Sabtu, 24 Maret 2012

Hitam Putih Kehidupan

Satu persatu kuperhatikan kamar mandi yang kosong. Siang siang seperti itu memang sangat jarang orang memakai kamar mandi karena memang waktu itu jam tidur siang.

Setelah melangkah kekamar mandi nomor lima, aku melihat sosok tubuh cukup jangkung dengan badan kekar menghadap ke bak mandi sambil tangannya persis berada di selangkangannya. “Ronnie ternyata lagi Masturbasi” pikirku. Aku sempat tertegun melihat bongkahan pantat kokoh dan montok didepanku. Namun aku terus melangkah menuju WC yang persis di sebelah kamar mandi No.5.

Dari dalam WC aku bisa membayangkan apa yang sedang di lakukan oleh Ronni. Aku bahkan bisa mendengar dengan jelas desahan desahan lirih yang sesekali keluar dari mulutnya.

Tak terasa tanganku sendiri sudah tak kuasa lagi menahan diri untuk mengelus batang kemaluanku yang sudah sangat hangat dan mengeras. Perlahan aku mengocoknya seirama dengan desahan yang kudengar dari seberang tembok. Tapi tiba tiba suara desahan itu terhenti.

Tetapi aku tetap saja meneruskan aksiku dan membayangkan Ronni yang sedang asyik memainkan kontolnya yang gemuk. Namun tanpa aku sadari tiba tiba seseorang meraba bongkahan pantatku dari belakang. Aku terkejut. Ternyata Ronni sudah berada persis di depanku.

Tanpa ada satupun dari kami yang saling berbicara, Ronnie terus menggerayangi tubuhku. Aku yang masih kaget hanya bisa tertegun sambil menikmati setiap sentuhan dari tangan Ronni yang kokoh.

Ketika mata kami beradu, seulas senyum tersembul dari bibir Ronni yang seksi. Diapun merapatkan mukanya 
kepadaku dan tanpa komando langsung mengecup bibirku dengan lembut. Aku semakin tak kuasa menahan diri. Setiap kecupan dari ronni aku balas dengan pagutan penuh nafsu sambil tanganku melingkar di pinggang Ronnie dan meremas remas bongkahan pantatnya yang montok.

Ronni semakin tak kuasa menahan gejolak, dia menempelkan kontolnya dengan kontolku lalu mengocoknya dengan lembut. Sungguh sebuah sensasi yang luar biasa.

Puas mengerayangi pantat Ronni aku pun meraih biji pelernya yang menggelantung di selangkangannya. Dua buah biji peler seukuran telor puyuh itu elus satu persatu, membuat Ronni semakin bernafsu.

Tiba tiba dia menjongkok dan menjilat ujung penisku dengan lidahnya. Rasanya sangat geli sekali, kemudian perlahan dia memasukkan semua kontolku kemulutnya dan memompanya dengan sangat hebat. Aku menggelinjang kenikmatan. Ketika merasa hampir dekat, aku mendorong muka Ronni dan melepaskan kontolku dari mulutnya.

Kini dia kembali berdiri dan kamipun kembali berpagutan dan saling berdekapan.
Aku mulai mengalihkan ciuman kea rah matanya Ronni yang terpejam, lalu ku kelitiki lubang kupingnya dengan dengan lidahku, Ronni Mengerang “ooughhh enak sekali”..aku semakin getol memainkan kupingnya lalu turun ke lehernya, dadanya, ku jilati perutnya dan kumainkan lidahku di lubang pusarnya. Ronni semakin menggelinjang, lalu aku turun menjelajahi bulu bulu jembut yang ternyata lebih lebat dariku dan batang itu seperti mengemis padaku minta untuk di kecup. Akupun memasukkan kontol besar itu kemulutku dan sambil kedua tanganku menggenggam bongkahan pantat ronni untuk mengatur alur pompaan Ronni. Ronni benar benar mengentoti mulutku. Khawatir Ronni keluar terlalu cepat aku pindah ke biji pelirnya lagi dan menghisapnya satu persatu sambil jari tengahku meraba bulu bulu halus yang tumbuh di antara bongkahan pantat Ronni. Dia tersenyum penuh nafsu ketika jariku menyentuh lubang pantatnya yang hangat. Namun dia kemudian menarikku lalu mendekapku erat sambil tangan kami saling bantu mengocok penis kami. Aku merasakan adanya denyutan hebat dari kontol gemuk Ronni dan benar saja Ronni melenguh panjang dan..”ooughhhhh” desahan itu mengiringi puncratan cairan kental berwarna putih keluar dari kontol Ronni, sangat banyak. Melihat Ronni yang sudak klimaks aku semakin terpacu untuk segera mengeluarkan lahar panasku, Ronni membantu mengocok penisku sambil tanganku tetap menggenggam kontol Ronni yang perlahan melemas. Gesekan tangan Ronni membuat aku “ooughhhhhh” tak kuasa menahan semburan lahar panas muncrat dari kontolku dan membasahi perut Ronni.

Kami kembali berdekapan sejenak. Lalu aku melepaskan dekapan Ronni dan beranjak menuju ke kamar mandi no.4 disana aku membilas tubuhku dan membersihkannya dari sisa sisa pejuh Ronni.

Meskipun Ronni memberikan aku sabun untuk membersihkan badanku, kami masih tetap tak saling bicara. Bahkan hingga beberapa hari setelah kejadian.

Aku tidak tahu siapa dari kami yang memulai semua itu, tetapi setelah tiga hari pasca kejadian akulah yang lebih dulu memulai pembicaraan dengan Ronni. Tetapi tetap tak ingin mengungkit apa yang telah terjadi.

Persahabatan kamipun kembali seperti semula, meski kami kerap kali saling merasa canggung kalau kulit kami saling besentuhan baik sengaja maupun tidak sengaja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar