Sabtu, 31 Maret 2012

Tentara Masuk Desa


BANG ANSAR - (Ansar Burhanudin) - merupakan salah satu dari 8 tentara yang ditempatkan di kampung kami dalam program “Masuk Desa”. Mereka ditugaskan untuk membantu penduduk kampung untuk memperbaiki jembatan, saluran irigasi, rumah tinggal serta kelengkapan MCK dan sanit
Para tentara itu sebagian masih ada yang muda, tapi semua terlihat gagah-gagah dan banyak yang ganteng. Sedangkan Bang Ansar umurnya 28-29 tahun, tinggi menjulang 177 cm dengan sosok yang kekar atletis.
Saya sendiri -(WANDI SAPUTRA)- pemuda kampung berumur 21 tahun. Dan berbeda dari Bang Ansar yang berbadan gempal, sosok tubuh saya terbilang ramping dan agak kurus dengan tinggi badan tidak lebih dari 169 cm. 
Dulu, saya pernah dengan seorang kawan yang bekerja di sebuah pabrik di kota besar, tapi kemudian Ayah menyuruh saya pulang untuk membantu dia di desa.  Namanya juga hidup di kampung, kegiatan saya sehari hari adalah bertani, bercocok tanam dan menggembalakan ternak.

Saya juga termasuk kurang pandai bergaul di lingkungan saya, apalagi dengan para pendatang, seperti para tentara itu.  Sifat saya memang agak pendiam dan tidak banyak bicara, sehingga saya sering dijuluki “Wandi si ganteng yang bisu” – kata penduduk desa. hahaha...

Bahkan pada saat acara pertemuan dengan para tentara di kantor kepala desa, saya hanya sempat beradu pandang dan berkenalan sekedarnya dengan Bang Ansar dan rekan2nya yang lain. Perjumpaan pertama itu saya anggap biasa saja dan tidak ada kesan khusus yang membekas.


   ****

Para anggota tentara tersebut ditempatkan terpisah di beberapa rumah penduduk desa, dan yang saya tahu, Bang Ansar menempati rumah pak Sainan yang punya seorang anak gadis bernama ASTUTI.

ASTUTI rupanya sangat menyukai Bang Ansar. Mereka akrab dan saya sering melihat mereka ngobrol berduaan dengan mesra. Apalagi orang tua Astuti sepertinya merestui hubungan mereka. Mungkin karena orang2 di kampung biasa memandang tinggi seseorang dengan jabatan di pemerintahan, polisi atau militer.

   ****

ASTUTI ini pernah jadi pacar saya. Tapi tidak lama, karena hubungan kami tidak direstui oleh orang tua Astuti yang mengharapkan calon suami yang kaya dan berpangkat sehingga akhirnya kami putus.

Walau hanya sebentar, tapi saya bisa mencicipi tubuh ASTUTI dan sempat ngentot dengan dia sampai 3-4 kali. Jadi jangan dipikir anak muda di kampung lugu-lugu. Malah sebagian besar dari para pemuda di kampung mungkin lebih mengerti masalah seks dibanding orang2 tua di masa muda mereka.

Sepintas Astuti bukanlah tipikal wanita yang pintar bercinta. Dia sepertinya tipe wanita yang nurut saja diapain. Semuanya dia nurut saja. Jadi biasanya saya yang lebih pro aktif dalam urusan ranjang. Tapi saya tidak menyangka waktu pertama kali menduri gadis cantik yang terlihat alim itu ternyata dia waktu sudah TIDAK PERAWAN lagi karena pernah tidur juga dengan lelaki lain sebelumnya.

Entah kenapa, walau saya sudah tidak ada hubungan apa2 dengan Astuti, ternyata timbul juga rasa CEMBURU melihat kedekatan antara Astuti mantan pacar saya, dengan Bang Ansar.

Saat tak sengaja berpapasan dengan Astuti dan Bang Ansar, saya sengaja melengos dan berpura-pura tidak melihat. Bahkan saking cemburunya, saya SENGAJA MENGHINDARI pertemuan dengan mereka, sehingga Bang Ansar menatap heran dengan pandangan penuh tanda tanya melihat sikap saya yang “agak” bermusuhan.


   -----------------------------------------------------  

Suatu hari, setelah mencari kayu bakar di hutan sisi kampung, saya beristirahat di pinggir kali ...

“Sendirian saja Dik Wandi?” ternyata Bang Ansar.

“Oh,... iya Bang, saya sendiri saja, Bang Ansar kenapa ada disini? ”

“Hehehe, ya aku sedang bersitirahat dan jalan jalan ke sungai ini ...” Kata Bang Ansar, sambil duduk di sebelah saya, dekat sekali hingga bahu kami bersentuhan.

 Bang Ansar bertanya lagi:
“Wandi ini pendiam sekali ya? Apakah ada salahku kepada kamu?”

“Tidak, kenapa Abang bertanya seperti itu??” jawabku

“Ya karena Dik Wandi ini satu-satunya pemuda di kampung ini yang tidak pernah ngobrol dengan aku, selalu menghindariku

“Tidak apa-apa kok Bang, saya memang orangnya tidak banyak bicara” jawabku

Aku dengar Wandi pacar Astuti?. Adik marah sama aku?”

“Hahaha, tentu saja tidak Bang, dan saya bukan pacar Astuti” jawab saya berbohong.

Aku tidak ada hubungan apa2 dengan Astuti lho, dan tidak mungkin pacaran dengan dia, karena aku sudah punya istri dan 2 anak” Bang Ansar menjelaskan

Saya diam saja.

“Jadi Wandi tidak perlu cemburu...” sambung Bang Ansar lagi.

“Saya tidak cemburu Bang”

 “Syukurlah. Aku khawatir Adik cemburu” Katanya

“Hahaha, tidak lah Bang”

“Nah, gitu dong!, ketawa seperti begitu, Dik Wandi kan tambah ganteng ...  Pendiam saja ganteng, apalagi ketawa. Hahaha..”  katanya sambil me-nepuk2 pundak saya sebagai tanda persahabatan.

“Hahaha.. Siapa yang ganteng?. Bang Ansar tuh yang ganteng......”

“Serius kok!, Wandi ganteng lho ... kalau jadi bintang film pastinya bakal terkenal”  kata Bang Ansar sambil melemparkan senyuman terbaiknya.

Baru saya sadari Bang Ansar itu sebenarnya sungguh tampan sekali. Apalagi saat dia tersenyum seperti itu.

Saya tidak akan heran kalau ada banyak cewek yang menggelepar melihat dia tersenyum. Secara fisik Bang Ansar memang tipe pria yang bikin cewek bakalan nengok berkali kali untuk menatap kegagahannya.

“Yuk pulang?, sudah magrib nih”  Bang Ansar berdiri dan mengulurkan tangannya. Lelaki gagah itu membantu saya berdiri.

Aneh tidak ya?. Seorang laki laki membantu saya untuk berdiri.
Mungkin tidak!, hanya saat itu saya merasa bagaimana gitu... hahaha....

Berpegang pada tangan Bang Ansar, saya bangkit.
Kemudian Bang Ansar merangkulkan tangannya ke bahu saya dan meninggalkan tempat itu. (Iiiihh.., Bang Ansar merangkul saya seperti meluk cewek saja.. Hehehe..).  

Sepanjang perjalanan, dengan penuh keakraban kami ngobrol, saling berbicara dan mengenal satu sama lain dengan lebih dekat.


   -----------------------------------------------------

Sejak itu, akhirnya hubungan kami jadi dekat satu sama lain.
Dimanapun melihat saya, Bang Ansar selalu mendekat dan mengajak saya ngobrol. Kalau dia sedang istirahat, Bang Ansar suka menemani saya bekerja atau membantu saya bercocok tanam.

Kami sering ngobrol berdua, dan dia bercerita sambil memperlihatkan foto istrinya yang cantik dan kedua anaknya yang lucu.

Bang Ansar juga mengajari saya tehnik-tehnik dasar olah raga beladiri Tae Kwon Do.
Saya sendiri menguasai seni Pencak Silat, memang belum terlalu mahir, baru setingkatan ban biru.  Tapi Bang Ansar bilang gabungan antara Pencak dan Tae Kwon Do bisa meningkatkan kemampuan saya.

Saat kami latihan, tentu saya selalu kalah..!. Maklum, perkelahian dalam jarak dekat (closed fighting) adalah menu latihan sehari hari dari setiap tentara

Kadang Bang Ansar juga mengajak saya bergulat sambil bercanda. Kami berdua berusaha saling mengunci gerakan lawan masing-masing, lalu saling mengalahkan lawan sampai gerakan saya terkunci oleh Bang Ansar.

“Ampun, nggak?” tanyanya

“Kagak!” Kataku lantang.

Saya berontak, lalu memberikan serangan balasan. Namun lagi-lagi dia yang berhasil mengunci gerakan gulat saya.

“Masih nggak mau ampun?” ulangnya

“Nggak bakal!”
Saya kembali berontak dan kini kami bergulat dengan lebih semangat karena saya berniat memberikan serangan yang sesungguhnya melawan Bang Ansar. Kami berdua guling-gulingan, saling bergulat, berusaha mengunci gerakan lawan dengan posisi yang aneh-aneh. Mulai dari leher diapit kaki, kedua tangan dan kaki disatukan, lutut sama kepala nempel, dan lain-lain.


Namun suatu gerakan yang kebetulan membuat kami berdua berhenti dalam posisi itu.
Saya terlentang di bawah dengan kedua tangan diatas kepala, sementara Bang Ansar menindih dari atas dengan tangannya menahan kedua tangan saya. Kami berdua saling berpandangan dan tertawa dengan wajah saling berdekatan.  Lalu tawapun mulai menghilang dan berganti dengan senyuman, sementara mata kami saling menatap.

Rasanya aneh...!.

   ****

Terkadang saya merasa Bang Ansar memperlakukan saya seperti adiknya sendiri. Wajar, karena kita berbeda umur hampir 8 tahun. Dia sudah 29 tahun, sedangkan saya 21 tahun.
Kalau sedang bercanda, dia suka mengacak-acak rambut saya dengan tangannya.

“Kok kamu ini cakep sekali Dik.. katanya sambil memegang pipi saya dan meremas dengan gemas

Saya kagok merasa diperlakukan seperti cewek, tapi saya hanya tersenyum.

Jujur!, saya mengagumi Bang Ansar.
Dia baik kepada saya. Bang Ansar juga sikapnya berwibawa dan tegas. Dia juga ganteng, gagah dan badannya kokoh.

