunan Mas di dalam tubuhmu… Emm… Dek Win mau kan kalau Mas bersetubuh denganmu?”

“Jangan Mas” aku menolak, padahal sejujurnya aku TIDAK MENGERTI arti kata “bersetubuh”.

“Hhmmmmmm…… Gak apa-apa Dik..., Mas ajarin..,” sambungnya lagi mesra.  
Mas Dikin memelukku dan mencium bibirku….cup, cup, cup….lantas bibirnya menggigit bibirku dan dia melumat, mengulum mulutku dengan ciuman yang bernafsu.

Aku dipeluk dengan erat, sehingga tubuh kami yang sama-sama telanjang saling bergesek, terasa sekali kontol Mas Dikin yang ngaceng, menempel keras di perutku.

Mas Dikin menindih aku sambil menggesek-gesekan batang kontolnya penuh nafsu, bibirnya tetap memagut mulutku dengan erat.

  ******

Kini Mas Dikin berdiri dan dengan cepat ia membaringkan aku dilantai bedeng buruh sampai terlentang. Kedua kakiku diangkat keatas disandarkan di bahunya sehingga selangkanganku terbuka lebar. Lalu dia meludah dan mengoleskan  air liurnya di bibir anusku.

Didalam pikiran lugu seorang anak kecil, aku hanya diam apatis dan pasrah menerima segala perlakuan Mas Dikin yang kuanggap “lebih pengalaman”.

Kontolnya digenggam dan disodokkan ke duburku, tapi terlalu besar, susah masuk, ditekan dua kali tetap susah masuk.  Tentu karena ukuran kemaluannya terlampau besar dibandingkan lubang anusku yang sempit. Lagipula Mas Dikin tidak berpengalaman dan seumur hidupnya belum pernah mensodomi sesama lelaki, kelihatan sekali gerakannya canggung dan ragu2.

Siap siap ya Dek... kata Mas Dikin si buruh bangunan,

Pastinya Mas Dikin tidak pengalaman dan belum ngerti cara ngebool lubang pantat cowok.  Dipikirnya, karena aku sudah pasrah, artinya aku siap dibobol oleh kontol pemuda gagah itu.

Bleeeessss……….bleees dan bleeeebbbeeeeeeeessssssssss…….

Akhirnya batang kontol Mas Dikin melesak masuk.
Dia sampai gak percaya lubang pantatku bisa menampung kontol gedenya yang ngaceng, secara badanku masih kecil.

Wuuuiiih……
Badanku otomatis rasanya meriang…… kontol Mas Dikin terasa sangat besar dan berat dalam anusku. Seketika rasanya perutku sesak dan panas.
Perlahan-lahan Mas Dikin menggoyang-goyangkan pinggulnya, halus dan hati-hati, aku masih dapat menikmati rasanya. Tapi rupanya nafsu dia semakin tinggi, semakin bergairah, ia bukan saja mempercepat geraknya tapi juga meremas-remas perut dan alat vitalku…..

”Aaaaaauuuuw…!!” jeritku. Suakitnya... minta ampyuuuunn..!.
 “Kenapa Mas siksa aku begini?” tanyaku sambil membiarkan tubuhku dipeluk Mas Dikin.

“Karena aku sayang kamu Dek. Aku suka kamu…” jawab Mas Dikin.

Aku diam. Tak terasa air mataku menetes..

“Kenapa Adek nangis?” tanya Mas Dikin sambil menghentikan gerakannya.

Aku diam tak mampu menjawab. Mataku terpejam.
Ada rasa yang campur aduk.

Mas Dikin semakin sinting, pria perkasa itu tidak perduli bahwa aku adalah anak majikannya. Gerakannya seperti jarum mesin jahit…..semakin cepat dan semakin keras, sodokannya membuat aku hampir pingsan.  Lubang anusku terasa panas.

  ******

Mas Dikin ternyata seorang pengentot yang kasar.  Entotan kontolnya tak tentu arah dan cukup menyakitkan.  Aku yakin setiap cewek yang pernah dientot dia pasti merasakan kesakitan seperti yang kurasakan kini.  

Hampir lima belas aku digarap Mas Dikin, aku sudah menyerah, kehabisan tenaga. Tapi dia semakin gila
Sssssssshhhh …….ssshhhhh…….nikmaaaaaaaaaat………….Diiiikkkk !!!!!!!!!”
Dia mendesah dan meringkik

…….Ccreeeeeeeeeeeeeetttttttttttttttt !!!!!!
Akhirnya meledak juga pertahanan Mas Dikin, dengan pelukan teramat kuat dia menjepit badanku, kontolnya ditekan habis-habisan di anusku…….
”oooooh….oooohhh !!

Dia mencapai ejakulasi!.
Semburan benih-benih manusia yang sudah menghasilkan 3 anak, sekarang ditanamkan kedalam tubuhku, se-olah2 pria perkasa itu juga ingin menghamili aku dan membuat anak ke empat.

Kami berdua terkulai lesu, nafas kami berdua terputus-putus, kami berpelukan seketat-ketatnya

Mas Dikin berbisik
Nikmat sekali Dek…..”
“Baru sekali aku ngebool lubang cowok, pantat Adek enak kali, rapet, bisa bikin aku jatuh cinta!”  lantas ia menciumku berkali-kali.

