Minggu, 15 April 2012

aku dan mas narto


Namanya Narto, aku biasanya memanggil dengan mas narto karena memang usia dia yang lebih tua dari aku. Usia mas narto tepatnya 32 tahun, usia yang sangat matang untuk ukuran laki-laki. Jujur, aku mengakui kalau mas narto memang menarik. Mukanya tidak terlalu tampan, tapi tidak terlalu jelek juga. Tipe mukanya, tipe-tipe orang desa. Dengan tubuh 175cm/78kg mas narto terlihat cukup gempal namun gagah. Ya mungkin karena pekerjaan sehari-harinya sebagai seorang kuli bangunan, sehingga membuat tubuhnya secara otomatis terbentuk.

Aku mengenal mas narto saat ia dari desa datang ke rumah untuk menumpang sementara selama ia mengerjakan proyek. Kebetulan orang tua mas narto masih ada hubungan jauh dengan pakdhe-budheku yang rumahnya aku tempati sekarang. Dia bersama teman-teman dari desa sedang mengerjakan sebuah gedung pertokoan. Oh iya, aku sendiri bernama Ajie, usiaku 26 tahun. Aku seorang polisi. Secara fisik, banyak orang yang bilang kalau aku menarik. Yach…dengan tb/bb 182cm/78kg, dan wajah yang tampan, siapa yang tidak akan tertarik!

Awal pertama kali melihatnya, aku langsung bergetar. Jujur, aku bingung dengan diriku sendiri. Aku masih merasa normal, dan selama ini selalu biasa-biasa saja melihat laki-laki. Bahkan apabila sedang di kantor dan berada di tempat ganti, aku selalu melihat laki-laki telanjang dan itu sudah biasa tanpa merasakan apa-apa. Namun entah mengapa saat melihat mas narto, hatiku bergetar. Di samping tubuhnya yang memang menarik, dia tampak sangat berwibawa. Aku jadi sangat terpesona.

Hari demi hari berjalan seperti biasa. Tiap pagi aku selalu bertemu dengan mas narto sebelum ke kantor. Ya, cuman obrolan biasa-biasa saja. Dan karena jam berangkatku ke kantor selalu sama dengan mas narto, walhasil dia selalu menumpang kendaraanku sampai proyek. Sambil membonceng di belakangku, sesekali mas narto mengajak bicara.

“jadi polisi seneng ya mas?” tanya mas narto dengan logat desa yang masih kental.

“seneng gimana mas?lebih banyak susahnya!”

“ya susah, tapi khan bangga. Saya dulu juga pingin jadi polisi, tapi gak jadi karena gak ada biaya” sambung mas narto sambil terus bercerita. Tak lama kemudian, kami sampai di tempat proyek mas narto.

“udah sampe mas”

“makasih mas ajie, ati-ati” lalu, aku melanjutkan perjalananku menuju markas. Hampir tiap pagi begitulah rutinitasku. Sedangkan pada malam hari, juga sering mengobrol di belakang rumah sambil liat bintang. Kami mengobrol dari hal-hal serius, seperti politik, sampai hal-hal ringan, seperti soal musik dangdut. Itulah yang aku suka dari mas narto. Meskipun hanya seorang kuli, tapi wawasannya luas, jadinya nyambung dan nyaman kalau ngobrol dengan mas narto. Kedekatan kami, makin lama makin intens. Dan hingga akhirnya aku tersadar, kalau aku semakin tertarik dengan mas narto. Bahkan aku selalu membayangkan hal-hal aneh yang gak bakal dipikirkan oleh pria normal, dan aku selalu menikmatinya. Ah..selalu kubayangkan tubuh hitam mas narto yang sedang telanjang, dengan bulu-bulu halus disekitar dada. Dua puting hitam ketat, dan tentu saja kontol yang besar. Aku berani tarauhan kalau kontol mas narto sangat besar, meskipun aku belum pernah melihatnya langsung.