Bang Ansar kok badannya bisa gede banget. Waktu kecil dikasih makan apa saja sama ibunya?” tanya saya pada suatu ketika.

“Makan buaya...Dia nyeletuk sambil terkekeh.

Jujur!. saya suka padanya ...
(Tapi saya tidak yakin rasa suka seperti bagaimana yang saya rasakan).

  *****

Saking dekatnya , bahkan kalau sore hari, Bang Ansar  selalu mengajak MANDI BARENG di sungai.  Saat mandi itu saya bisa melihat tubuh kekarnya yang gagah.

Saat saya bangkit untuk melepaskan kaos dan celana, tanpa sadar proses menelanjangi diri saya diperhatikan oleh Bang Ansar.

“Yaa ampun.. Aku kasian melihat kamu Dik. Wandi tuh ceking amat sih?.” Bang Ansar menatap badan saya dengan ‘gaya’ pura-pura penuh iba.  

Ya, badan saya memang kurus, tapi bukan kurus ceking seperti orang kurang makan atau tinggal tulang doang. Lumayan masih ada ototnya kok.  

 “Dik Wandi gak pengen punya badan seperti aku?!” Tanya dia.

Bang Ansar yang cuma bercelana pendek lantas dengan sombongnya berpose ala binaraga, lengkap dengan ekspresinya.
“Lihat nih, badan aku keren kan?!. Cewek bisa klepek-klepek lihat badan seperti begini. Beuuuuh, mantep kan?.” Katanya lagi sambil menceburkan diri ke sungai untuk mandi.

Tentu kalau sedang mandi, kami tidak sampai saling melihat alat kelamin masing2 secara langsung.  Tapi saya sering kagum melihat gumpalan daging pantat Bang Ansar. Terlihat menonjol kokoh dan ber-otot, pantat seorang pejantan tangguh.  Hahaha...
---------------------------------------------------

Kedekatan saya dengan Bang Ansar tentu TIDAK menimbulkan tanda tanya orang-orang, karena di kampung kami, persahabatan antara 2 lelaki dianggap suatu hal biasa yang wajar wajar saja.

Tapi kedekatan hubungan Bang Ansar dengan ASTUTI ,ternyata jadi bahan pembicaraan dan mengundang gunjingan.

Akhirnya, untuk menghindari omongan yang tidak baik antara Bang Ansar dengan Astuti, KOMANDAN TUGAS, memerintahkan Bang Ansar KELUAR dari tempat orang tua Astuti dan disuruh pindah ke rumah lain.

   *****

Ternyata Bang Ansar MEMILIH untuk pindah ke rumah orang tua saya!, walau rumah orang tua saya berukuran kecil dan tidak memiliki banyak kamar, sebagaimana kebiasaan di kampung.

Dan sore itu Ayah saya mengatakan bahwa Bang Ansar akan tinggal di rumah kami mulai malam ini.

“Nak Ansar maaf tidurnya sekamar dengan Wandi ya, maaf tempatnya seadanya ...” kata Ayah saya

“Oh tidak apa-apa Pak, malah aku yang merepotkan bapak” jawab Bang Ansar

“Tidaklah nak, tapi maklum tempat kita kecil dan seadanya ...”

“Tidak apa apa kok pak”

Wan, kamu antarkan Bang Ansar mandi dulu yah ... Ayah mau menjemput ibu-mu dulu di tempat pamanmu, Wak Amir”
Ayahpun beranjak meninggalkan kami berdua di teras.

   *****

Dik, maafin merepotkan ya...” kata Bang Ansar tiba-tiba
 “Maaf aku merepotkan karena sengaja minta untuk pindah dari tempat Astuti ke rumahmu” sambungnya

“Tidak apa apa kok Bang ... “

“Benar kamu tidak terganggu aku tingal sekamar dengan Wandi?” tanyanya minta diyakinkan

Saya menggelengkan kepala: “Tidak Bang, saya tidak merasa terganggu kok”

“Kalau begitu, artinya Adik SENANG aku pindah kesini donk??”

Ehh, apa tuh maksudnya?
Bingung saya menjawabnya, juga malu sekaligus

“Hayooo ngaku... Senang kan bisa dekat Bang Ansar?”  Senyumnya mengembang dan dia terlihat makin tampan ...

Wah....!!
Saya tak menjawab dan pura2 akan masuk ke dalam untuk meninggalkan Bang Ansar

Tak kuduga sama sekali, Bang Ansar mengejar dan membalikkan tubuh saya sehingga kami berhadapan:
“Jadi kamu SENANG bisa dekat dengan Abang kan?”

“Udah ah Bang” Kata  saya sambil menunduk untuk menghindar

“Hahahaha...”
Tawanya lepas dan dia langsung menarik saya ke dalam pelukannya yang kukuh.

Sikapnya membuat saya kaget,  perasaan ganjil, bercampur lucu dan senang juga..

   *****

Akhirnya saya mengantarkan dia mandi ke sungai, seperti biasa Bang Ansar tanpa rasa malu menanggalkan semua pakaiannya di depan saya.
Mau tak mau saya bisa memperhatikan bentuk tubuhnya yang atletis dan mengaguminya.

Rasanya aneh saya mengagumi tubuh kekar seorang lelaki.
Saya tidak tahu perasaan apa itu, tetapi saya menikmatinya.

Saat dia menurunkan celana dalamnya, sepintas saya lihat sebongkah daging kelaminnya menggantung di selangkangannya.

Lumayan besar!.
Tapi rasanya PUNYA SAYA berukuran LEBIH BESAR.
Biar badan saya kecil dan ramping, tapi mungkin karena khasiat madu dan telor yang setiap hari jadi konsumsi saya sejak kecil, sehingga pertumbuhan alat kelamin saya tumbuh MASIF .

Ternyata Bang Ansar memergoki tatapan mataku yang tertuju ke kemaluan dia.
 Hey.. kok bengong?. Ayo buka celananya donk. Aku juga mau lihat ‘barang’ punya kamu

Hah?!. Ada apa ini?.
Ngapain juga dia nyuruh saya ikut bugil. Dia kan cowok, gua juga cowok. Masa dia mau lihat kemaluan saya?”.

Kenapa saya disuruh buka celana?” saya protes

“Udah buka sajaaaa...!!”

“Nggak ah.. Aneh-aneh saja Abang.” Saya menolak.

Namun Bang Ansar tidak menyerah, dia mendekat dan secara paksa memelorotkan celana saya. Sempat terjadi aksi tarik menarik antara saya dengan dia. Namun karena tenaga dia lebih kuat maka saya harus rela. Bang Ansar berhasil menurunkan celana kolor saya.

Sebenarnya JANGGAL sekali.
Posisi Bang Ansar seperti posisi orang yang hendak nge-blowjob, ngisep.  Bang Ansar berlutut di depan saya, kepalanya sejajar dengan selangkangan saya.  

Setelah berhasil mencopot celana saya, Bang Ansar membalik badan saya dan meremas pantat saya.

 Aduh, kupikir perilaku dia agak tak wajar. Saya agak risih. Mana enak membiarkan lelaki meremas pantat saya?!.
Sejenak saya mengira akan terjadi hal yang aneh-aneh, yang berhubungan dengan dunia seks. Namun ternyata aku salah karena Bang Ansar bermaksud hal lain

“Pantat kamu tepos Dik. Paha kamu kurus banget. Lengan kamu juga cukup menyedihkan, tidak ada ototnya. Harus dilatih sedikit supaya bagus Dik

Hahaha... ada ada saja Bang Ansar ini.


   -----------------------------------------------------

Pada malam harinya, saya memakai kain sarung lalu MEMINJAMKAN salah satu kain sarung saya yang bersih untuk Bang Ansar

Sejak kecil saya memang terbiasa hanya memakai KAIN SARUNG di kamar karena cuaca di kampung kami memang panas. Dan saya juga biasa tidur dengan memeluk BANTAL GULING. Kebiasaan itu terbawa terus hingga saya dewasa, sampai sekarang.

Nah, malam itu, karena harus berbagi tempat tidur, otomatis bantal guling harus DISINGKIRKAN untuk memberi tempat berbaring bagi Bang Ansar.

Saya sendiri, merebahkan diri lebih dahulu untuk melepaskan semua kepenatan setelah seharian bekerja di kebun. Kemudian Bang Ansar menyusul, lalu lalu kami berdua berbaring bersebelahan, sama2 bertelanjang dada dan hanya saling memakai kain sarung dan tak berapa lama kemudian kami tertidur.

Mungkin karena kami berdua kecapaian, malam itu kami LANGSUNG TIDUR dengan pulasnya sampai besoknya.

   *****

Ketika bangun pagi harinya, mendadak Bang Ansar bicara:
“Semalam tangan Wandi, kemana-mana. Kaki Adik juga kemana-mana.”.

“Yang bener Bang?”

 “Iya, tangan Adik meluk-meluk aku. Kaki Adik juga. Seolah-olah aku ini bantal guling saja.” Kata dia sambil tersenyum kecil.

 “Yaaa... maklum Bang... Biasa meluk bantal guling. Lagian badan Abang sih rada-rada mirip sama bantal guling.” Saya menjawab secara bercanda.

Dan saya bertanya lagi: “Terus waktu saya meluk begitu, Abang ngapain?”

 “Hehehe... Ya aku balas memeluk seperti Wandi saja. Jadi kita tiduran peluk-pelukkan. Lucu deh. Coba kalo kalau difoto. Hahahah...”

 “Hahaha...” saya ikutan tertawa. Bang Ansa ini memang senang membuat segala sesuatu jadi lucu.


   ----------------------------------------------- 

Pada malam kedua, sebelum tidur, kembali saya memakai kain sarung dan Bang Ansar juga memakai kain sarung yang saya pinjamkan, lalu kami berbaring dan tertidur.

Tengah malam, saya merasakan gerah, badan saya agak kepanasan.

Tersentak saya ketika menyadari bahwa saya ternyata tidur sambil memeluk Bang Ansar lagi..,!.  Pantas saya merasa gerah karena badan saya menempel dengan kehangatan tubuh Bang Ansar.
... mungkin karena kebiasaan saya memeluk bantal guling.. Hehehehe....