Sebenarnya aku sama sekali  nggak merasa enak atau nikmat.....
Sakit banget ditusuk kontol Mas Dikin....  Rasanya aneh. Kok gitu ya.....???
Tapi Mas Dikin kelihatan puas banget, ia mencium pipiku.
 “Mimpi apa aku semalam, bisa ngentot bocah mulus begini, mainnya enak pula….. Demikian mungkin pikirnya.

Tak lama kemudian, Mas Dikin memakai celananya kembali dan berkata:
“Nanti malam aku mau bobo sama Adek, supaya Mas puas tiduri badan mulus Adek sampai pagi”  ia memujiku, lalu dia ngeloyor pergi meninggalkan aku sendirian di bedeng buruh.


   -------------------------------------------- 

Dan betul saja!.
Malam ini pintuku diketok perlahan dan Mas Dikin nekad, mengendap masuk kedalam kamar padahal orang tuaku sedang tidur di kamar sebelah. 

Aku sebenarnya tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Dibool oleh Mas Dikin nggak nyaman banget, sakitnya sampe di-ubun2 dan udahnya lubang pantatku sering terasa ngilu, perih. Aku ingin melawan dan berusaha menghindar, tapi aku juga merasa ketakutan.

Mas Dikin langsung menyeret aku ke atas kasur.
Lalu pemuda gagah itu mencopot celananya dan langsung menyodorkan kontolnya lagi ke mulutku

“Kamu ini nakal deh.”katanya sambil meraih kepalaku
“Ayo kenyotin lagi Dek...., Enak diisep sama Adek tau!”

Lalu sambil menggeram, dia menelanjangi aku

Aku panik dan mataku menatap penuh ketakutan.
"Jangan, Jangannn Mas. Aku mohonn…nn. Ampuuuunnn ”,rintihku.

Tapi Mas Dikin sudah terbakar oleh nafsu syahwat, dia membekap mulutku supaya tidak berteriak.
“ ya wes, tha perkosa aja kowe…!”  katanya (ya udah, kamu aku perkosa aja)

Mas Dikin bergerak mendekati bagaikan binatang yang akan menyergap mangsanya. Mungkin dia menganggap aku seperti perek di pinggir kali.
Salah kamu sendiri yang penurut dan ‘gampangan’ kok…  Mungkin begitu pikirnya

“Enak ngewe sama Adek tau!”  katanya sambil menciumku dan mengulum mesra,  lalu Mas Dikin memelukku lagi

Dan malam itu, untuk kedua kalinya keperawananku dicabik cabik oleh keganasan kontol kuli yang sedang bergairah tinggi!.

  ******

Rupanya Mas Dikin memang lelaki gede-nafsu, makanya pria perkasa itu kawin muda supaya bisa menyalurkan kebutuhan biologisnya secara rutin.  Pantas saja dia sudah punya 3 anak, karena  dia ternyata pemuda seks maniak!.

Melihat wajahnya yang sedang bernafsu, ternyata sensasional..  

Mas Dikin bilang dia lakukan itu karena perasaan sayang.  
Dia juga bilang sekarang aku sudah dia kawini, dan jadi pengganti istrinya karena aku pintar memuaskan dia...
Aku  jadinya tersanjung bangga mendengar pujiannya

Padahal itu cuma rayuan gombal dia.
Aku tidak sadar bahwa aku cuma budak-nafsu tempat pelampiasan syahwat dia saja.


   -------------------------------------------- 

Dibolongin untuk pertama kalinya oleh kontol lelaki dewasa sampai 2 kali berturut turut, otomatis membuat selaput otot dan jaringan syaraf di saluran anusku jebol sampai rusak parah, apalagi kontol Mas Dikin amat besar ukurannya. Tapi aku tak berani mengadukan kejadian itu pada siapapun.

Di alam bawah sadar, aku merasa perbuatan Mas Dikin ini salah dan tak wajar, dan entah kenapa, aku merasa SEDIH karena DIPERAWANI seorang buruh bangunan.

Tapi,  2 hari kemudian ketka aku sedang kumpul dengan orang tua dan kakak-kakakku nonton TV, Mas Dikin celingukan memperhatikan aku dari jauh.

Eehh, Ayahku malah ngomong: “Edwin, itu Dikin cari kamu”

Ketika aku beranjak mendekati Mas Dikin, kakakku juga ngeledek: “Iya tuh, pacar kamu kangen”

Orang tuaku dan kakak2ku tidak pernah tahu bahwa Mas Dikin rupanya sudah begitu terobesi oleh tubuh mungilku yang mulus.
 
Dan malam itu juga aku diseret oleh Mas Dikin ke kamar belakang dan tubuhku dipakai untuk melampiaskan nafsu hewaniahnya dan menyenangkan kontolnya

Ya..., kontol, perlambang kejantanan lelaki yang biasa dia kentotkan ke vagina istrinya, saat itu mendapat kenikmatan baru dari lubang pantatku, anak majikan dia.