Malam itu, sesuatu telah mengubah semuanya. Berawal dari rasa capek yang sedang melanda tubuhku karena sudah beberapa hari ini aku kurang tidur. Saat sedang istirahat sambil nonton tv, mas narto datang menghampiri. Setelah berbasa-basi sebentar, dia menawarkan diri untuk memijatku. Awalnya aku enggan, namun akhirnya menerima tawaran tersebut karena aku pikir tidak ada salahnya dicoba. Lalu kami berdua pun masuk kamarku. Sampai di dalam kamar, mas narto mempersiapkan minyak yang mau digunakan. Sedangkan aku mulai melepaskan satu demi satu baju dari tubuhku.

“tubuh mas ajie bagus” kata mas narto saat melihatku bertelanjang dada. Mungkin karena rajin olahraga dan pekerjaan yang lumayan berat, tubuhku jadi sedikit terbentuk, walaupun tidak sekekar mas narto sendiri. Tapi lumayanlah.

Saat aku melepaskan pakaian, tidak semua kutanggalkan. Cd ku yang berwarna hitam masih melekat di tubuhku. Saat aku akan naik ke atas ranjang, mas narto yang melihatku masih mengenakan CD, memintaku untuk melepaskannya saja.

“kenapa celana dalamnya gak sekalian dilepas, daripada nanti ikut kotor” kata mas narto. Aku yang mendengar permintaannya tersebut, sempat ragu untuk memenuhinya.

“gak usah malu, lha wong kita sama-sama laki” kata mas narto sambil tersenyum simpul ke arahku. Aku pun lalu melepaskan cd dan langsung naik ke ranjang. Aku mengambil posisi tengkurup karena masih agak malu. Selanjutnya, mas narto mulai memijat. Saat mulai memijit, aku bisa merasakan jari-jari tangannya yang kasar dan kekar. Aku sangat menyukainya. Awalnya mas narto memijat jari-jari kakiku. Lalu sedikit demi sedikit mulai naik ke kaki, mulai dari bawah lutut hingga akhirnya sampai ke paha. Saat mulai memijat bagian paha itulah, kontolku mulai menegang. Entah kenapa, sentuhan jari-jari mas narto bisa membuatku bergetar. Karena kontolku yang membesar, aku harus menggerakkan badanku sedikit untuk menyesuaikan diri.

“kenapa mas?sakit?” tanya mas narto saat aku menggerakkan badan sedikit.

“enggak, cuman geli” jawabku sekenanya. Lalu ia melanjutkan pijatannya. Ough…sambil memegangi bantal, aku hanya menggigit bibirku supaya tidak mengeluarkan suara apapun yang bisa mengindikasikan kalau aku merasakan keenakan. Sialnya, pijatan mas narto makin atas, sekarang sudah berada di buah pantat. Oh shit, rasanya aku pingin teriak saat ia mulai menggerakkan jarinya di atas pantatku. Apalagi saat jarinya secara tak sengaja (atau mungkin memang disengaja), meraba-raba bagian yang dekat dengan bibir anusku. Aku semakin merinding karena terangsang hebat. Kontolku makin besar tak terkendali, akibatnya aku seperti tidak nyaman dengan posisi tengkurup ini. Rasanya ingin segera bangkit dan langsung mengocok kontolku yang laharnya sudah menumpuk. Aku berusaha keras supaya tetap seperti biasa. Bagaimapaun juga, aku malu kalau mas narto sampai tau apa yang sedang berkecambuk dalam hatiku. Setelah berada di buah pantatku, tangan mas narto mulai naik ke bagian punggung dan leher. Ah..harus kuakui pijatan mas narto memang enak, tubuhku yang sebelumnya terasa sangat capek dan tidak bertenaga, sekarang mulai lebih ringan dan merasa enakan.

“gimana mas?sudah merasa enakan?” tanya mas narto, yang sepertinya tau apa yang ada dalam pikiranku.

“iya mas, lumayan. Pijatan mas narto mantap!”

“ah mas ini, biasa saja”

“memangnya di kampung sering mijat juga ya?”tanyaku iseng.