Jadi, posisi tubuh Bang Ansar menyamping, MEMBELAKANGI saya dengan punggung menghadap kearah saya. Sedangkan saya di belakangnya dengan tangan kanan merangkul tubuh Bang Ansar, sehingga dada saya menempel rapat ke punggung Bang Ansar, dan wajah saya terbenam ke pundaknya

Posisi tubuh kami berdua memang tidak biasa dan janggal banget.
Rasanya aku seperti sedang memeluk pacar CEWEK saya. Paha kanan Bang Ansar tertindih oleh paha kanan saya, seolah paha dia adalah bantal guling.

Posisi yang tidak mengenakan!. Tidak nyaman, dan lebih ngeri lagi kalau sampai ada orang yang melihat situasi ini. Saya dan Bang Ansar tidur dengan posisi seperti layaknya cowok dan cewek pacaran yang sedang tidur berdua.

Yang lebih mengagetkan!.
Kami berdua pada awalnya menggunakan kain sarung, tapi entah bagaiama sarung kami rupanya sudah berantakan dan TERLEPAS tidak tahu kemana, jadinya kami berdua sama2 tidur dalam keadaan TELANJANG!. 
Gundukan kemaluan saya menempel erat ke bagian belakang paha Bang Ansar.

Akibatnya, cara tidur kami bukan hanya seperti posisi cowok-cewek pacaran yang tidur, tapi jauh lebih BERBAHAYA...; Berpelukan dalam keadaan sepenuhnya telanjang bulat tanpa sehelai benangpun yang membatasi.


   -----------------------------------------------------

Karena takut membangunkan Bang Ansar, awalnya saya berusaha tak bergerak.   
Tapi sentuhan hangat tubuhnya yang menempel  erat ke kulit saya dan mencium aroma tubuhnya yang jantan... perlahan membuat saya terkesiap! .
Sungguh saya tidak menyangka.

Rasa jengah dan kikuk ini sebaliknya membuat gairah saya TERANGSANG.
Terkesima dan tanpa bisa dikendalikan, kontol saya yang nakal ini perlahan membesar..., menegang..., dan mulai NGACENG...

Aduh!, gimana ini?.
Bagaimana jika Bang Ansar terbangun dan melihat saya dalam keadaan telanjang, sementara alat kelamin saya yang setengah ngaceng menempel ke pahanya?.

   *****

Saya ingat kata2 Bang Ansar tadi pagi.
Aku ini Ansar. Manusia, bukan bantal guling. Jadi jangan peluk-peluk aku seperti guling yaa!”

Malu, risih dan khawatir ketahuan Bang Ansar, saya berusaha bergeser bangun

Tapi tiba-tiba, dalam tidurnya, Bang Ansar beringsut dan pahanya terbuka sedikit jadi agak MERENGGANG.

Tidak tahu kenapa, saya iseng dan SENGAJA MENYELIPKAN batang kontol ke sela sela PAHANYA yang kekar.

“Ooogghhh ...!”  Desahku tertahan takut terdengar oleh Bang Ansar.
Saya takut Bang Ansar bisa merasakan degup jantung saya yang makin kencang, ditambah panasnya kontol saya yang mengganjal di sela sela pahanya.

Ya, hatiku takut.
Tapi saya menikmati kontol yang menyelip diantara jepitan sela-sela paha Bang Ansar.

Saya nekad makin erat memeluk Bang Ansar dan secara perlahan mencoba MENGGESEK GESEK kontol saya diantara sela sela pahanya ...

Wow, sensasinya!. – 
Dan semakin kencang jantung saya berdetak serasa mau lompat!
Saya dapat merasakan daging kokoh pantatnya yang keras menempel di perut bawahku.

Ini perilaku yang belum pernah saya lakukan selama hidup kepada seorang pria.
Bang Ansar sedang tidur memunggungi saya, sedangkan saya memeluknya erat dari belakang sambil menggeser-geserkan batang kemaluan saya diantara lipatan pahanya.

Saya semakin penasaran dan memaju mundurkan pantat saya hingga selonjoran kontolku makin menerobos dan menggesek gesek diantara jepitan pahanya.

Sekali, dua-kali, tiga-kali saya menghujamkan senjata kelelakianku pelan-pelan, dan jepitan paha Bang Ansar seperti DIRENGGANGKAN untuk menyesuaikan dengan besarnya kepala kontolku dan mempermudah gesekanku.

Apakah itu disengaja oleh Bang Ansar? 

Apa dia sedang menunggu saya untuk bertindak lebih jauh?.

Nafas saya makin memberat dan semakin erat pelukanku,

   *****

Entah setan apa yang merasuki pikiran saya!.
Saya justru SENGAJA mengarahkan posisi ujung kelaminku NAIK ke celah sempit di belahan daging pantat Bang Ansar dan mendorong kepala kontolku sampai MENYENTUH bibir anusnya. Lalu saya mainkan bibir lubang itu dengan ujung kepala kontolku...

Saya yakin saat itu Bang Ansar masih TIDUR PULAS dan tak menyadari kelakuan saya. 

Bagai kehilangan akal, saya menjangkau botol hand & body lotion yang terletak di meja samping tempat tidur dan saya membalurkan krim yang licin itu ke batang kejantananku. Saya juga nekad membubuhkan krim pelicin itu ke bibir lubang pantatnya dan ke celah dalam saluran anusnya

Sejenak, saya bimbang ragu ragu.

Bang Ansar kan tentara yang gagah?.
Dia laki laki yang perkasa
Sudah beristri dan punya 2 anak

Mana mungkin aku bisa ngentot Bang Ansar?