Mas Dikin menyetubuhi aku tanpa belas kasihan, hanya serangai kebinatangan yang terlihat. Ia menaiki tubuh kecilku dengan napsu badaniah yang tak terelakkan. Kedua kakiku terganjal oleh sepasang pahanya yang kekar sementara pemuda gagah itu menggerakkan kontolnya dan memompa, dan memompa semakin dalam dan kasar.

Kami, dua mahluk manusia yang tak berpengalaman ini meningkatkan harmoni pergerakan tubuh kami yang sama-sama telanjang dalam dalam keadaan gancet.


  ******

Mungkin pada awalnya Mas Dikin cuma keburu nafsu dan hanya coba-coba, sehingga awalnya pria perkasa itu masih agak risih berhubungan sex dengan sesama lelaki yang masih bocah.

Hal itu memang dirasakan oleh semua lelaki yang baru pertama kali mencoba bersodomi dengan sesama lelaki.
Walau benak dia tak mengijinkan, tapi napsu birahi DIMENANGKAN diatas segalanya.

Pernah ketika baru pulang sekolah, aku dicegat oleh Mas Dikin, lalu aku digiring ke bagian belakang rumah yang sepi dan celanaku langsung dipelorotkan kebawah.

Bang Burhan dan Mas Tono memperhatikan semua saat aku digiring oleh Mas Dikin.

Kemudian dibalik pohon yang rimbun, sambil membekap mulutku supaya tidak bersuara, aku disodomi habis2an dari belakang oleh Mas Dikin sambil berdiri, sementara aku meratap-ratap merasakan kentotan kontolnya yang perkasa.

Heran....!.
Keperkasaan Mas Dikin ternyata mampu merubah perasaan takut-ku lama kelamaan terganti oleh rasa sayang terhadap dia, seorang buruh bangunan.

Betul-betul hebat kuli ini, gagah perkasa, kuat goyangnya, gede juga kontolnya…..
 
  ******

Mungkin karena “bantuan” kontol Mas Dikin yang sering menyodokku, aktifitas hormon di dalam tubuh remajaku meningkat drastis beberapa hari belakangan iniRasanya lubang duburku tidak pernah berstatus dalam keadaan kering belakangan ini, saking seringnya disembur oleh semprotan pejuh dia.

Dan berkat “hadiahcairan sperma yang sering Mas Dikin tanamkan, akupun merasa bahwa bebuluan di sekujur tubuhku mulai tumbuh dan menyerbak.

Mas Dikin memang termasuk laki laki perkasa yang jantan.
Kantung pelir Mas Dikin terus menerus berproduksi sebagai pabrik sperma alami untuk membuahi rahim di dalam tubuhku.


  -------------------------------------------   

Dalam keluguanku sebagai seorang bocah, aku bangga bisa menyenangkan kuli cowok yang gagah itu.   Gak tau kenapa, didalam pikiranku yang polos, aku merasa BANGGA dibutuhkan oleh Mas Dikin.

Aku IKHLAS kalo lubang pantatku dibool sesuka hati dia.
Aku begitu lugu mengira perlakuan Mas Dikin adalah sesuatu hal yang biasa dilakukan oleh semua lelaki dewasa terhadap bocah yang masih remaja.

Aku mengira, memang sudah seharusnya seorang bocah remaja melayani gairah dan nafsu lelaki dewasa.   Aku menduga disodomi oleh sesama lelaki adalah perbuatan yang wajar.

Tak akan kulupakan kejantanan Mas Dikin yang gagah walau dia membuat lubang anusku jadi bolong, longgar dan berbentuk corong akibat terlalu sering disodok dan diaduk2 kontolnya yang perkasa.

Itulah masa masa bersejarah yang indah, teramat indah, aku senang diperawani oleh Mas Dikin dan bangga pernah dijadikan kekasih pria perkasa itu.

  ******

Pada malam terakhir sebelum ketiga kuli itu berhenti bekerja sebagai buruh bangunan di rumahku, Mas Dikin terlihat paling bersedih akan berpisah denganku. Mungkin dia sudah jatuh cinta kepada aku yang telah memberinya kesenangan selama seminggu.

Ternyata, biar Mas Dikin tadinya beneran cowok normal, tapi karena awalnya penasaran, akhirnya dia kebawa nafsu, keterusan, lalu kecanduan dan jadi doyan ngebool lobang pantat cowok

Mungkin gara2 kebiasaannya dengan aku, Mas Dikin juga berubah jadi seorang biseks.

Gak tau mungkin di kampungnya nanti, Mas Dikin bakal mencari mangsa untuk memuaskan hasrat tak wajar pada bocah-bocah lugu di kampung yang pasti gampang didapat dan diperdaya.



TAMAT



2 komentar:

  1. UNTUK CERITA ASLI DAN CERITA LELAKI LAINNYA, COPY-PASTE LINK INI:

    http://ceritapanaslelaki.blogspot.com/2012/01/pria-yang-dicintai-suamiku.html

    SERU DAH..

    BalasHapus
  2. pengen bgt kayak edwin fuck me please topan 19 thn bekasi 085775940593

    BalasHapus