“ya kadang, tapi cuman sodara atau temen saja. Kalau orang yang belum kenal, gak mau”

“oo..begitu”. Lalu setelah pijatan di punggung dan di sekitar leher dirasa cukup, tiba-iba tangan mas narto menuju ke bawah lagi. Dia ternyata memijat ulang bagian buah pantat dan pahaku. Ah gawat pikirku, kenapa juga mas narto balik kesitu. Dan sekarang, pijatannya semakin mantap. Pantatku baru disentuh saja, kontolku yang tadi sudah lumayan mengecil, sekarang membesar lagi. Urutan demi urutan membuat kontolku menegang kembali. Aku seperti dirangsang. Nafasku tidak karuan, keringat keluar dengan deras, dan sambil terus menggigit bantal, aku berusaha menahan suaraku. Hingga akhirnya, mas narto memintaku untuk membalikkan badan.

“mas, balik badan. Sekarang terlentang, biar bagian depannya juga saya pijat sekalian”. Aduh, gawat nih kalo aku harus membalikkan badan, pikirku. Kalau balik badan, berarti mas narto akan liat kontolku yang sedang ngaceng berat, bisa malu.

“ayo mas, balik badan” sekali lagi ia memintanya. Dan akhirnya dengan terpaksa, aku membalikkan badan juga. Dengan cuek, aku membalikkan badan dan tidur terlentang dengan menggunakan kedua tangan sebagai tumpuan kepala. Saat membalikkan badan, kontolku mengacung-acung. Setelah rebahan, aku tutup mata karena tidak mau meliaht reaksi dari mas narto saat melihat kontolku yang ngaceng. Dengan jantung yang berdetak cepat, aku sempat melirik ke arah mas narto, ingin tahu bagaimana reaksinya. Ia terlihat memandangi kontolku yang ngaceng. Kontolku berukuran cukup panjang untuk standar orang Indonesia. Saat tegang sekitar 16cm, dengan bulu jemput yang tidak terlalu lebat. Mas narto melihat kontolku hanya sebentar saja, karena kemudian ia mulai memijat lagi. Sepertinya dia normal-normal saja. Tidak ada tanda-tanda yang harus dicurigai. Mas narto memulai lagi memijat dari kaki bagian bawah lutut, hingga jari-jari mas narto naik ke paha. Di bagian itulah, aku semakin tidak bisa mengendalikan diri. Sambil terus memejamkan mata, aku berusaha mengatur nafas yang sebenarnya terengah-engah karena sangat terangsang. Jari-jari mas narto makin ke atas, sekarang sudah berada di sekitar selangkangan, sehingga sesekali menyentuh bulu jembutku yang membuat kontolku yang tegang berdenyut-denyut. Akhirnya, tanpa bisa mengendalikan lagi, aku menggeliat-liat sambil mendesah pelan. Mas narto sepertinya melihat hal tersebut.

“kenapa mas?”. Mendengar pertanyaan itu, aku membuka mataku dan memandangi kontolku yang seperti kelaparan. Lalu aku sedikit melirik mas narto, dua detik mata kami saling berpandangan. Dan seperti sudah tahu apa yang aku inginkan, mas narto melakukan gerakan yang membuatku terhenyak. Tangannya yang semula berada di paha, langsung pindah tepat ke atas kontolku. Mula-mula tangannya mengelus-elus batang kontolku yang memadat, tapi kemudian ia mengganti gerakan tangannya dengan meraba-raba jembutku dan buah pelerku. Ough..aku langsung tersentak. Darah dalam tubuhku serasa mendidih karena birahi. Tapi, meskipun aku menikmatinya, dalam hati aku masih mengalami kebingunan. Karena tidak tahu apa ini semua, aku mencoba bangkit dan duduk, tapi langsung dicegah oleh mas narto.

“tiduran aja mas” kata mas narto sambil tersenyum sedikit ke arahku. Mendengar itu, aku pun tidur lagi dan mulai menikmati permainan ini. Sekarang gerakan tangan mas narto mulai menggila. Ia memegang batang kontolku dan mengocoknya pelan.

“ough…ough…” aku menggelinjing karena sensasi awal yang sangat hebat ini. Kocokan mas narto makin lama makin cepat. Sesekali ia menghentikan kocokannya, sehingga membuatku seperti ketagihan dan ingin mas narto mengocoknya lagi.