   ****

Naluri syahwat membimbing ujung kontolku untuk menusuk bibir lubang itu, dan perlahan tapi pasti ujung kelaminku bisa MENYELIP MASUK ke lubang anus Bang Ansar.

Saya semakin tertantang.., kepala kontolku yang membonggol seperti cendawan besar ingin kumasukan ke dalam lubang Bang Ansar.

Saya laki laki.
Lelaki manapun doyan ngembat lubang memek cewek.

Saya bukan bernafsu pada laki laki, tapi kalau nafsu sudah naik ke ubun2, lubang apapun pasti bakal di embat!.
Dan sekarang ada lubang yang terbuka dan menempel di ujung kontolku.

Apa salahnya kalau  saya COLOK saja lubang itu?

Perlahan saya mendorong lagi ujung kontol yang sudah basah oleh krim pelicin.
Heran..!, Bang Ansar lagi lagi membuka pahanya sehingga lebih mudah bagi saya untuk menusukkan tikaman senjata kelelakianku.

Bisa saya dengar dengus nafas Bang Ansar yang memburu, tapi saat itu saya belum yakin kalau Bang Ansar sadar apa yang sedang terjadi,

Atau, mungkinkah Bang Ansar menginginkan diriku?.

Mungkinkah dia menginginkan sex?, menginginkan selonjoran kontolku malam ini?.


   -----------------------------------------------------

Akhirnya nekad.
Sambil memeluk erat Bang Ansar dari belakang saya memasukkan senjata kelelakianku ...
Srett... srett.. srettt..

Terbantu oleh krim pelicin, sedikit demi sedikit kepala kontolku melesak masuk.

Kemudian batangnya!.

BLLESSSS...!.

“Arghhhh ...h!” Lelaki gagah itu mengerang tertahan
Saya segera membekap mulutnya supaya erangannya tidak terdengar orang tua di kamar sebelah

“Oghhh ...” sayapun mengerang

Sejenak saya diamkan kepala kelaminku dalam lubang Bang Ansar, bisa saya rasakan denyut, jepitan dan kehangatan lubang pantat Bang Ansar.

Gila!, saya tak menduga, semudah itu saya membobol lubang pantat Bang Ansar.

   *****

Lalu, sambil tetap memeluk dari belakang dan menciumi tengkuk Bang Ansar, saya biarkan lubang anus Bang Ansar menyesuaikan dengan besarnya batang kontolku.

Perlahan saya mulai menarik dan mendorong senjata kelelakianku.
Senti demi senti dari 18 cm panjang batang kontolku mulai bergerak keluar-masuk di saluran anus Bang Ansar yang ketat dan hangat.
Sungguh nikmat!

“Urghhh ...!. Gila ... enak banget” Gumanku kecil

“Aaarrgghhh ... ” Dia juga terus merintih dan melenguh.... entah sakit, entah enak!.

Disela erang kesakitan Bang Ansar, saya menarik selonjoran kontolku keluar hingga tersisa kepalanya saja, lalu mendorong masuk lagi sampai habis batang kejantananku.

Dengan irama teratur saya terus genjoti lubang anal Bang Ansar, saya entoti dengan senjata kelelakianku. Sungguh nikmatnya sangat dalam terasa

“Mmm ... Uuhhh ...Ooohh” terdengar Bang Ansar yang punya 2 anak itu mengerang.

Wow...!. Rasanya sungguh beda saat saya ngentotin perek2 cewek waktu dulu saya bekerja di kota besar. Juga dibanding dengan ASTUTI, kembang desa yang bekas pacar saya. Ya, lebih enak dari memek Astuti!. Lebih enak memeluk tubuh kokoh Bang Ansar serta jepitan lobangnya.

Tak bisa menahan nafsuku lagi, semakin cepat saya mengenjoti lobang Bang Ansar dengan kontolku.

Saya menginginkan Bang Ansar!.
Saya ingin terus mengentoti dia! .
Saya menikmati dan merasakan enaknya!

   *****

Sumpah!.
Saya tidak pernah dan sama sekali tidak pengalaman menyetubuhi sesama lelaki. Cara saya mengentotkan kontol yang kikuk hanya sekedar naluri yang dipicu secara alamiah

Kecanggungan saya pasti terlihat amat jelas!.  Gerakan tubuhku tak ubahnya seperti gaya laki laki yang melakukan hubungan seks dengan wanita, bukan dengan sesama lelaki.

Tapi itu bukan kekurangan!,
Karena DAMPAKNYA ternyata benar benar luar biasa!,

Bang Ansar menggeliat dibawah tindihan saya
Tubuh telanjangnya bergetar dan kejang didalam pelukan saya

Waktu saya raba kontol Bang Ansar, ternyata ngaceng!.  Kok ngaceng sih?.
Lumayan gede dan kerassss!. Terbayang kalau cewek dirojok oleh kontol itu.

Hehehe... Saya tertawa sendiri.
Percuma Bang Ansar punya kontol gede, tidak ada gunanya!,
Saya TIDAK BERMINAT pada kontol laki laki,karena saat itu saya hanya pengen lubang pantatnya!.