“lagi mas, pliss…” pintaku seraya memohon. Mas narto paham permintaanku, dan ia mengocok kontolku lagi. Tapi, sekarang lebih gila lagi. Mas narto mulai menggunakan mulutnya. Ia menjilati seluruh batang dan peler kontolku dengan lidahnya. Ough…aku merasakan sensasi yang berbeda. Jilatannya yang seperti sedang makan es krim, sangat membuatku melayang. Apalagi saat ia mencoba memasukkan kontolku ke dalam mulutnya dan menghisapnya dalam-dalam.

“ough…oughh…ah…mas…”, tubuhku bergetar saat kontolku dihisap. Spontan aku memegang kepala dan menjambak rambutnya. Hisapan mulut mas narto sangat hebat, aku sampai tidak kuat menerima kenikmatan ini hingga harus mendesah keras. Bisa kurasakan bulu kumis dan jenggot mas narto yang menggesek batang kontolku.

“ough..ough..ough…”, sesekali aku mengangkat kepala sambil melihat aksi mas narto yang begitu semangat menghisap kontolku. Di saat tangan kanannya memegang erat batang kontolku, tangan kirinya menggerayangi kedua buah pelerku. Aku benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya. Belum pernah aku merasakan yang seperti ini. Bisa kurasakan kontolku yang kembang kempis karena disedot abis-abisan oleh mas narto. Lalu, setelah puas dengan kontolku, tiba-tiba mulut mas narto mulai bergerak naik. Lidah dan bibirnya menjelajah daerah perut dan dadaku. Dan saat sampai di puting, ia pelintir pelan dan kemudian yang sedot dalam-dalam.

“ough…ough….” aku setengah kaget merasakan itu semua. Rasa sakit bercampur dengan rasa nikmat. Setelah itu, bibirnya sampai di leher dan kuping bagian belakangku. Ough…aku merasakan sensasi yang berlainan lagi. Daerah leher ternyata yang paling bisa membakar birahi. Seketika aku serasa mendapat kenikmatan puncak. Sayang, itu tak berlangusng lama. Mas narto kemudian langsung menyosor bibirku. Dia mencium bibirku ganas, dan memainkan lidahnya di mulutku. Awalnya aku masih agak enggan Karena merasakan sesuatu yang aneh. Tapi karena ganasnya ciuman mas narto, membuat aku mulai bisa menikmatinya. Aku membalas ciumannya dengan ganas, sehingga sekarang kami berciuman panas. Tak lupa kami memainkan lidah kami.

“hmm..mm..mmm….”, bisa kurasakan bulu-bulu kasar dari kumis dan jenggot mas narto. Saking bersemangatnya berciuman, beberapa kali aku tidak bisa bernafas. Sambil berciuman, mas narto melepas kaos yang ia kenakan. Sedangkan tanganku asyik menggerayangi bagian sekitar kontolnya. Aku raba-raba dan bisa kurasakan kalau mas narto tidak mengenakan cd dibalik sarungnya. Aku remas-remas dari luar dan kutaksir kontol mas narto cukup besar. Hingga akhirnya, mas narto kemudian berdiri dan melorotkan sarungnya. Sekarang mas narto berdiri di depanku telanjang bulat. Ah…pemandangannya yang sangat indah. Tubuh mas narto sangat menarik. Lengannya cukup berotot. Dadanya mendonjol dengan dua putting yang hitam besar, dengan bulu dada yang lumayan lebat. Dan yang paling menawan adalah ukuran kontol mas narto yang sangat besar untuk ukuran orang lokal. Saat tegang, kontol mas narto sekitar 19cm dengan diameter yang sangat besar dan bulu jemut disekitarnya yang lebat. Sangat menggairahkan. Melihat itu semua, tanpa dikomando, aku langsung bangkit dari tiduran dan mengambil posisi setengah jongkok. Aku memusatkan perhatian pada kontolnya. Kuulurakan tanganku dan mulai kegenggam batang kontol mas narto yang sudah menegang. Kuusap-usap, dan kumainkan buah pelernya. Kusibak juga bulu jembutnya yang sangat lebat.

“ough..maaaas, dimut aja mas....” sepertinya mas narto juga ingin agar kontolnya aku emut. Dan dengan senang hati, aku akan melakukannya. Mula-mula aku jilati seluruh bagian kontol mas narto seperti saat makan es krim. Aku jilati dari atas ke bawah, lalu berbalik dai bawah ke atas.

“ough…” mas narto mendesah pelan. Saat aku menjilati kontol, kucium dengan jelas bau kelaki-lakian mas narto yang semakin membuatku bergairah. Setelah puas menjilati, aku mulai memasukkan kontol ke dalam mulutku. Karena besarnya kontol mas narto, aku hampir tersedak karena ujung kontol sampai hampir menyentuh tenggorokanku. Tapi, setelah sebentar beradaptasi, aku mulai bisa membiasakan diri. Memang dengan kontol mas narto yang segedhe itu, gak mungkin untuk menelannya semua.

“ah…ah..mas, enak…”. Tanganku memegang sekaligus mengocoknya. Sedangkan mulutku menghisapnya kuat-kuat.

“ough..ough,…” mas narto menggelinjing karena keenakan. Aku pegang pangkal kontolnya, aku kocok sedikit, lalu aku masukkan ke dalam mulut dan kusedot dalam-dalam. Kulakukan itu berulang-ulang. Aku sangat menikmantinya. Begitu juga dengan mas narto, ia sampai menggerang-gerang karena merasa enak.

“oh..oh..oh…”, aku semakin bersemangat menghisapnya. Namun, saat asyik-asyiknya, lagi-lagi mas narto menghentikan aksiku. Ia kemudian mengangkat tubuhku dan langusng menciumi bibirku. Setelah itu, ia menerjang tubuhku sehingga kami berdua jatuh ke atas kasur. Mas narto di atas dan aku dibawah. Saat aku ditindihnya, kurasakan bulu-bulu dada mas narto menggelitik tubuhku. Mas narto kembali mencuimi bibirku dengan penuh birahi. Kemudian ia mengalihkan ciumannya ke belakang leher. Sontak, birahi makin naik. Tak berapa lama kemudian, ia berhenti memagut leherku, dan menggerakkan badanku untuk menungging. Aku paham dengan apa yang ia minta. Seperti sapi yang dicucuk, aku menuruti apa yang mas narto minta tanpa bertanya. Setelah aku nungging, mas narto bersiap-siap untuk memasukkan kontolnya ke dalam lobang anusku yang masih perawan. Sebelumnya, mas narto melakukan pelenturan dengan memasukkan jari-jarinya. Pertama, ia masukkan satu jari telunjuknya. Ough…aku kaget karena belum pernah sebelumnya anusku dimasuki benda. Setelah berada di dalam, aku merasakan sesuatu yang aneh berada di dalam anusku. Kemudian, mas narto sedikit memberikan tekanannya untuk menyodok-nyodok. Ough…rasa sakit yang sedikit kurasakan membuatku sanksi, apakah nantinya kontol mas narto yang gedhe itu bisa masuk semua? Lalu, mas narto mencabut jarinya-jarinya dan bersiap-siap memasukkan kontolnya yang sudah menegang. Dan akhirnya…bless….

“ough…arghhh….” Aku tak bisa menahan teriakanku karena rasa sakit yang sangat pada anusku. Aku sampai lemas karena sakit yang luar biasa. Mas narto membenamkan kontolnya dalam-dalam di anusku. Aku hanya bisa merintih sambil menutup mata karena rasa sakit. Kemudian mas narto mulai menggerakkan sdikit demi badanya dengan menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri sedikit. Agh..rasa sakit masih mendera dalam tubuhku. Gerakan pinggul mas narto makin teratur. Ke kanan-ke kiri, depan-belakang, dari mulai pelan hingga cepat dan aku mulai bisa menikmatinya.. Deru nafas kami berdua pun juga semakin cepat. Kedua tangan mas narto yang memegangi buah pantatku, sesekali turun kebawah untuk mengocok kontolku yang bergelantungan.