   -----------------------------------------------------

Semakin memburu detak jantung dan rasa birahiku, semakin cepat saya mengentoti Bang Ansar dalam kesunyian malam yang gelap. Hanya ada rasa nafsu dan birahiku, tiada yang lain.
Lalu saya MEMBALIK tubuh Bang Ansar sampai TENGKURAP.
Dan kini saya menindih punggung Bang Ansar.
Sambil membekap mulutnya supaya tidak bersuara, saya mengentoti dia dari atas.
Saya memperkosanya dari BELAKANG!

Saya heran, kenapa Bang Ansar diam pasrah begini?.
Benarkah Bang Ansar masih tidur?

Atau mungkin dia menikmatinya?, terdengar dari erangan tertahan dan nafas beratnya! Saya bisa melihat keringat yang mengalir di punggungnya yang kekar bercampur dengan keringatku yang menetes menjadi satu.

Saya berpikir, jangan-jangan Bang Ansar doyan kontol?.
Tapi malu untuk mengakuinya karena dia laki laki, seorang tentara, dan punya istri pula.

Padahal sih, dia tinggal minta saja, saya pasti dengan senang hati menyerahkan kontolku.Hehehe....

Akhirnya, tubuh telanjang kami gancet jadi satu..!.
Semua rasa dan aroma persenggamaan tubuh kami menjadi satu, saya menyukai pemandangan ini!

“Arghhh ... Bang Ansar ...” Desahku dibelakang telinganya dengan tetap mengenjot lubangnya

Wuihhh...!.
Padahal selama ini saya hanya tahu ngentotin cewek2 yang mungil.
Tapi sekarang menaklukkan lelaki berbadan gempal ternyata lebih menantang!. Apalagi Bang Ansar berumur 8 tahun lebih tua dari saya.... Sensasinya ruaaarrrr biasa!.

Pemandangan di dalam kamar itu sebetulnya teramat tak wajar. Bayangkan saja betapa ganjilnya Bang Ansar, seorang  pria dewasa berbadan gempal ternyata disetubuhi oleh lelaki bertubuh ramping yang berumur jauh lebih muda.

Heran deh, kenapa dia diam saja?. Dan terus tidur seperti orang pingsan.
Hanya erangannya saja yang terdengar.

“Hhhhh ...Oooohhhhh”  Suara lelaki kekar itu. Entah karena nikmat atau sakit.
“Hmmm m m ...”

Saya jadi semakin beringass mendengar rintihan itu, genjotanku makin membabi buta, batang selonjoran kontolku yang besar berurat "menghajar" habis lobang duburnya tanpa ampun dan sayapun makin histeris
"Ooooh.. ssh.. aachh.. Bang..  ennaak.. sekaalllii..  saya entooootin Bang Ansar.. aah liang memekmu dahsyaat sekalii..!!.”

   *****

Saya ingin muncrat!. Saya mau keluar!.

Bagaimana nih?!.
Sayang kalau dihentikan!.

Saya keluarkan di dalam saja kah?.

 Semakin kencang pula jepitan lubang Bang Ansar.

“ ... Oh, saya ingin keluar.., Bang, saya mau muncrat!”

“Orghhhh!”

“Argh!

Pekik saya tertahan!.
Semoga orangtua saya tidak mendengarnya!.

JROOOTTT.... JROOOTTT.... JROOOOTTT.... JROOOOTTT
Muncrat lah pejuhku memenuhi anal Bang Ansar!.
Semakin erat juga jepitan lubang Bang Ansar, kelaminku serasa disedot dan diremas dengan kencang!.

Beberapa kali saya menembakan pejuh, muncrat dan membanjiri perut Bang Ansar.

  *****

Tubuhku terjembab lemas, saya menindih Bang Ansar dengan kontol yang masih menancap di lubang Bang Ansar.

““OOOhhh … ngenntttootttttttt!!!. Enaaak bangetttt!!!” ...”
“Oooh ...” Desahku dalam sehabis mengosongkan semua pejuhku

Saya lihat Bang Ansar yang masih memejamkan matanya, seolah masih tidur pulas, seakan tidak terjadi apa-apa.

“Terima kasih Bang ...” Desahku di telinga Bang Ansar.
Tak lupa  saya beri ciuman di mulut Bang Ansar untuk menyakinkan rasa yang saya nikmati saat ini.

Malam yang tidak akan  pernah saya lupakan ...


   *****

Segera saya bangkit dan membersihkan lelehan pejuh di batang kejantananku.
Sungguh antara nikmat dan bingung, kemudian saya meninggalkan Bang Ansar yang masih tidur tengkurap untuk mencuci kontol saya di kamar mandi.

Saat saya kembali, saya lihat posisi tidur Bang Ansar sudah berubah terlentang dengan kontol yang terkulai lemas.

Hahh..?i, Itu kan pejuh??
Saya lihat lendir putih yang kental berceceran di kasur dan paha Bang Ansar.

Hahahaha.....
Artinya, waktu saya tadi mengentotinya, ternyata Bang Ansar juga sampai klimaks!.

Hehehe – mungkin karena saya mengentoti dia cukup lama, 20 menitan!.
Entotan kontolku rupanya memicu orgasme dia.
Ternyata tak tahan juga cowok gagah ini ini.

Saya tidak terlalu heran, karena kodratku sebagai laki laki dan naluriku sebagai pejantan adalah untuk memberi kenikmatan sebanyak mungkin dan selama mungkin pada pasanganku.

Itulah sebabnya,
Walau Bang Ansar kekar dan gagah, sudah beristri dan punya 2 anak, tapi dia tidak mampu menahan kenikmatan dan muncratnya pejuh dia yang ngecret secara otomatis akibat entotan kontol.

Aaah, saya tersenyum dan berbaring di sampingnya dan terlelap tidur.

Bagaimana menghadapi dia besok ya?


   -----------------------------------------------------

Paginya, saya bangun, ternyata Bang Ansar masih di kamar mandi. Di sprei terlihat masih ada bekas sperma kering dan sedikit noda darah merah.

Ketika Bang Ansar keluar dari kamar mandi, matanya mendelik aneh melihat ke-arah saya  

–Apa dia tau kejadian tadi malam?


Tapi untunglah..., ternyata sikap Bang Ansar bersikap biasa-biasa saja, seolah olah tidak ada apa-apa yang terjadi pada malam sebelumnya, lalu giliran aku yang masuk kamar mandi.

Setelah selesai berpakaian, kami sempat ngobrol seperti biasanya sambil becanda.

Dalam hati saya senang karena saya pikir Bang Ansar bener bener tidak sadar kejadian semalam dan tidak tahu apa yang saya lakukan kepada dia.

Tapi tiba tiba Bang Ansar bicara pada saya :
"Dik Wandi .... Emang Adik naksir sama aku?"

Saya jawab: "Maksud Abang gimana?"

"Maksudnya, ya apa Adik ‘suka’ sama aku bukan sebagai temen biasa?"

"Ada ada saja Bang Ansar ini ah!!!. Masa cowok naksir cowok ..??, becanda Abang garing ah ..." saya berpura2 tidak faham

Tapi Bang Ansar diam ...

Lalu dia bicara juga, tapi kali ini tidak dengan nada becanda
"Lha terus tadi malam yang Adik lakukan sama aku itu apa?"

Damnn !!!!
Saya kaget ...... Dan jantung langsung deg deggan

"Maksudnya?" jawabku

"Jangan pura-pura ....  aku tahu kok yang Adik lakukan ....  Pas awal-awal, mungkin aku tidak sadar...  Tapi lama kelamaan,  aku ingat sekali apa yang Wandi lakukan ke aku"

Mati aku !!!.
Ternyata Bang Ansar tahu yg saya lakukan ke dia ....

Terus saya pura2 bingung:  “Aduh, maaf Bang,  tadi malam saya ngapain ya?”

“Kamu sadis Dik..!. Gak sangka Wandi tega sama aku” katanya

“Lho?, terus kenapa Abang diam saja?”

“Tadi malam aku diam karena aku bingung harus bereaksi seperti apa...?. Kalau aku bangun menegur, Adik pasti malu banget, atau malah ribut dan kedengaran orang tua Adik. Makanya aku diam....  

“Kenapa Abang tidak melawan donk?”

“Aku ngerti kamu lagi nafsu. Jadi aku ngalah saja. Supaya kamu puas, Dik...”

Saya terkejut mendengar ucapan dia: “Jadi..?. Abang suka?”

“Aku bukan homo Dik!”
" Aku ini masih lelaki normal Dik....  Adik juga tahu sendiri, aku doyan perempuan.... Lagian kita sudah seperti saudara. Masa Adik tega begitu sama aku...?.”  

Saya tidak bisa bicara lagi...  Saya bingung mau jawab apa coba?.

“Kan Adik bukan Homo. Masak Adik doyan nyoblos lubang cowok?. Dia berkata lagi.

“Maafkan saya Bang...” Hanya itu yang bisa saya katakan.

  *****

Kemudian sambil menepuk pundak saya, Bang Ansar ngomong lagi ....
"Ya sudahlah....  Kan sudah terlanjur kejadian.....”  

Dan dia menyambung:
“Hati-hati Dik... Wandi JANGAN berbuat begitu pada sembarang LELAKI LAIN ya.... Kalau emang Dik Wandi sedang bernafsu, MENDINGAN dengan Abang saja"


Haaaahhh....??!!!.
Dalam hati saya langsung ketawa ngakak: HAHAHAHAHA.....

Saya tidak sebodoh itu..!.
Walau saya orang kampung yang lugu
Tapi saya yakin Bang Ansar menikmati perlakuanku tadi malam.

Mana ada sih laki laki normal yang membiarkan lobang pantatnya disodok batang kontol?
Pasti dia doyan kontol saya... Dia suka disodomi.

Tapi biarlah dia berpura-pura...!.
Biar Bang Ansar berpikir saya mengira  dia laki laki normal yang straight

Aku yakin, Bang Ansar bersikap begitu karena dia harus tetap menjaga wibawanya dihadapan orang tuaku dan teman-temannya yang tentara itu.

Biar bagaimanapun, aku yakin, rasa suka Bang Ansar pada kontol lelaki telah tumbuh di dalam batinnya

Jangan jangan, pria macho dan kekar ini masih penasaran ingin digagahi sekali lagi nanti malam.

Siapa tahu?.



  ===========================  

TAMAT


1 komentar:

  1. cerita asli ini dan cerita2 seru lain ada di blog ini:

    http://ceritapanaslelaki.blogspot.com/2011/11/tentara-gagah-yang-berbadan-kekar.html

    BalasHapus