“agh..agh..agh…”

“ough…ough…ah…mas…”. Suara desahan kami silih berganti. Sesekali mas narto menahan kontolnya di dalam anusku dan kemudian baru menggoyangkannya.

“ough………..argh…..” aku sampai tidak kuat menahan rasa sakit dan nikmatnya yang datang bersamaan. Belum pernah aku merasakan sensasi yang seperti ini.

“ough…ough…” bisa kurasakan jelas saat kontol mas narto berada di dalam dan menusuk-nusuk lobangku. Aku menoleh dan melihat muka mas narto yang berkeringat karena mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mengentotiku. Setelah kurang lebih 10 menit, mas narto menghentikan kentotannya. Ternyata ia meminta perubahan posisi. Sekarang aku disuruhnya terlentang. Lalu kakiku di angkat ke atas dan di buka lebar-lebar sehingga lobang anusku terbuka. Saat aku sudah mengangkat, mas narto sempat menjilati anusku dengan lidahnya.

“ough…” tubuhku kembali bergetar. Lidahnya yang bermain-main di bibir dan di dalam anusku sangat membuatku merasakan nikmat. Puas dengan jilatannya. Mas narto bersiap-siap memasukkan kontolnya lagi ke dalam anusku. Kontol besarnya ia kocok sebentar untuk memaksimalkan ketegangan. Lalu setelah dirasa cukup, ia memasukkannya ke dalam lobangku.

“Ough….” Aku memejamkan mata sejenak untuk menikmati saat-saat yang mendebarkan sekaligus mengenakkan.

“Argh…arghh..” kudengar mas narto juga mendesah. Lalu saat semuanya batang kontolnya di dalam, mas narto menggerakkan pinggulnya lagi. Bulu jembut mas narto yang sangat lembut menggelitik bibir anusku. Sambil bertumpu pada kedua tanganya yang berada di samping tubuhku, mas narto mengentotiku dengan lebih garang. Keringat mas narto jaruh di atas badanku.

“ough..ough…ough…”

“ah…ah…” kami berdua mendesah karena semakin panasnya hawa. Sesekali mas narto berhenti mengentotiku, lalu membungkuk untuk menciumi leher dan bibirku, ah…aku sangat menyukainya. Gerakan mas narto makin lama makin cepat, dia semakin beringas mengentotiku. Ia menyodok-nyodokkan kontolnya ke dalam anusku dengan sangat bernafsu. Maju-mundur, kadang kanan-kiri, ah..gerakan pinggul mas narto sangat seksi, aku sangat menyukainya.

“ough..ough..ough…”

“ah..ah..ah…” aku juga semakin tidak karuan karena merasakan nikmat yang sangat. Hingga akhirnya…

“ah..ah..ah..oughhhhhhhhh…” mas narto sepertinya akan sampai ke puncak duluan. Ia semakin mempercepat gerakan kentotannya. Ia lalu menarik kontolnya dari lobangku dan memeganginya. Kontol mas narto yang sudah kembang kempis itu dikocoknya cepat, hingga akhirnya, crot..crot..crot…mani kental putih muncrat dari kontolnya berulang kali dan mengenai perutku. Bisa kurasakan mani mas narto yang hangat berada atas perutku.

“argh..argh…” mas narto mencoba mengatir nafas sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan.

“ah..ah..ah..” muka mas narto terlihat merah dan berkeringat, mungkin karena rasa enak yang sedang ia dapatkan. Lalu, melihatku yang belum klimaks, mas narto langsung mengulum kontolku. Argh…aku seperti disengat listrk ketika ia mulai menyedot kontolku di dalam mulutnya. Argh..argh…aku semakin tidak karuan, kuluman mas narto sangat membuatku bergetar. Tak butuh lama untuk mengocok kontolku. Hanya kurang dari lima menit, kontolku muncrat mengeluarkan mani kental seperti lahar yang mengeluarkan magmanya. Crot..crot…ough…ough… aku menggelinjing saat itu semua terjadi. Kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Setelah itu, mas narto merebahkan tubuhnya di atas tubuhku. Malam itu, tidur bersama tanpa sehelai benangpun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar